Kartika Jahja dan Yacko Bicara Masalah Perempuan di Dunia Musik

Oleh: Aulia Adam - 19 Oktober 2017
Dibaca Normal 1 menit
Ketimpangan gender juga terjadi di skena musik, terutama yang punya komunitas terbatas
tirto.id - Penyanyi dan aktivis Kartika Jahja menilai, diskriminasi pada perempuan juga masih terjadi di dunia musik. Mulai dari pelecehan dan ekploitasi oleh produser, olok-olok dari lingkungan sendiri, standar ganda dalam bermusik, hingga praktik victim blaming masih jadi masalah yang kerap dihadapi musisi-musisi perempuan. “Kalau ditanya, apakah mendapat diskriminasi? Mungkin kebanyakan akan menjawab tidak. Tapi, kalau ditanya lebih spesifik, pernah enggak digrepe pas main musik? Pernah enggak produsernya taking advance sexually? Pernah enggak diremehin sama lingkungan sekitar? Misalnya dalam band sendiri? Yang jawab iya ternyata banyak,” ungkap Kartika.

Masalahnya, diskriminasi itu juga punya tantangan-tantangan berbeda di setiap lingkungan musik berbeda. Misalnya, apa yang dirasakan musisi perempuan dalam genre dangdut berbeda dengan tantangan yang dirasakan musisi perempuan dalam genre hip-hop, atau punk. “Tapi, sekecil apa pun itu, perempuan pasti masih merasakannya (di ranah musik),” tambah Tika. “Mungkin masih bayak yang belum paham kalau (diskriminasi) yang mereka terima adalah masalah, karena lingkungan kita yang masih menganggap itu lumrah saking seringnya perempuan diremehkan.”

Yacko, rapper perempuan Indonesia, mengamini perkataan Tika. Ia sendiri mengalami sejumlah diskriminasi hingga pelecehan itu sendiri. “Pernah, ada orang radio yang bilang ke gue, (musik) lo enggak akan pernah bisa maju di mainstream dan di (jalur) indie, dulu waktu 2005 gue masih di bawah label rekaman,” kata Yacko. Menurutnya, prediksi sepihak dari orang tersebut adalah bentuk ketidakpercayaan industri pada perempuan, “Mereka masih mikir ada batasan-batasan yang enggak bisa ditembus oleh kita.”

Diskriminasi itu hampir datang dari semua lini, ungkap Yacko. Ia juga menceritakannya pengalamannya membeli lagu pada seorang produser yang kemudian ditolak, dengan alasan tidak menjual. Saat tampil di panggung, pengarah acara juga pernah membuat dirinya tampil di deretan pertama karena alasan khusus. “Oh, dia aja yang ditaruh di depan, dia kan perempuan,” Yacko mencontohkan omongan sang pengarah acara. Sebenarnya ia tak keberatan diletakkan jadi pembuka, tapi bukan dengan alasan sebagai pemanis.

Pengalaman lebih buruk juga sempat diterimanya. Dada Yacko pernah diremas penonton saat sedang bernyanyi.

Lebih spesifik, Hera Mary, sutradara film Ini Scene Kami Juga, merekam pengalaman-pengalaman musisi punk dan hardrock perempuan yang terjadi di Indonesia. Kelompok yang secara jumlah adalah minoritas ini juga mendapat standar ganda dari berbagai pihak, karena pengaruh budaya patriaki dan misoginis yang masih kental di masyarakat.

Ketiganya berbicara dalam diskusi “Women: Gender Equality Within the Local Scene”, Minggu, 15 Oktober 2017. Topik ini menjadi salah satu yang diangkat dalam Archipelago Festival 2017 yang diselenggarakan 14-15 Oktober kemarin. Diksriminasi perempuan jadi salah satu isu yang disorot dalam dunia musik Indonesia.

“Kita perlu lebih sering untuk menyuarakan hal ini supaya semua sadar kalau ini bukan hal yang bisa dilumrahkan,” ungkap Tika.

Hera juga sependapat. “Seenggaknya, kita menyuarakan untuk diri kita sendiri, enggak perlu mikir untuk berdampak luas deh. Mulai dari diri kita sendiri aja dan lingkungan sekitar kita untuk lebih peduli sama masalah ini,” tambahnya.

Baca juga artikel terkait ARCHIPELAGO FESTIVAL atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Musik)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Aulia Adam