Reservation Dogs

Kegalauan Memilih Menetap di Reservasi atau Hengkang

Penulis: R. A. Benjamin, tirto.id - 20 Nov 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Di musim keduanya, Reservation Dogs cenderung menggali melankolia. Kala mimpi kolektif tercapai, lalu apa?
tirto.id - Keempat anak muda pribumi Amerika itu akhirnya mencapai California. Mereka belum pernah melihat laut selama belasan tahun hidup. Mengunjungi negara bagian di tepi Pasifik itu tak ubahnya mimpi kolektif yang akhirnya terwujud pada episode final musim kedua Reservation Dogs.

Geng yang terdiri dari Elora (Devery Jacobs), Bear (D'Pharaoh Woon-A-Tai), Cheese (Lane Factor), dan Willie Jack (Paulina Alexis) itu akhirnya meninggalkan Reservasi Indian tempat mereka tumbuh yang menurut Cheese, "Biasanya terisolasi dan tertekan secara ekonomi. Ada mimpi-mimpi besar, tapi tidak banyak peluang."

Seperti yang telah dituangkan pada artikel sebelumnya, Reservation Dogs adalah serial drama komedi santai rekaan Starlin Harjo dan Taika Waititi seputar keseharian pribumi Amerika. Gayanya yang serupa hood films dengan tenang menampilkan kegetiran dan kelucuan masyarakat suku asli hari ini.

Ini adalah serial yang tepat jika kau menggemari kisah di mana banyak karakternya duduk-duduk nggak ngapa-ngapain, menatap waktu berlalu dengan obrolan-obrolan ringan, kadang mendalam.

Bila musim pertamanya banyak bicara soal rasa kehilangan, di kedua yang tayang sejak Agustus lalu di Hulu, ia cenderung menggali melankolia. Ia melakukannya dengan menampilkan bagaimana orang-orang ini mulai bangkit dan menerima kehilangan.

Pada yang saat bersamaan, hidup terus berjalan, teman-teman tumbuh terpisah, dan rutinitas mencekik. Namun, Reservation Dogs tentu saja lebih dari itu.



Lepas Landas di Musim Kedua

Keempat anak muda dari reservasi itu akhirnya mencapai California. Namun, Los Angeles tampaknya tak seindah dalam bayangan. Mobil yang juga menyimpan seluruh uang mereka dirampok—barangkali hukuman atas aksi kriminal yang dilakukan anak-anak ini pada musim pertamanya.

Bear dkk. tak pernah betul-betul mendapatkan hukuman, meski sopir truk yang mereka rampok tahu bahwa anak-anak inilah pelakunya.

"Meruntuhkan sesuatu itu mudah, tapi membangunnya jauh lebih sulit," ujar si sopir.

Reservation Dogs selalu punya tokoh-tokoh dewasa yang mampu melihat masalah dengan lebih jernih. Merekalah yang membantu anak-anak muda di reservasi melihat hidup dengan lebih positif. Di sana, terdapat karakter seperti Officer Big (Zahn McClarnon), seorang lighthorseman atau tribal police yang tak dianggap polisi.

Ada pula Rita (Sarah Podemski), ibu Bear yang masih bergairah untuk menemukan teman hidup sekaligus figur ayah untuk Bear. Atau Charley (diperankan bintang Tiktok Nathan Apodaca) yang mengajari Bear kerja-kerja pertukangan.

Dengan tone khas dan fondasi kuat dari season pertamanya, kisah bisa dipencarkan dengan mudah. Sekali waktu, ia mengikuti keseharian karakter-karakter di luar keempat anggota Rez Dogs, seperti Rita atau bahkan Officer Big. Bermula dari running gag pada season pertamanya—ketika Cheese menemukan perempuan tua yang mengira dia cucunya, kisah juga bisa diteruskan dengan hangat berkat hubungan keduanya yang kini kian dekat.

Episode-episode terbaiknya kerapkali ditopang dialog-dialog mendalam sambil tetap tak melupakan humor. Nilai-nilai leluhur, soal menjadi pribumi Amerika yang pantas, kadang dibicarakan dari dalam toilet portabel.

Dan ia masih mengangkat tradisi yang melekat pada komunitas Indian ini. Ambil contoh bila salah satu orang sekarat, para kerabat jauh maupun dekat ramai-ramai bertandang.

Meski begitu, urusan-urusan tradisional dihantarkan dengan lebih bermutakhir, dengan candaan pula. Doa-doa dipanjatkan dengan referensi dari Star Wars. Sementara itu, arwah orang yang baru meninggal akan “diorientasi” terlebih dulu oleh Spirit yang telah lebih dulu berpulang.

Alih-alih meludahi tradisi, ia justru menggunakan humor pada aspek yang lebih esensial: memberikan ketenangan untuk mereka yang masih beredar di dunia fana ini. Pendekatan macam itu, sontak menjadikan kepergian orang terdekat terasa tak begitu menyesakkan.

Dalam salah satu episodenya, Reservation Dogs hanya berkisar soal bertahan hidup, membicangkan tentang menjadi ayah, menjadi laki-laki yang baik. Dalam episode lainnya, dari sebuah klub malam, cerita bergulir tentang tekanan yang menerpa perempuan, yang selalu diharapkan publik untuk menjadi sosok yang suci.

