Kartun Tom and Jerry Akar Kekerasan di Timur Tengah

Tom and Jerry, serial animasi Amerika Serikat hasil produksi MGM. Cerita pendek ini diciptakan oleh dua orang animator bernama William Hanna dan Joseph Barbera. Gambar/MGM
Oleh: Arlian Buana - 24 Juni 2016
Dibaca Normal 2 menit
"Tom and Jerry menggambarkan kekerasan dengan cara yang lucu dan mengirimkan contoh bahwa, ya, saya bisa memukul dia... dan saya bisa meledakkannya dengan bom. Ini tertanam dalam benak pemirsa."
tirto.id - Tentu saja. Kenapa tidak?

Para diktator di kawasan itu bukanlah sumber kekerasan. Konflik berkepanjangan Israel-Palestina bukanlah sumber permasalahan. Osama bin Laden hanya teroris biasa yang hobi cari perhatian seperti beruk remaja di Ragunan. Al Qaeda dan ISIS tak lebih dari klub tentara-tentaraan yang isinya manusia-manusia yang bosan akan kehidupan yang datar-datar saja.

Tak salah lagi, semua salah Tom and Jerry.

Dalam konferensi "Media dan Budaya Kekerasan" di Universitas Kairo pada 4 Mei silam, Salah Abdel Sadek, kepala Layanan Informasi Negara Mesir, pejabat sekelas Menkominfo di sini, menegaskan kepada segenap hadirin bahwa kartun Tom and Jerry adalah akar segala kekerasan dan ekstremisme yang terjadi di Timur Tengah. Menurut Sadek, serial kartun tikus dan kucing yang populer di seluruh dunia itu telah menanamkan gagasan ke dalam kepala bocah-bocah Timur Tengah bahwa kekerasan itu wajar.

"[Tom and Jerry] menggambarkan kekerasan dengan cara yang lucu dan mengirimkan contoh bahwa, ya, saya bisa memukul dia... dan saya bisa meledakkannya dengan bom. Ini tertanam dalam benak pemirsa," kata Sadek.

Setelah pernyataan Sadek, media Mesir Youm7 menayangkan artikel berjudul "Penyebab terorisme: 5 tuduhan kepada kartun Tom and Jerry di Mesir". Youm7 memperingatkan para orang tua bahwa kartun itu "meneladankan kebiasaan buruk seperti merokok dan minum alkohol", " mengajarkan anak-anak bahwa mencuri itu normal", "mendistorsi konsep keadilan", dan memandu anak-anak "menciptakan rencana jahat" menggunakan perkakas-perkakas berbahaya seperti parang, gergaji, dan pistol.

Tom and Jerry, sebagaimana kartun Amerika lainnya yang dibuat pada tahun 1940-an, memang bukan tanpa kontroversi. Sejumlah episode animasi ciptaan William Hanna and Joseph Barbera ini diprotes banyak orang karena mengusung stereotipe rasial dan mengglamorisasi rokok. Stasiun-stasiun televisi di AS menyensor beberapa episode Tom and Jerry yang dianggap mengandung sterotipe rasial, kanal televisi Boomerang di Inggris menyunting beberapa adegan yang menonjolkan aktivitas merokok.

Tom and Jerry menjadi favorit anak-anak karena komedi slapstiknya. Ceritanya berpusat pada perkelahian antara Tom si kucing rumahan dan si tikus Jerry. Biasanya dimulai dengan berbagai upaya Tom untuk menangkap Jerry, lalu terjadilah berbagai keributan dan kekacauan. Tom jarang berhasil menangkap Jerry, karena si tikus ini cerdik, agak licik, dan sering beruntung. Bagi para orang tua, serial kartun ini dianggap terlalu brutal karena Tom menggunakan benda-benda berbahaya seperti kapak, palu, godam, petasan, bahan peledak, perangkap dan racun untuk membunuh Jerry. Di sisi lain, metode pembalasan Jerry juga jauh lebih biadab karena keberhasilannya mengiris-iris tipis Tom, menjepit kepala atau jarinya di jendela atau di pintu, menjadikan ekor Tom sebagai isian dalam waffle, memenggal kepalanya, menyetrumnya, membakarnya bersama kembang api, dan lain sebagainya. Karena terlalu banyak kekerasan itulah, Tom and Jerry sering diprotes—meski tidak pernah ada darah kental dalam setiap adegannya.

