Menuju konten utama

Keengganan Gen Z Berdebat dan Mengatasi Perbedaan Pendapat

Gen Z dikatakan kurang memiliki keterampilan berkomunikasi yang sangat diperlukan di dunia kerja. Benarkah?

Keengganan Gen Z Berdebat dan Mengatasi Perbedaan Pendapat
Header Diajeng Kemampuan Berdebat Gen Z. tirto.id/Quita

tirto.id - Erin suatu kali mengeluhkan bawahannya, Gen Z sedikit-sedikit menggunakan alasan mental health untuk menghindari beberapa pekerjaan yang menurut mereka sulit.

“Paling menyebalkan adalah mereka tidak segera membalas pesan yang masuk, padahal mereka sudah baca, bahkan mereka tidak mau angkat telepon,” keluh Erin.

Ia menambahkan, meski tidak semua Gen Z seperti itu, namun banyak dari mereka yang tidak mempunyai etika dan cara berkomunikasi yang baik di lingkungan kerja.

Selain Erin, CEO Channel 4, saluran TV besar di Inggris, Alex Mahon, juga mengkritik karakter generasi muda saat ini.

Ia mengeluhkan generasi termuda yang memasuki dunia kerja tidak memiliki keterampilan untuk berdebat, mengutarakan ketidaksetujuan, atau bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda opini.

‌“Apa yang kita lihat pada generasi muda yang memasuki dunia kerja, Gen Z, khususnya pascapandemi dan dengan konsentrasi jangka pendek, mereka tidak memiliki keterampilan untuk berdebat,” kata Mahon di acara Konferensi Royal Television Society di Cambridge.

“Mereka tidak memiliki keterampilan untuk mendiskusikan berbagai hal dan keterampilan untuk mengatasi perbedaan pendapat.”

Header Diajeng Kemampuan Berdebat Gen Z

Header Diajeng Kemampuan Berdebat Gen Z. foto/IStokcphoto

Meski begitu, generasi Z (lahir antara tahun 1997-2012) tidak sepenuhnya bisa disalahkan.

Mahon menyebut media sosial dan disrupsi di bidang pendidikan akibat pandemi ini sebagai penyebab utama tantangan di tempat kerja.

Anak muda terlalu banyak melihat TikTok dan Instagram, video berdurasi kurang dari satu menit, yang menampilkan konten yang mereka sukai, sehingga menciptakan ruang gaung di kalangan anak muda. Hal ini dapat mengurangi kemampuan mereka dalam menyampaikan ide-ide yang berbeda.

Tahun lalu, Channel 4 mengadakan penelitian yang menunjukkan responden Gen Z ini kurang liberal karena mereka kurang toleran terhadap pandangan orang lain daripada generasi orang tua atau generasi kakek nenek mereka.

Seperempat dari mereka sedikit memiliki toleransi terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan dengan mereka dan hampir setengahnya setuju bahwa beberapa orang pantas di-cancelled, istilah sekarang.

Selama pandemi, Gen Z terpaksa belajar sendiri dan interaksi belajarnya terbatas melalui Zoom.

Mahon menyebut karena mereka tidak belajar tatap muka secara langsung di sekolah sebagai alasan siswa era pandemi tidak terbiasa berdiskusi dengan orang lain.

“Itu adalah langkah perubahan yang sangat berbahaya yang kami lihat,” tambahnya.

Psikolog Ima Santika Jayanti, M.Psi, menjelaskan karakter Gen Z sebenarnya lebih kritis dan memiliki ide-ide menonjol dari generasi sebelumnya.

“Hal ini karena mereka lahir berbarengan dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, penggunaan gawai berpengaruh terhadap cara pandang dan cara pikir mereka.”

Mereka sangat akrab dengan sosial media sehingga mereka bebas dan nyaman berpendapat di sosial media. Ketergantungan pada teknologi ini memicu sifat individual.

Begitu masuk ke dunia kerja, yang mengharuskan bertatap muka langsung, mereka merasa ide mereka harus diterima, sulit toleransi menerima pendapat orang lain.

“Karena terbiasa bebas berpendapat di sosial media, ketika bertemu langsung orang lain yang memiliki pemahaman berbeda, mereka butuh waktu untuk adaptasi, kaget ternyata di lingkungan kerja ada peraturan yang harus ditaati.”

Karena era internet, Gen Z berpikir secara instan, spontan, kurang dapat menjaga perasaan orang lain, dan terlihat sebagai generasi yang suka protes.