Kadangkala, ia mengedepankan rekonsiliasi dengan teman, musuh, atau teman yang menjadi musuh. Adakalanya juga ia menjadi sangat gelap. Salah satu episodenya bahkan terasa psikedelik, ditampilkan bagai stoner movie sambil tetap menyertakan humor gelap parodi kulit putih Amerika dengan secret society yang melakukan hal-hal di luar nalar.

Hal-hal demikian digambarkan secara sederhana, tapi universal. Pembahasan soal dekolonisasi pun kadang terlalu abstrak bagi anak muda atau siapa pun di reservasi.


Manusiawi

Reservation Dogs tidaklah mewakili suku bangsa pribumi Amerika tertentu. Di Oklahoma saja—tempat serial ini difilmkan (tepatnya di Okmulgee, markas Muscogee Nation), terdapat 39 suku pribumi yang diakui. Aktor dan kru penggarap serial ini juga datang dari bangsa berbeda-beda, mulai dari orang Mohawk, Oji-Cree, Seminole, dan lain-lain.

Maka lumrah saja serial mengambarkan pula stereotipe kontemporer yang melingkupi komunitas suku-suku asli.

Kendati demikian, pilihan untuk menggeneralisasi latar belakang karakter tentu tak bisa dianggap sebagai kelemahan serial ini. Cela justru bisa datang dari sifat naratifnya. Ada konflik yang terkadang terkesan agak dipaksakan, seperti yang terjadi antara Bear dan Elora.

Konflik di antara mereka semestinya bisa saja diselesaikan tanpa mengungkit soal teman mereka yang telah berpulang. Penyelesaian konflik terkadang kelewat sepele atau mengada-ada. Kehadiran beberapa dialog atau adegan terkadang terkesan dijejalkan saja untuk memenuhi durasi.

Namun, hal itu masih bisa dimaklumi mengingat bawaan penceritaannya yang ringan. Terlepas dari itu, serial ini juga lebih sering jitu dalam pendekatannya. Contohnya, rekonsiliasi berlapis antara Rez Dogs dan Jackie dari NDN Mafia.

Infografik Misbar Reservation Dogs
Infografik Misbar Reservation Dogs. tirto.id/Tino


Sedangkan untuk aspek keberagaman, Reservation Dogs juga turut menampilkan kalangan minoritas lain, seperti Hispanik dan Afrika-Amerika. Sayangnya, satu-satunya karakter Asia-Amerika di sini, Dr. Kang (Bobby Lee), justru hadir dalam wujud karakter yang nyeleneh, tak dianggap serius, dan nyaris menyerupai Mr. Chow dalam seri Hangover.

Serial ini tak berupaya mensakralkan karakter orang-orang pribumi Amerika yang menjadi pusat cerita. Anak-anak mudanya adalah anak-anak muda yang sama dengan banyak anak muda di kawasan lain. Mereka yang ingin melihat dunia, mengenakan kaus Basquiat maupun Slipknot, atau menggemari Mad Max.

Orang-orang dewasanya kadang bisa mengayomi, tapi tak sedikit pula karakter problematik yang ditampilkan. Entah itu ayah yang menelantarkan anaknya, sosok tetua yang bermasalah dan mengucilkan diri dari masyarakat, bibi yang meniduri suami dan putra dari perempuan lainnya, atau paman yang mengembangbiakkan cannabis di rumah.

Kehadiran karakter-karakter yang kompleks plus jauh dari kata innocent itu diperkuat dengan akting yang terasa alami. Keempat Rez Dogs, misalnya, terasa betul-betul berada di elemen mereka di geng-gengan reservasi. Begitu pun chemistry mereka dengan warga sekitar.

Di musim ini, Paulina Alexis menjadi bintangnya. Ia berhasil membawakan karakter Willie Jack yang sinis, dengan aksennya yang khas, dengan sumpah-serapah yang entah mengapa justru dinanti-nanti.

Selain film Smoke Signals (1998) arahan Chris Eyre, rasanya tak banyak film atau serial berkualitas produksi pribumi Amerika yang mampu mencapai audiens luas. Dari sisi berbeda, mudah ditemukan adaptasi maupun penggambaran bangsa-bangsa ini yang terkesan sembrono, miskarakterisasi, dan inapropriasi. Dalam beberapa karya garapan orang nonpribumi, mereka justru sekadar jadi karikatur.

Reservation Dogs berupaya menghadirkan representasi yang tepat di ranah hiburan arus utama. Lain itu, ia juga sebagai penyegaran akan kumpulan potret pribumi Amerika terkini. Dengan NDN slang-nya, racikan kisah duniawi dan supranatural, jibaku dengan rutinitas dan kutukan, ia tak memerlukan sihir untuk siapa pun yang menyaksikannya.

Reservation Dogs kian mendalam dan menguat pada musim kedua ini, meski terasa masih sekadar menyasar permukaan. Sangat mungkin masih banyak yang bisa dan layak digali dari kehidupan di reservasi seraya tetap memberikan tontonan menyenangkan.

Karenanya, kelanjutannya patut dinantikan—tanpa sepeser uang pun, kira-kira apa yang bakal dilakukan para anak muda itu di California?

Apakah para kreatornya akan kembali pada ujaran, “Lebih baik di sini, di rumah kita sendiri”? Jika konsisten, kita tahu Reservation Dogs tidak akan memberikan jawaban yang gamblang. Ia akan tetap bermain-main di antara rasa ingin menetap atau hengkang.

Baca juga artikel terkait AMERIKA atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Film)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight