Kiamat Masih Jauh, Mari Bergembira Bersama Tasya

Oleh: Sabda Armandio - 18 Mei 2018
Dibaca Normal 1 menit
Wilayah anak-anak adalah kebahagiaan. Mereka tak semestinya dilibatkan dalam urusan para bajingan.
tirto.id - Suatu pagi, satu keluarga meledakkan diri di tengah orang-orang yang tak bersalah kepada mereka. Kita tak mengerti mengapa peristiwa itu terjadi, sebagaimana orang tua dalam puisi “Potret Taman untuk Allen Ginsberg” karya Goenawan Mohamad tak mengerti mengapa Hanoi luluh-lantak sebelum, bukan sesudah, dia minum kopi.

Anak-anak tak mengerti mengapa mereka lahir di dunia yang rasanya muram dan hampir buntu ini. Mereka juga tak mengerti mengapa orang dewasa bisa memilih untuk patuh pada perintah-perintah keji.

Orang dewasa, dengan berbagai urusan mereka, barangkali akan lekas melupakan peristiwa itu. Tapi anak-anak adalah sasaran empuk trauma. Teror itu akan mengendap lama dalam ingatan anak-anak. Seperti sel-sel abnormal yang membelah diri secara membabi-buta, trauma selalu menemukan cara untuk menjadi jahanam yang melumpuhkan manusia.

Anak-anak mestinya bahagia. Mereka tak boleh dilibatkan dalam urusan para bajingan. Bukan hanya karena merekalah yang mewarisi kehidupan mendatang, juga karena tiap-tiap mereka punya tawaran lebih baik ketimbang pendahulunya. Orang dewasa akan lekas tua dan menyebalkan, menjadi penggerutu yang haus persetujuan, gampang marah dan takut serta merasa ditipu tetapi permisif; yang menampik teror sekaligus secara kolektif membiarkan teror.

Ingatan buruk musykil dihapus. Namun, jika mau, kita bisa menyusun ulang ingatan buruk menjadi sesuatu yang menenangkan, mudah dipahami, menggembirakan, tanpa melupakan — sebab lupa tak pernah membebaskan, malah mungkin menggerus kewaspadaan.

Perkara yang melanda dunia bukan hanya terorisme. Ada intoleransi hingga diskriminasi gender, ada beras dan seragam sekolah yang tak terbeli hingga perilaku memuakkan para politikus oportunis. Betapa beragam kemalangan yang muncul hingga sebagian orang diam-diam percaya kiamat telah datang lebih awal.

Tirto dan NaoBun Project berupaya menyusun ulang ingatan buruk tentang berbagai masalah dunia dan memepatkannya dalam bentuk komik strip, lewat kehidupan karakter utama dan dunia sekelilingnya. Judul komik stripnya: "Hey, Tasya!"

Tasya adalah anak berseragam sekolah yang dapat kita temui di trotoar tiap pagi, Tasya adalah anak yang mungkin pernah kita lihat sedang tertidur berselimut kardus di tepi rel. Tasya adalah diri kita masing-masing, pada suatu masa ketika harapan bisa terus lahir, sebelum hati remuk dan kehilangan serpihan tiap kali kita menyatukannya kembali. Barangkali kita dapat ikut memandang dengan mata Tasya, dan menyadari bahwa dunia ini tak sepenuhnya buruk.

Kami berharap Tasya dan kawan-kawan bermainnya pelan-pelan bisa mengikis perasaan terancam dan kecurigaan yang dibiakkan teror, sebelum jadi semakin kronis dan tak bisa ditangani. Katakanlah, untuk ikut menyediakan api keyakinan terhadap kemanusiaan (bukankah keyakinan itu mudah padam?) agar gaung kiamat yang kita bunyikan sendiri bisa melemah, meski sementara.

Aktivasi Komik Hey Tasya

Baca juga artikel terkait KOMIK TASYA atau tulisan menarik lainnya Sabda Armandio
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Sabda Armandio
Editor: Zen RS