Kasus Baru COVID-19 B117 Bertambah Saat Tren Testing Menurun

Oleh: Irwan Syambudi - 10 Maret 2021
Dibaca Normal 2 menit
Tren testing menurun saat varian baru COVID-19 diketahui masuk. Dengan begitu mungkin lebih banyak kasus dibanding yang dilaporkan.
tirto.id - Pemerintah telah mengonfirmasi enam kasus varian baru COVID-19 dengan kode B117 yang pertama kali ditemukan di Inggris. Varian yang disebut-sebut lebih mudah menyebar ini disinyalir menjangkiti lebih banyak orang dibanding yang dilaporkan karena diketahui bersamaan dengan tren penurunan angka testing.

Kasus B117 di Indonesia pertama kali diumumkan pada Selasa 2 Maret 2021. Virus ini menjangkiti dua orang pekerja migran asal Karawang Jawa Barat yang baru pulang dari Arab Saudi. Sampel swab mereka diambil pada 4 dan 7 Februari 2021. Setelah terkonfirmasi positif, kemudian dilakukan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS)--analisis dari seluruh urutan DNA genom sel pada satu waktu. Dari sanalah diketahui mereka terpapar B117.

Data mereka kemudian diunggah ke laman resmi Global Initiative on Sharing All Influenza Aata (GSAID), sebuah inisiatif sains global dan sumber utama yang menyediakan akses terbuka ke data genom virus influenza dan Corona yang bertanggung jawab atas pandemi COVID-19, oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes Kemenkes).

Pada 6 Maret 2021, empat tambahan kasus varian baru kembali diinput ke laman tersebut. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, melalui konferensi pers daring, Senin (8/3/2021), membenarkan hal tersebut. “Hasil kerja sama antara Kemenkes dan Kemenristek/BRIN sudah menemukan empat lagi yang terkonfirmasi.”

Salah satu kasus terkonfirmasi ada di Palembang, Sumatera Selatan, dari hasil pengambilan sampel pasien positif COVID-19 pada 11 Januari 2021. Kemudian di Kalimantan Selatan hasil pengambilan sampel 6 Januari 2021. Satu di Balikpapan, Kalimantan Timur, hasil dari pengambilan sampel 12 Februari 2021; kemudian di Medan, Sumatera Utara, hasil pengambilan sampel pada 28 Januari 2021.


“Mereka sudah sembuh dan sudah pulang. Untuk tindak lanjutnya kami melakukan surveilans terhadap kontak erat mereka dan sedang kami kejar agar segera bisa dites dan whole genome sequencing,” kata Budi.

Sementara untuk dua kasus pertama, seluruh kontak eratnya sudah dites dan semua negatif, kata Budi.

Testing Menurun

Menurut Pandemic Talks, sebuah inisiatif yang didirikan untuk mengisi gap informasi ke masyarakat terkait COVID-19, pada Januari-Maret 2021, ketika kasus B117 ditemukan, terjadi fluktuasi angka testing. Mulanya menyentuh 40 ribu orang per pekan, lalu berangsur menurun hingga pertengahan Februari yang titik terendahnya di bawah 30 ribu. Pada pekan terakhir Februari jumlahnya kembali naik lebih dari 40 ribu namun kembali anjlok pada pekan pertama Maret di angka 30 ribu.

Salah satu inisiator Pandemic Talks sekaligus doktor bidang kedokteran bedah syarat bilang Muhammad Kamil mengatakan deteksi dini penyebaran B117 sebenarnya dapat dilakukan dengan PCR atau antigen. Maka jika testing menurun, menurutnya mungkin B117 sebenarnya telah meluas dan bahkan bermutasi lagi.


Lebih luas, fluktuasi testing juga menandakan tak serta merta kasus COVID-19 secara umum telah melandai.

Menurutnya masuknya B117 dapat menular lebih cepat semestinya membuat testing atau WGS semakin digencarkan. “Kapasitas Indonesia untuk memeriksa sampel buat dicek sekuens rendah banget. Kita kudu lebih agresif buat preventif dengan modalitas testing dan tracing, bukan dengan lagi-lagi menambal di belakang dengan menaikkan bed rumah sakit atau vaksin. Enggak nyambung,” kata Kamil kepada reporter Tirto, Selasa (9/3/2021).


Epidemiolog di Griffith University Australia Dicky Budiman memperingatkan ketika B117 sudah diketahui masuk tapi testing malah menurun, maka potensi peningkatan kasus akan makin tinggi.

“Ketika testing menurun, berarti kemampuan kita untuk mencegah penularan dan penyebaran strain apa pun termasuk B117 itu juga akan menurun. Artinya menurunkan kapasitas benteng kita atau upaya pencegahan kita,” kata Dicky kepada reporter Tirto, Selasa.

“3T (tracing, testing, dan treatment) yang performanya belum ada peningkatan signifikan selama satu tahun akan memperburuk pengendalian pandemi kita,” katanya. Penularan yang makin cepat tidak lain berpotensi membuat makin banyak orang yang terpapar dan makin banyak pula orang mungkin meninggal.

Selain itu, jika tak ada perbaikan, menurutnya bukan tidak mungkin memunculkan “potensi strain made in Indonesia.”

Baca juga artikel terkait VARIAN BARU COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Rio Apinino
DarkLight