Menuju konten utama

Kenapa Kelomang Suka Berganti Cangkang?

Kelomang harus rutin ganti cangkang agar bisa tumbuh. Namun, krisis cangkang di pantai membuat mereka terpaksa memakai sampah plastik sebagai rumah baru.

Kenapa Kelomang Suka Berganti Cangkang?
Hewan Kelomang. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kelomang terlahir dengan perut lunak yang sangat rentan. Ia tidak punya cangkang bawaan sendiri untuk melindungi tubuh. Satu-satunya cara agar selamat dari hewan pemangsa adalah dengan mencari cangkang siput kosong untuk dijadikan rumah sementara.

Seiring bertambahnya usia, tubuh kelomang akan terus membesar. Otomatis, rumah lama yang tadinya muat bakal terasa makin sempit dan tak nyaman lagi. Jika dipaksakan, perut lunaknya bisa terluka atau bahkan mudah disergap musuh. Mau tidak mau, kelomang wajib berburu cangkang baru yang ukurannya lebih pas.

Siklus "pindah rumah" dari cangkang lama ke cangkang baru ini akan terus berulang sepanjang hidup kelomang. Namun belakangan ini, urusan cari rumah baru tak lagi semudah dulu. Studi menemukan fakta mengejutkan: kelomang makin sering memakai sampah plastik, seperti tutup botol hingga kaleng bekas, sebagai pengganti cangkang alami.

Cangkang Kelomang Bukan Bagian Tubuh, tapi "Rumah" yang Harus Terus Diperbarui

Kelomang tidak bisa tumbuh besar begitu saja di dalam satu cangkang. Seiring bertambahnya usia, mereka akan mengalami proses ganti kulit (molting). Saat kulit luar barunya terbentuk, ukuran tubuh kelomang otomatis membengkak jadi lebih besar.

Akibatnya, cangkang lama yang awalnya pas, mulai terasa sesak. Cangkang itu bakal menekan tubuh dan menyulitkan gerakan. Jika kelomang memaksakan diri bertahan di "rumah" yang sempit, ia bisa mengalami dehidrasi dan menjadi sasaran empuk predator. Inilah mengapa berganti cangkang bukan cuma pilihan bagi kelomang, melainkan syarat mutlak bagi hewan bernama latin Pagurus sinuatus ini untuk bertahan hidup.

Hewan Kelomang

Hewan Kelomang. foto/istockphoto

Kelomang tidak asal pilih rumah. Melansir laman Australian Museum, sebelum memutuskan pindah, ia akan menginspeksi calon cangkang barunya secara teliti menggunakan capit. Capit ini dilengkapi setae, rambut-rambut halus yang sangat peka untuk mendeteksi aroma dan kondisi cangkang.

Tak cuma itu, capit kelomang juga punya gerigi kecil yang berfungsi seperti alat pengukur. Dengan gerigi itu, kelomang bisa tahu seberapa tebal dinding cangkang yang hendak ia tempati. Ia juga dapat mengetahui ada retakan atau tidak di calon rumah barunya, sampai menghitung apakah bagian dalam cangkang bakal muat di badan.

Menariknya, pertukaran cangkang ini sering dilakukan secara berurutan dalam sebuah kelompok kelomang. Ketika seekor kelomang menemukan cangkang baru yang lebih besar dan langsung berpindah, ia tidak begitu saja membuang rumah lamanya.

Cangkang bekas yang ditinggalkan akan langsung dilirik oleh kelomang lain yang ukurannya lebih kecil. Fenomena ini menciptakan antrean unik di pantai: dalam waktu singkat, beberapa kelomang sekaligus bisa ikut giliran "naik kelas" mendapatkan rumah baru yang pas dengan ukuran tubuh mereka.

Ketika Kelomang Memakai Sampah Plastik Sebagai Rumahnya

Di alam liar, stok rumah ideal kelomang sebenarnya makin tipis. Populasi siput laut, yang merupakan sang pemilik asli cangkang, terus merosot akibat perubahan iklim dan pencemaran air. Situasi makin parah karena cangkang-cangkang siput berukuran besar sering kali diambil manusia dari pantai untuk dijadikan perhiasan atau suvenir.

Akibatnya, kelomang mengalami "krisis perumahan" yang serius. Karena cangkang asli makin langka, sedangkan limbah manusia bertebaran di pantai, kelomang terpaksa "mengontrak" di dalam sampah.

Fenomena ini dicatat dalam studi Zuzanna Jagiello, dkk. (2024) yang dimuat di jurnal Science of the Total Environment. Peneliti menemukan bahwa dari 16 jenis kelomang di kawasan pantai tropis, 10 di antaranya sudah terbiasa memakai sampah sebagai tempat tinggal.

Berdasarkan pengamatan, tercatat 326 dari 386 individu kelomang yang diteliti, memakai tutup botol plastik. Sisanya, memanfaatkan kaleng soda, pecahan kaca, hingga potongan logam.

Hewan Kelomang

Hewan Kelomang. foto/istockphoto

Ada alasan praktis mengapa kelomang beralih ke plastik. Bagi hewan kecil ini, sampah plastik lebih gampang ditemukan daripada cangkang siput kosong. Bobot plastik yang jauh lebih ringan juga membuat mereka hemat energi saat harus berjalan jauh memikul rumahnya.

Uniknya lagi, cangkang plastik dari sampah ternyata bisa menjadi trik kamuflase: pemangsa kerap mengira kelomang itu sekadar tumpukan sampah pantai yang tak enak dimakan.

Sayangnya, "rumah buatan" ini menyimpan ancaman tersembunyi. Bahan plastik dan logam tidak dirancang untuk menahan suhu panas atau menjaga kelembapan tubuh kelomang. Limbah ini juga berisiko melepaskan racun kimia yang mengganggu kesehatan hingga proses berkembang biak mereka.

Kehadiran kelomang bertutup botol ini menjadi potret unik sekaligus ironis di pantai tropis saat ini. Ketika rumah alami makin sulit didapat, sampah plastik yang ditinggalkan manusia justru jadi satu-satunya benteng terakhir agar mereka bisa bertahan hidup.

Baca juga artikel terkait FB POST atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Fitra Firdaus