Kisah Joachim Ronneberg Menggagalkan Proyek Nuklir Nazi

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 24 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Joachim Ronneberg dan timnya menghabisi mimpi Nazi membuat senjata nuklir. Beberapa hari lalu ia menghembuskan napas terakhirnya pada usia 99 tahun.
tirto.id - Asap pekat berhawa panas membumbung tinggi bak jamur raksasa di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pertanda bom atom telah dijatuhkan oleh Sekutu pada awal Agustus 1945. Tragedi perang itu adalah sinyal bahwa Perang Dunia ke-II yang telah menghancurkan hampir separuh dunia telah berakhir.

Namun, pernahkah Anda membayangkan Nazi Jerman menjatuhkan bom atom di Amerika Serikat dan menghancurkan Sekutu?

Skenario tak kesampaian itu sebetulnya nyaris jadi kenyataan, seandainya Joachim Ronneberg dan timnya tidak melakukan serangan rahasia ke sebuah pabrik di belantara Telemark, Norwegia.

BBC melaporkan, Gunnerside, misi yang dipimpin Ronneberg, punya satu tujuan: melumpuhkan sebuah pabrik hidroelektrik di Vermok, Telemark. Oleh Special Operations Executive—organisasi operasi khusus Inggris pada PD II—Ronneberg diperintahkan mengumpulkan enam orang pria untuk diterjunkan dalam misi tersebut.

Kala itu, Ronneberg tak tahu apa tujuan misi yang hendak dijalankannya itu. Satu hal yang pasti, ia dan timnya membawa kapsul sianida untuk menghabisi nyawa mereka sendiri seandainya tertangkap musuh.

Berdasarkan laporan badan intelijen Inggris, pabrik di Vermok dijaga ketat oleh pasukan Jerman karena memproduksi ‘air berat’ atau deuterium oxide yang dapat digunakan untuk memproduksi bom atom. Air tersebut berfungsi memperlambat neutron sehingga memudahkan reaksi fisi nuklir.

Ronneberg bersama timnya diterjunkan dari sebuah pesawat pada tengah malam 16 Oktober 1943. Hari itu, musim dingin masih menyelimuti Norwegia. “Semuanya masih tertutup oleh salju,” jelas Ronneberg, masih dilansir dari BBC.

Sialnya, mereka mendarat di tempat yang salah, puluhan kilometer dari tempat pendaratan yang direncanakan. Usaha untuk masuk ke dalam pabrik pun tidak mudah karena harus menuruni tebing yang curam serta melewati barak prajurit Jerman.

Ketika akhirnya berhasil meledakkan bom di pabrik Norsk Hydro tersebut, Ronneberg dan tim masih harus kabur menyelamatkan diri. Dengan bermodal alat ski, mereka menempuh jarak sekitar 322 kilometer sembari dikejar oleh satu divisi pasukan Jerman dan unit pencarian udara yang berputar-putar di langit. “Ski akhir pekan terbaik yang pernah kulakukan,” jelas Ronneberg, sembari tersenyum kecut.

Meski hanya menghasilkan ledakan kecil, operasi tersebut mampu membuat pabrik itu berhenti beroperasi selama beberapa bulan.

Infografik Joachim ronneberg


Program Nuklir Nazi

Menurut sejarawan Irlandia Thomas Gallagher dalam Assault in Norway: Sabotaging The Nazi Nuclear Program (2010), Sekutu yang dipimpin oleh AS dan Inggris saat itu memang tengah berkompetisi dengan Jerman untuk membikin alat pembunuh paling mematikan di dunia: senjata nuklir. AS percaya bahwa perang akan dimenangkan oleh siapapun yang lebih dulu berhasil memproduksi bom nuklir.

Namun, informasi yang dimiliki sekutu sangat terbatas. Mereka sekadar tahu bahwa Jerman sedang melakukan eksperimen senjata nuklir. Menurut informasi intelijen, Jerman tengah mengembangkan roket V-1 dan V-2. Hitler sendiri mengklaim punya senjata rahasia. Fakta bahwa Jerman mendadak menghentikan semua ekspor bijih uranium pada 1939 membuat sekutu semakin kalut. Namun, sejauh mana pengembangan senjata tersebut belum bisa diketahui Sekutu.