Menunjuk hidung budaya pop seperti Tom and Jerry sebagai akar persoalan kekerasan bukanlah hal baru, juga bukan khas Mesir atau Timur Tengah saja. Di mana-mana, di berbagai tempat di dunia, budaya pop yang mengandung konten kekerasan ditentang oleh para orang tua yang khawatir akan pertumbuhan anaknya. Hingga saat ini, studi-studi tentang pengaruh budaya pop terhadap terjadinya kekerasan terus dilakukan berbagai kampus dan lembaga penelitian.

Di mana-mana, di berbagai tempat di dunia, para orang tua berusaha sekuat tenaga agar anak-anak mereka dijauhkan dari adegan seks dan tontonan brutal—sembari tetap menikmatinya. Mereka menolak konten kekerasan, baik dengan alasan yang masuk akal maupun dengan pembenaran yang konyol. Tidak jarang, peristiwa-peristiwa berdarah yang terjadi dicarikan kambing hitamnya dari budaya pop.



Jauh sebelum Salah Abdel Sadek menyalahkan Tom and Jerry sebagai biang kekerasan Timur Tengah, musisi Marilyn Manson dituduh bertanggung jawab atas pembantaian di SMA Combine pada 20 April 1999. Hanya karena keterangan awal beberapa siswa bahwa pelaku pembantaian, Dylan Klebold and Eric Harris, adalah penggemar Marilyn. Keterangan tersebut terbukti salah di kemudian hari, tapi Marylin telanjur dan tetap saja dianggap biang keladi.

Tapi Marilyn Manson tidak persis dengan Tom and Jerry. Dan di Timur Tengah, menyalahkan pengaruh buruk budaya barat atas berbagai masalah di wilayah ini punya sejarah panjang. Para pemimpin otoriter yang korup di sana sering menggunakannya untuk membelokkan kegagalan mereka sendiri. Untuk mengaburkan buruknya kualitas kebijakan mereka sendiri, mereka akan berteriak-teriak soal konspirasi Barat atau Yahudi—dalam hal ini tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Mereka mendengus tak peduli kalau ada yang bilang represi, penindasan, intoleransi, dan ketimpangan sosial juga berkontribusi terhadap kekerasan dan ekstremisme.

Maka pernyataan Salah Abdullah Sadek bukanlah sesuatu yang mengherankan. Ia tipikal pejabat Timur Tengah. Baginya, adegan kejar-kejaran seekor kucing bersenjata dengan seekor tikus di sekitar sebuah rumah lebih mengacaukan otak bocah-bocah Mesir daripada penangkapan, pemukulan, penyiksaan, dan penghilangan terhadap wartawan, aktivis, mahasiswa, dan warga biasa yang dilakukan aparat keamanan Mesir selama tiga tahun terakhir—sejak Jenderal Abdel Fattah el-Sisi melakukan kudeta. Baginya, strategi ISIS yang memamerkan kebrutalan ekstrem berutang teladan kepada acara-acara televisi, video game, atau film barat, bukan kepada satu dekade rezim berdarah Saddam Husein.

Tapi, ketika kekerasan sungguhan dilakukan oleh pemerintah despot terhadap warganya sendiri, gagasan bahwa kartun Barat dari tahun 40-an lebih pantas disalahkan ini benar-benar menggelikan—jika bukan muram. Jika benar orang-orang di Timur Tengah menginternalisasi pelajaran bahwa kekerasan itu membawa hasil, tentu mereka belajar dari menonton pemerintah mereka sendiri—bukan kartun.

Di film dokumenter Metal: A Headbanger's Journey, musisi Alice Cooper pernah bilang: "Ada lebih banyak darah di 'Macbeth' [karya William Shakespeare] daripada di pertunjukan saya, dan 'Macbeth' diwajibkan di sekolah-sekolah." Dalam hal Tom and Jerry, ada jauh lebih banyak darah di tangan pemerintah Mesir daripada yang ada di cakar kartun kucing dan tikus.

Baca juga artikel terkait TOM AND JERRY atau tulisan menarik lainnya Arlian Buana
(tirto.id - Politik)

Reporter: Arlian Buana
Penulis: Arlian Buana
Editor: Arlian Buana
DarkLight