Bagaimana Membendung B117 & Varian COVID-19 Lainnya di Indonesia

Oleh: Irwan Syambudi - 8 Maret 2021
Dibaca Normal 2 menit
Varian baru COVID-19 asal Inggris ada di Indonesia. Pengetesan harus diperkuat, plus cara-cara tradisional lain (5M).
tirto.id - Pemerintah Indonesia mengumumkan masuknya varian baru COVID-19 dengan kode B117 atau varian B.1.1.7 yang pertama kali muncul di Inggris pada September 2020. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, Selasa (2/3/2021) lalu, mengatakan dengan temuan ini “kita akan menghadapi pandemi ini dengan tingkat kesulitan yang semakin berat.”

Ia mengatakan demikian karena varian ini disebut lebih cepat menular. Para ilmuwan di Inggris memperkirakan varian ini lebih menular 50 hingga 70 persen dari varian lain. Sementara laporan resmi pemerintah Inggris pada Januari 2021 menyebut B117 merupakan varian dominan dan mengakibatkan lonjakan kasus di negara mereka meski saat itu dalam kondisi lockdown.

Peneliti genomik molekuler dari Aligning Bioinformatics dan anggota konsorsium COVID-19 Genomics UK Riza Arief Putranto bilang mutasi yang mengakibatkan lonjakan kasus itu juga bisa terjadi di Indonesia. “Selama varian terus menyebar, potensi mutasi selalu ada. Mutasi terus berjalan karena memang marwahnya virus RNA adalah bermutasi,” kata Riza kepada reporter Tirto, Kamis (4/3/2021).

Termasuk Indonesia, varian ini kini telah menyebar ke lebih dari 50 negara. Mutasi baru yang timbul darinya salah satunya varian B.1351 di Afrika Selatan yang mengakibatkan pandemi gelombang kedua dan B.1.128 yang mengakibatkan penularan gelombang kedua di Brasil.

Membendung penyebaran varian ini, katanya, memang jadi pekerjaan rumah yang berat bagi pemerintah Indonesia.

Doktor biologi molekuler dari Harvard Medical School sekaligus pengajar biomedik Universitas Yarsi Ahmad Rusdan Handoyo mengatakan ada dua faktor penyebaran virus, yakni dari manusia dan virus itu sendiri.


Pertama penyebaran virus yang bergantung pada inang atau manusia. Virus akan menyebar dengan cepat jika tak ada pembatasan--manusia tetap berkerumun apalagi tak pakai masker. Faktor kedua adalah virus itu sendiri, sebagaimana yang terjadi di Inggris, mengingat lonjakan kasus dan peningkatan penularan varian B117 terjadi di tengah lockdown.

“Jangan-jangan virus ini punya kemampuan lebih mudah menginfeksi. Mungkin dia (B117) tidak lagi membutuhkan 1.000 partikel [untuk menginfeksi], cukup 100 atau 200. Lebih sedikit tapi menimbulkan masalah yang sama,” kata Ahmad kepada reporter Tirto, kamis.

Oleh karena karena faktor virus itu sendiri, menurutnya selain menggalakkan terus 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi)--yang merupakan faktor pertama penyebaran virus--ditambah mempercepat vaksinasi, pemerintah juga perlu memperkuat 3T (tracing, testing, treatment).

“Kita harus memodifikasi atau menambahkan cara kita [men]deteksi [virus],” kata Ahmad.

Apa maksudnya? Riza Arief Putranto pernah mengatakan bahwa genom--keseluruhan informasi genetik yang dimiliki suatu sel--yang dapat dideteksi di Indonesia itu “kurang.” Data genom yang terbatas membuat pendeteksian varian baru sulit dilakukan ketimbang varian yang sudah ada selama ini, yaitu paling banyak varian S D614G.

Ahmad mengatakan pendeteksian itu bisa dilakukan dengan fokus memeriksa sekuens genom utuh atau whole genome sequencing (WGS) pada sampel populasi potensi tinggi seperti orang yang bepergian ke luar masuk luar negeri. WGS menurut IASLC Thoracic Oncology, adalah “analisis dari seluruh urutan DNA genom sel pada satu waktu” yang dapat “memberikan karakterisasi genom yang paling komprehensif.”

WGS terhadap COVID-9 dilakukan dengan menganalisis sampel swab. Pemeriksaan dilakukan dengan mencocokkan detail material genetik virus menggunakan polymerase chain reaction (PCR) atau primer bagian dari virus itu sendiri.

Selain memfokuskan WGS pada populasi potensial, pemerintah juga didesak untuk menggencarkan penelitian untuk mengantisipasi perkembangan dan penyebaran B117. Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendesak pemerintah untuk memberdayakan semua lembaga riset terkait untuk meneliti dan mencari cara pencegahan penularan B117.

Mulyanyo bilang jangan sampai virus ini terlanjur menyebar baru dipikirkan mitigasnya. “LBM Eijkman memiliki kapasitas untuk melakukan mitigasi dan menyusun early respons untuk menangani kasus ini,” kata anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto melalui keterangan tertulis yang diterima Tirto, Sabtu (6/3/2021).

Pemerintah perlu mengantisipasi kemungkinan terburuk dari perkembangan B117, katanya, sebab “dengan wabah satu virus yang sudah ada saja kita kewalahan menanganinya, apalagi kalau harus menghadapi tambahan virus Corona lainnya.”


Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan menurut hasil temuan lembaga biologi molekuler Eijkman, jumlah WGS yang dilaporkan oleh Indonesia berjumlah 495 dengan 471 di antaranya adalah WGS yang komplet. Sejak April 2020 dan hingga Februari 2021, seluruh WGS itu bervarian D614G. Varian B117 sendiri dilaporkan oleh Balitbangkes dari sampel yang diambil pada bulan Februari 2021.

Masuknya varian B117 melalui pekerja migran Indonesia (PMI) yang mendarat di Bandara Soekarno Hatta ini sebetulnya telah diantisipasi, kata Wiku. Pengaturan mobilitas pelaku perjalanan luar negeri sudah sedemikian rupa dirancang dengan lapisan proteksi berlapis, dari mulai pengecekan suhu, tes PCR, sampai karantina. Tapi memang akhirnya kebobolan juga.

Wiku mengatakan pemerintah telah bekerja sama dengan peneliti untuk semakin mengerti perkembangan virus ini. “Dan menginstruksikan petugas di lapangan untuk memperketat proses skrining demi mencegah varian baru dari negara lain atau pun dari satu daerah ke daerah lain,” kata Wiku, Kamis (4/3/2021).

Baca juga artikel terkait VARIAN BARU COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Rio Apinino
DarkLight