Kenapa Prabowo Marah ke Wartawan Soal Jumlah Massa Reuni 212?

Oleh: Haris Prabowo - 7 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Reuni 212 diklaim bukan agenda kampanye, tapi mengapa Prabowo marah-marah kepada wartawan soal jumlah massa?
tirto.id - Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial. Kali ini terkait tudingan terhadap media nasional yang tidak memberitakan jumlah massa aksi reuni 212 yang diklaimnya mencapai 11 juta orang.

"Hebatnya media-media dengan nama besar dan katakan dirinya objektif, padahal justru mereka bagian dari usaha memanipulasi demokrasi. Kita bicara yang benar, ya benar, yang salah, ya salah, mereka mau katakan yang 11 juta hanya 15 ribu. Bahkan ada yang bilang kalau lebih dari 1.000," kata Prabowo.

Pernyataan itu ia tegaskan saat berpidato dalam acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Jakarta, Rabu 5 Desember.

Setelah acara, Prabowo juga menolak ditanya wartawan. Menurutnya, kebebasan pers harus memberitakan apa adanya.

"Ya tapi redaksi kamu bilang enggak ada orang di situ, hanya beberapa puluh ribu. Itu, kan, tidak objektif, enggak boleh dong," kata Prabowo saat ditanya para wartawan.

Klaim "jutaan" orang hadir pada reuni 212 tidak hanya datang dari Prabowo. Ketua Pusat Media Reuni 212 Novel Bamukmin memperkirakan yang hadir pada reuni 212 sebanyak 3 juta peserta. Jumlah itu menurutnya sama seperti reuni 212 yang digelar tahun lalu.

Ketua Panitia Reuni Akbar Mujahid 212 Bernard Abdul Jabbar menyatakan lebih dari tujuh juta orang menghadiri Reuni 212. "Ada delapan juta orang yang ikut di acara ini," ujar Bernard kepada Tirto.

Sebaliknya, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan peserta reuni 212 hanya sekitar 40 ribu orang saja.

Namun, terlepas dari klaim itu, mengapa Prabowo harus marah pada wartawan hanya karena perkara "jumlah massa" saja? Padahal sedari awal ia menegaskan kehadirannya di reuni 212 bukan agenda politik.

(Kami pernah menulis soal jumlah Reuni Akbar 212. Hitung-hitungan kami, memang angka itu bombastis dan tak masuk akal. Baca tulisannya di sini).


Reuni 212 Dinilai Agenda Penting

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Arief Poyuono menolak jika Prabowo dikatakan marah-marah pada malam itu. Menurut Arief, saat itu Prabowo hanya "nada suaranya tinggi doang."

Menurut Arief, mengapa Prabowo mempermasalahkan mengenai jumlah massa di pemberitaan media, karena pentingnya reuni 212 yang mengumpulkan seluruh Muslim maupun non-Muslim dalam satu tempat sekaligus.

Arief menilai itu merupakan agenda demokratis yang layak diapresiasi.

"Enggak ada kampanye. Itu bagian dari demokrasi. Agenda Islam yang ukhuwah ke seluruh umat. Itu pergelaran demokrasi. Tak ada politik identitas. Ini menunjukkan umat Islam yang toleran," kata Arief kepada reporter Tirto saat dihubungi Kamis siang (6/12/2018).

Politikus Gerindra itu menolak anggapan bila Prabowo saat itu melakukan kampanye. Namun Arief tidak menepis setiap agenda yang terjadi, entah dihadiri Prabowo atau Jokowi, sama-sama bermuatan politis.

"Semua agenda pasti ada nilai politis. Berkumpul dalam demokrasi dijamin oleh UUD 1945 dan itu produk politik," kata dia.

Sebaliknya, Arief justru menuding Jokowi sebagai calon petahana yang kerap melakukan agenda kampanye terselubung lewat paparan program pemerintah yang dicapainya.

"Ia menceritakan semua capaian-capaiannya, kenapa baru sekarang? Kemarin ke mana aja? Kok enggak dari awal?" kata dia.

Arief pun mempersoalkan pernyataan Mabes Polri yang menyebut jumlah massa aksi reuni 212 hanya 40 ribu orang. "Dari mana kok 40 ribu? Biarkan saja. Kalau Mabes Polri bilang 11 juta, ya bisa dipecat," kata dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding menilai kemarahan Prabowo ke media sudah menjadi bukti nyata bahwa ia ikut bagian dalam menggerakkan aksi itu.

"Itu pertanda memang aksi 212 ini nyata-nyata memang digerakkan Pak Prabowo. Harusnya enggak ada hubungannya karena panitianya bukan Pak Prabowo. Kalau dia marah-marah, sesungguhnya panitia utamanya adalah Pak Prabowo," kata Karding.

Hal senada diungkap Wakil Sekretaris TKN Verry Surya. Ia menilai jika Prabowo marah terkait jumlah massa reuni 212 di dalam pemberitaan media, maka justru reuni 212 sendiri patut dipertanyakan independensinya.

"Saya justru mempertanyakan independensi kegiatan tersebut," kata Verry saat dihubungi wartawan Tirto, Kamis sore.

Infografik Ci Klaim Jumlah peserta reuni 212



Jumlah Massa Jadi Mainan Politik Prabowo


Dosen politik dan pemerintahan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Arya Budi menilai Prabowo sedang memainkan teori bandwagon effect. Menurut Arya, efek ini bekerja bagi pemilih yang minim informasi dan mudah terbawa pada kandidat yang dianggap disukai banyak orang.

Arya mengatakan, jika jumlah massa yang banyak berkumpul di satu tempat dan berkonsolidasi untuk basis Prabowo, jumlah massa tersebut akan mempengaruhi persepsi pemilih lainnya, terutama pemilih di luar Jakarta yang hanya bisa melihat reuni 212 dari layar kaca.

"Seperti dalam massa yang berkumpul untuk kandidat tertentu. Itu mengapa bagi Prabowo jumlah massa 11 juta itu sangat penting," kata Arya kepada reporter Tirto.

Arya mengatakan, semakin tinggi angka yang hadir di media, maka akan bisa menciptakan efek elektoral yang tinggi pula. Hal itu, kata Arya, membuat Prabowo memiliki kesan banyak pengikut dan disukai banyak orang.

"Dia tahu survei enggak menang, makanya dia pakai massa seperti itu. Itu bisa jadi legitimasinya," kata Arya.

Baca juga artikel terkait REUNI 212 atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Politik)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Abdul Aziz