Keresahan Gaung Lewat Opus Contra Naturam

Oleh: Aulia Adam - 19 Oktober 2017
Dibaca Normal 1 menit
Musik progresif yang mengajak berkontemplasi ala Gaung.
tirto.id - Album perdana itu akhirnya kelar juga. Ia resmi dirilis Juli lalu, dengan nama yang sudah disiapkan bertahun-tahun: Opus Contra Naturam, sebuah bahasa latin yang berarti kerja menantang alam. Nama itu sudah dipersiapkan Ramaputratantra sejak lama, ketika ia serius memutuskan bermusik dan menciptakan Gaung pada 2013 lalu.

Gaung sendiri adalah sebuah band yang dikenal membawakan lagu-lagu rock progresif. Personelnya pernah gonta-ganti, tapi pada intinya, ia adalah solo-project bentukan Rama. Sempat beranggotakan empat orang hingga jadi dua orang saja, kini Gaung resmi hanya diisi Rama seorang. Album ini memang sudah sejak lama dipersiapkannya dan punya jalan cerita panjang, sebelum akhirnya dirilis.

Awalnya, Rama menciptakan Gaung dengan format jam-based—“Artinya kayak konsep performing art. Lo cuma bisa nonton pas Gaung tampil di panggung aja,” kata Rama pada saya. Musik-musiknya terinspirasi dari karya-karya seni atau literasi yang dekat dengan Rama. Sehingga, sensasi yang didengar dan dirasa saat menonton Gaung akan berbeda tiap kali ia tampil. Musiknya memang lebih dominan instrumental, tanpa lirik.

Namun, pada pertengahan 2016, Rama memutuskan mengganti format, dan menciptakan lagu-lagu 4 menitan yang direkam dan bisa masuk kantong musiknya untuk didengar berulang-ulang.

“Sebenarnya bukan mau ikut pasar juga, tapi gue ngerasa kecepatan untuk sampai di sana. Toh, secara skill gue juga masih, ya gitu. Apalagi secara produksi. Gue mainnya aja belum beres, secara teknis, secara kerapian. Format yang lama itu butuh disiplin,” ungkap Rama.

Akhirnya Opus Contra Naturam diisi oleh 9 lagu full instrumental. Bandwagon menyebut Gaung sebagai salah satu aksi musikal paling memantik pikiran di tahun 2017 ini. Sementara Vice Indonesia menyebutnya sebagai anak haram hubungan cinta antara heavy metal dan rock progresif yang bengkeng. Bagi Rama sendiri, Opus Contra Naturam lebih dari sekadar satu genre. Ia tak ingin melabeli karyanya dengan satu kategori, karena album itu sendiri adalah usahanya untuk bisa seimbang, tanpa terlalu condong pada satu kutub tertentu.

Lagu-lagu itu terdengar bengkeng karena kisah-kisah di baliknya memang progresif, menurut Rama. Kisah-kisah itu menginspirasinya untuk menciptakan irama-irama progresif yang memang punya dinamika tersendiri. “Tiba-tiba gini, tiba-tiba gitu,” ungkap Rama sambil meliuk-liukan tangannya, meniru bentuk frekuensi. “Memang yang ingin ditunjukan bukan chanting, bukan kayak musik spiritual. Jadi itu yang buat terdengar kasar.”

Namun lepas dari itu, Rama memang membebaskan pendengarnya memilih tafsir-tafsir sendiri. Menurutnya, ia hanya ingin berperan sebagai komposer, orang yang terinspirasi dari satu-dua kisah, lalu menerjemahkan kisah itu dengan menciptakan akor-akor sendiri dari sana. Rama merasa, sebagai musisi, ia tak perlu menerjemahkan kisah-kisah itu dalam bentuk lirik-lirik tegas. “Misalnya gue ngomongin bom atom, ya gue bikin komposisinya. Menurut gue, biarlah orang yang emang ngerti bom atom yang ngomongin tentang itu. Gue yang enggak ngerti, enggak usah. Karena gue enggak ngalamin.”

Sebagian lagu dalam Opus Contra Naturam terinspirasi dari karya fiksi, prosa, bahkan hasil wawancara.

"Lucinae" merupakan musikalisasi dari prosa Water and Dreams karya Gaston Bachelard, "Hole of Paradiso" berasal dari Inferno karya Dante Alighieri, sementara "Evidence of Extraordinary Bliss" diciptakannya setelah terinspirasi kisah jurnalis CNN Indonesia Hanna Azarya Samosir yang mewawancarai Marc Navales, pria yang selamat dari pembantaian di Maguindanao, Filipina.

Hal ini yang akhirnya membedakan musik Gaung dari musisi lain. Rama ingin pendengarnya berkontemplasi. Gaung sendiri diciptakannya sebagai salah satu medium untuk menenangkan diri sendiri dan bisa lebih fokus. Rama punya latar belakang disleksia ketika SMP. Hal itu membuat pikirannya bercabang-cabang, dan bicara terbata-bata. Lewat musik, Rama mulai mengurangi masalah itu.

Opus Contra Naturam sejauh ini mendapat respons baik. Gaung sendiri sempat tur keliling Asia Tenggara, Agustus lalu. Mengelilingi Singapura, Malaysia, Jawa, dan Bali. Dalam waktu dekat ini, Rama juga membocorkan akan segera merilis single baru, yang berkolaborasi dengan salah satu penyanyi kenamaan Indonesia. Tapi, ia masih merahasiakan judul dan tanggal mainnya.

Baca juga artikel terkait ARCHIPELAGO FESTIVAL atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Musik)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Aulia Adam
DarkLight