Ian Elliott, Chief People Officer PwC Inggris, menyatakan simpatinya kepada para pekerja muda.

“Sangat dapat dimengerti bahwa siswa yang tidak mengikuti kegiatan tatap muka selama pandemi COVID-19 sekarang mungkin menjadi lebih kuat di bidang tertentu, seperti bekerja secara mandiri, namun mereka kurang percaya diri dalam bidang lain, contohnya saat presentasi di depan kelompok,” ungkapnya.

Untuk mengatasi hal itu, banyak perguruan tinggi berupaya menutup kesenjangan keterampilan sosial antara mahasiswanya dan angkatan kerja.

Michigan State University misalnya, mempersiapkan lulusannya untuk memasuki pasar kerja dengan pelajaran cara menangani sebuah percakapan jaringan (conversation network)---seperti melihat tanda-tanda bahwa pihak lain mulai bosan dan sudah waktunya untuk beralih ke topik bahasan lain.

Sekolah juga meminta perusahaan untuk memberikan panduan eksplisit pada hari pertama perekrutan, termasuk pakaian yang akan dikenakan dan tempat makan siang.

Universitas Miami bahkan mengatur sebuah acara makan malam dengan para pemimpin senior, agar siswanya dapat belajar etika makan yang benar, dan bagaimana terlibat percakapan topik netral dengan mereka.

Faktanya, mereka sama khawatirnya untuk memasuki dunia kerja seperti halnya para dosen di universitas dan calon pemberi kerja.

Dari dunia usaha, untuk mengatasi generasi muda yang kurang dalam keterampilan dasar berkomunikasi, empat perusahaan konsultan terbesar di dunia: Deloitte, PwC, KPMG, dan EY semuanya menawarkan pelatihan soft skill kepada karyawan junior, termasuk pelajaran tentang cara berbicara dalam rapat.

Sementara, dari sudut pandang Gen Z, fresh graduates menyampaikan keprihatinannya kepada Wall Street Journal tentang bagaimana cara bekerja dengan kolega, menyampaikan presentasi langsung, dan membangun jaringan pribadi.

Mereka menceritakan betapa melelahkan saat dikelilingi oleh orang-orang di kantor sepanjang hari. Sementara lulusan lain menceritakan, ia terkejut saat mengetahui tenggat waktu di kantor lebih pendek dibandingkan dengan tugas kuliah.

Kontras dengan curhatan Gen Z di atas, survey ResumeBuilder.com menyatakan 74% dari pemimipin bisnis dan manajer mengatakan lebih sulit saat bekerja bersama Gen Z dibandingkan generasi sebelumnya.

Alasannya, Gen Zsedikit berusaha dan kurang motivasi dalam bekerja. ​

Pemimpin bisnis lebih memilih bekerja dengan milenial dan bahkan 65% dari mereka mengatakan lebih mudah memecat Gen Z dibandingkan pekerja dari generasi sebelumnya.

Dalam survei tersebut dijelaskan, Gen Zini sangat mudah tersinggung dan itulah alasan terbanyak mengapa mereka diberhentikan.

Ima menjelaskan, Gen Z dinilai memiliki kondisi mental lemah karena teknologi yang mudah dijangkau mereka, jadi mereka sangat gampang mencari informasi. Tak jarang mereka melakukan self-diagnose karakter mereka dengan melabeli diri introvert, depresi, atau bipolar tanpa konsultasi dengan dokter atau psikolog.

“Pada kasus tertentu saat dimarahi atasan, Gen Z memakai isu mental health untuk tidak masuk kantor keesokan harinya. Bagi rekan kerjanya, Gen Z disebut rapuh, diberi kritikan akan tersinggung.” jelas Ima.

Bagaimanapun juga, Gen Z cepat atau lambat akan mengambil bagian terbesar dari usia produktif angkatan kerja dunia. Para pemimpin bisnis perlu memahami cara kerja, nilai-nilai, dan perkembangan karier seperti apa yang diminati Gen Z.

Bagi Gen Z, mereka tak lagi menganggap gaji sebagai sesuatu yang penting, tetapi memilih pekerjaan yang menarik baginya dan lingkungan kerja yang nyaman.

Untuk itu, pemberi kerja perlu memberi mereka kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka dengan mentorship dan program-program yang diperlukan bagi kemajuan karier mereka.

Baca juga artikel terkait DIAJENG atau tulisan lainnya dari Daria Rani Gumulya

tirto.id - Diajeng
Kontributor: Daria Rani Gumulya
Penulis: Daria Rani Gumulya
Editor: Lilin Rosa Santi