Ketum Muhammadiyah: Orang Terdidik Tidak Akan Bikin Hoaks

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 1 Maret 2018
Dibaca Normal 1 menit
Muhammadiyah mengecam tindakan kriminal di media sosial, termasuk penyebaran hoaks dan ujaran kebencian.
tirto.id - Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir menanggapi banyaknya kasus ujaran kebencian dan berita hoaks yang belakangan ini marak terjadi. Terbaru, polisi menangkap seorang dosen yang menyebarkan berita hoaks soal pembunuhan orang yang dianggap muazin di Majalengka.

"Kalau yang terdidik enggak akan bikin hoaks, [kalau bikin hoaks] ya berarti salah didik," kata Haedar usai menghadiri talkshow Filantropi untuk Pemberdayaan Umat di UGM, Yogyakarta, Kamis (1/3/2018).

TAW atau Tara Arsih Wijayani ditangkap setelah Markas Besar Kepolisian Indonesia dan Polres Majalengka menyelidiki dan menyidik kasus pembunuhan seseorang yang dianggap muazin tersebut.

Menurut Kepala Polres Majalengka, AKBP Noviana Tursanurohmad, Tara mengaku tidak pernah mengecek dan mendalami terlebih dahulu kebenaran berita, sehingga membuatnya menyebarkan berita bohong melalui Facebook.

Ketika ditangkap, status Facebook milik tersangka sudah dibagikan lebih dari 7.000 kali dan dikomentari 1.700 komentar.

"Sudah lama Muhammadiyah memandang bahwa media sosial dan dunia digital itu kan relasi baru dalam kehidupan masyarakat. Nah sebagian warga kita belum siap dan belum dewasa dalam menggunakan relasi sosial baru, atau media sosial baru ini," ujar Haedar.

Oleh karena itu, dalam perspektif fikih informasi yang dimiliki Muhammadiyah, ujaran kebencian oleh siapapun, lewat media apapun, kemudian untuk motif apapun merupakan sesuatu yang tidak menunjukkan akhlak karimah.


"Muhammadiyah tentu mengecam, tidak menyetujui berbagai macam bentuk perilaku kriminal melalui media sosial. Adapun kasusnya silakan saja menjadi tugas pihak kepolisian untuk mengusut tuntas, dan tidak kalah pentingnya, jadi alat pencegahan agar hal ini tidak terjadi," pungkas Haedar.

Untuk mencegah penyebaran dan pembuatan berita hoaks, Haedar menyarankan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk membuat sistem pengamanan digital yang semakin canggih.

"Kedua, edukasi menurut saya. Tidak ada proses pembelajaran yang sangat berhraga dan penting selain edukasi. Muhammadiyah akan tetap sikapnya adalah mengedukasi masyarakat agar tidak memproduksi, mereproduksi apalagi memobilisasi ujaran-ujaran kebencian," tandas Haedar.


Baca juga artikel terkait KASUS UJARAN KEBENCIAN atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dipna Videlia Putsanra
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Dipna Videlia Putsanra