Eko Yuli Irawan
Atlet angkat besi Indonesia

Keindahan Menjadi Lifter, Inti dari Angkat Besi

21 Agustus 2018
Dibaca Normal 4 menit
Saat masih kecil, saya bingung tiap kali ditanyai: "Apa cita-citamu?"

Saya ingin menjawab seperti anak-anak kebanyakan, menjadi dokter, polisi, atau mungkin pilot, tapi saya tak tahu cara menggapainya. Rasanya itu tak tergapai, kelewat jauh. Maka saya pun memilih menjawab pertanyaan itu dengan cara yang saya pikir paling mudah: “Saya ingin menjadi orang sukses.”

Klise, ya? Mau bagaimana lagi?

Dulu saya tinggal di Desa Tejo Agung, Metro, Lampung. Ayah saya seorang kuli bangunan. Jika sedang tidak sibuk membangun rumah orang, ia akan mengayuh becak. Untuk membantu ayah, ibu saya menjadi penjual sayuran.

Jerih payah mereka memang membuat dapur kami tetap ngebul, mencukupi kehidupan sederhana kami. Namun, untuk memenuhi kebutuhan sekolah saya, mereka seringkali kesulitan. Ya, tidak benar-benar kesulitan juga, sih, hanya “membutuhkan badan yang selalu sehat” agar semuanya baik-baik saja. Tapi, kan, tidak bisa sehat terus-terusan, toh?

Tetangga kami tahu bagaimana keadaan kami saat itu. Mereka orang-orang baik. Rumah kami yang sederhana itu berdiri di atas tanah tetangga, tanpa uang sewa sepeser pun. Lalu datanglah tetangga lain yang menawarkan kebaikan lainnya: ia menyuruh saya menggembalakan kambing-kambingnya. Orang tua saya mengangguk, saya pun mempunyai kegiatan tambahan untuk membantu kehidupan keluarga.

Kegiatan tambahan itu benar-benar menyenangkan. Sepulang sekolah saya tak perlu tidur siang. Bersama teman-teman seumuran, yang juga menggembala kambing, kami beramai-ramai menuju ke sawah atau ladang yang penuh rumput untuk membuat kambing kami gemuk. Kami akan mengikat kambing-kambing kami di tempat itu, lalu bertingkah seperti anak-anak: bermain-main.

Biasanya kami menghabiskan waktu dengan bermain sepakbola atau bermain layang-layang. Namun, karena saya senang berolahraga, sepakbola adalah pilihan utama. Setiap sore cerita saya pun kemudian sering berakhir seperti ini: kambing mendapatkan cukup asupan makanan, saya menendang-nendang bola hingga waktunya pulang.

Kebiasaan itu membuat saya kepingin menjadi pemain sepakbola. Namun, setelah dipikir-pikir, masuk sekolah sepakbola, kan, membutuhkan biaya pendaftaran? Belum lagi membeli sepatu bola, bola sepak, juga iuran bulanan. Bercita-cita menjadi pemain bola pun sama jauhnya dengan bercita-cita menjadi dokter, pilot atau polisi.

Saat saya tidak bermain bola untuk menunggu kambing-kambing kenyang, saya dan teman-teman sering menonton orang-orang berlatih angkat besi. Ada sasana angkat besi yang berada tak jauh dari rumah. Yon Haryono, pemilik sasana itu, kebetulan menawari kami ikut berlatih.

Mengapa tidak? Peralatan di sana juga lengkap. Meski harus bersepatu, saya bisa menggunakan sepatu sekolah saya. Sepatu serbaguna. Berlatih angkat besi di tempat Yon Haryono sama sekali tidak mengeluarkan biaya.

Saya memang menikmati olahraga baru saya itu, tetapi, sayangnya, olahraga itu ternyata menganggu orang tua saya. Mereka khawatir kambing-kambing menjadi tidak terurus. Lalu, tiba-tiba saya berada di atas podium di kejuaraan angkat besi remaja tingkat nasional, membawa pulang medali emas.

Yon Haryono datang ke rumah untuk meyakinkan kedua orang tua saya, “Bapak dan Ibu, Eko itu berpotensi. Sayang kalau potensinya dibiarkan begitu saja,” katanya.

Orang tua saya pun luluh dengan satu syarat: saya boleh berlatih angkat besi, tapi kambing harus tetap diurus.

Saya senang mendapatkan dukungan orang tua, sesenang saat menjadi juara untuk pertama kali. Sejak saat itu, cerita sepulang sekolah saya pun sedikit berubah. Selain kambing, angkat besi pun menjadi karib saya. Bermain sepakbola? Masih, tapi tidak sesering sebelumnya.

Sayangnya, saya langsung mendapatkan tantangan berat. Karena sasana angkat besi itu didirikan oleh orang Kalimantan Selatan dan dalam setiap kejuaraan angkat besi tingkat nasional kami mewakili Kalimantan Selatan, pihak Lampung keberatan. Pada 2002, sasana terpaksa dibongkar. Jika ingin terus berlatih, saya harus pindah ke Parungpanjang, Bogor.

Bagi orang-orang dewasa mungkin itu pilihan mudah, tetapi bagi saya itu pilihan sulit. Saya masih berusia 13 tahun. Saya belum tahu apakah angkat besi bisa menjamin masa depan, meski saya benar-benar menikmatinya. Jika saya pindah, saya juga akan jauh dari keluarga.

Bagaimana bapak dan ibu, ya, kalau saya tidak di rumah dan tidak membantu mereka? Lalu, kambing-kambing itu bagaimana?