Ketakutan Sekutu beralasan. Atomic Heritage Foundation mencatat, Jerman telah memulai program rahasia bernama “Uranverein” ("Klub Uranium") pada 1939, menyusul temuan pembelahan atom (atomic fission) oleh fisikawan Jerman Otto Hahn pada Desember tahun sebelumnya.

Gallagher mencatat, para ilmuwan dunia menilai penemuan Hahn dapat mendorong penciptaan produksi energi dan ledakan yang luar biasa. Sekutu sendiri menjalankan proyek serupa: “Manhattan Project”.

“Waktu itu semua orang takut jika kami keliru dan [riset nuklir] orang-orang Jerman lebih maju daripada kita,” ujar Leona Marshall, fisikawan Manhattan Project.

Sayangnya, ketakutan mereka semu belaka. Sebab, program nuklir Jerman ternyata masih di tahap riset awal karena terhambat sejumlah faktor.

Pertama, banyak dari ilmuwan Jerman yang mengungsi keluar negeri. Sebagian dari mereka adalah orang Yahudi, kelompok sosial yang dianggap musuh negara dan dipersekusi oleh Nazi. Kedua, minimnya dukungan dari Hitler yang dikabarkan lebih tertarik pada pengembangan misil balistik jarak jauh V-2. Kedua hal itu diperburuk lagi oleh komunikasi antar-departemen yang jelek.

Faktor krusial lainnya adalah fakta bahwa para ilmuwan Jerman gagal menciptakan reaksi berantai yang dibutuhkan dalam produksi bom nuklir. Mereka juga tidak berhasil menemukan metode untuk memperkaya uranium, tidak pula mempertimbangkan plutonium sebagai materi alternatif.

Ketika Ronneberg berhasil melaksanakan misinya, asa Jerman mewujudkan senjata nuklir sesungguhnya sudah hampir pupus.

Ide menghancurkan basis produksi ‘air berat’ datang dari Inggris dan AS. Karena percaya bahwa Jerman dua tahun lebih maju dalam perkara riset senjata nuklir, Catat Gallagher, Sekutu hanya punya dua opsi: mempercepat Manhattan Project atau memperlambat laju proyek nuklir Jerman. Mereka memilih untuk melakukan keduanya.

Serangan ke pabrik penyuplai ‘air berat’ kemudian jadi krusial untuk mewujudkan opsi no.2. Pada titik inilah tim Ronneberg menyetir sejarah dunia. Pabrik 'air berat' itu akhirnya memang sempat dibangun lagi oleh Jerman, namun tak pernah mencapai produksi maksimal seperti sedia kala.


Ronneberg baru menyadari pentingnya misi yang ia jalankan setelah Amerika Serikat membom Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945. Sekitar 140.000 orang tewas dalam sekejap dihantam bom atom.

“Pertama kali saya mendengar tentang bom atom dan air berat setelah Amerika menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki,” terang Ronneberg, seperti dikutip dari New York Times “Setelahnya, kami mulai memahami [makna] serangan kami.”

Ia melanjutkan, jika misi itu gagal, London mungkin akan bernasib sama seperti Hiroshima.

Berkat jasa-jasanya, Ronneberg menerima penghargaan tertinggi militer, War Cross with Sword, dari almarhum Raja Norwegia King Haakon VII; Distinguished Service Order dari Inggris; Legion of Honor dan Croix de Guerre dari Perancis; dan Medal of Freedom with Silver Palm dari AS, seperti dilaporkan New York Times.

Dari seluruh anggota timnya, Ronneberg adalah orang terakhir yang masih hidup—hingga akhirnya pada Senin (22/10), di usia 99 tahun, Ronneberg menjadi sejarah, menyusul rekan-rekannya.

Baca juga artikel terkait NUKLIR atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Windu Jusuf