Pada akhirnya saya memutuskan untuk tetap melangkah. Jalani saja, pikir saya saat itu. Saya pun pergi meninggalkan kampung halaman.

Apakah saat itu saya yakin bisa berprestasi di bidang angkat besi? Saya belum yakin benar sebetulnya. Lagi pula, walau masih terhitung bocah, saya juga sedikit banyak sudah memikirkan: memangnya angkat besi punya masa depan?

Yang membuat saya nekat merantau ke Parungpanjang akhirnya karena cita-cita menjadi orang sukses. Itu saja. Kalau jalan menuju sukses yang tersedia hanya dari angkat besi, ya sudah jalani saja.

Saya percaya jika ingin sukses saya harus berusaha keras. Saya tidak boleh malas-malasan di tanah rantau. Jika perlu, saya akan berlatih angkat besi hingga susah bangun keesokan harinya. Sekitar empat tahun di Parungpanjang, dari tahun 2002 sampai tahun 2006, kehidupan saya pun hanya diisi dengan sekolah dan angkat besi. Oh, satu lagi: setiap libur latihan, biasanya pada hari Kamis, saya masih bisa bermain sepakbola.

Perjuangan saya di Parungpanjang ternyata membuahkan hasil. Karena berprestasi, pintu pelatnas angkat besi pun terbuka lebar untuk saya. Pada 2006, saya masuk pelatnas. Berada di pelatnas semakin memotivasi saya. Saya mempunyai kesempatan bertanding di ajang internasional, melawan lifter-lifter hebat dari negara lain.

Tahun 2001, saya masih belajar teknik dasar dengan menggunakan kayu. Enam tahun setelahnya, saya akan mengangkat beban dengan mempertaruhkan nama Indonesia. Saya tidak pernah mempunyai mimpi seperti itu. Tidak ada bayangan sama sekali. Seratus persen!

Saya kemudian berhasil meraih gelar juara dunia yunior pada 2007 di kelas 56 kg. Namun, saya tahu bahwa saya belum meraih apa-apa. Saya belum menjadi orang sukses. Bagaimana pun, prestasi seorang atlet tidak akan dinilai di level yunior, tapi di level senior. Bisa tidak saya mempertahankan prestasi yunior saat senior nanti? Bisa tidak terus bersaing di level tertinggi? Apa kata orang nanti, saat gagal di level senior?

Saat ini orang-orang mungkin hanya tahu bahwa saya adalah satu-satunya atlet Indonesia yang selalu meraih medali dalam tiga gelaran Olimpiade secara berturut-turut, dari medali perunggu di Olimpiade 2008 dan 2012, hingga medali perak di Olimpiade 2016; peraih medali emas SEA Games 2007; dan prestasi-prestasi yang mampu membuat Indonesia bangga lainnya. Namun, untuk mencapai semua itu, saya sebetulnya juga harus menikmati hal-hal yang tidak mengenakkan.

Sebelum pemerintah menerapkan pelatnas jangka panjang di cabang angkat besi pada 2016 lalu, untuk menjaga kondisi setelah kejuaraan, saya terpaksa menggunakan uang pribadi. Saya berlatih sendiri, membeli vitamin sendiri, dan membeli keperluan-keperluan lain yang membuat saya bisa selalu bugar juga dari kocek sendiri. Biayanya tidak murah. Karena saya juga menggunakan uang itu untuk kelangsungan hidup, tabungan saya, hasil dari uang saku dan bonus, sudah habis saat pelatnas kembali dimulai.

Selain itu, saya sering merasa jenuh. Sampai sekarang saya sudah menggeluti angkat besi selama 17 tahun. Terutama saat saya mengalami cedera, saya kadang ingin berhenti saja. Namun, saya terus berusaha untuk menikmatinya saja. Sebuah kejuaraan selalu mampu mengembalikan gairah saya. Makin dekat waktu kejuaraan itu, saya makin bergairah. Gairah itu yang sering membuat saya sanggup melampaui rasa bosan, letih, bahkan cedera.

Bahkan, dalam kejuaraan dunia yunior pada 2009, karena gairah saya itu, saya masih sanggup bertanding dalam keadaan cedera lutut yang menimpa hanya seminggu sebelum kejuaraan dimulai. Mundur bukan pilihan. Segalanya sudah siap. Saya tinggal berangkat.

Apakah saat itu saya mengkhawatirkan cedera lutut itu? Saya tidak ingat. Yang saya ingat adalah saya berhasil menjadi juara dunia. Rasa sakit di lutut tiba-tiba menghilang begitu saja saat saya bertanding. Tapi begitu selesai, luar biasa sakitnya, lebih sakit dua kali lipat dari sebelumnya.

Saya menikmatinya. Gelar juara itu, juga rasa sakit itu. Saya kemudian bersyukur. Tuhan benar-benar meminjamkan tenaganya untuk saya.

Selalu berpikir positif memang sangat menguntungkan. Pikiran itu mengarahkan saya agar selalu berjuang untuk hidup lewat angkat besi, karena angkat besi memberi balasan yang sepadan: orang tua saya sudah mempunyai rumah sendiri. Sebuah rumah yang tidak lagi berdiri di tanah milik tetangga yang baik hati. Saya juga sudah mempunyai rumah sendiri untuk keluarga kecil saya.

Dan tidak seperti masa kecil saya dulu, keluarga kecil saya tak akan kesulitan menantang masa depan. Sebagian beban anak-anak saya sudah saya angkat lebih dulu. Bagi saya, itulah indahnya menjadi lifter, inti dari angkat besi.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.