Karena "Salam" Itu Baik, Maka "Salam Damai" untuk Kita Semua

Oleh: M. Quraish Shihab - 17 Mei 2018
Dibaca Normal 2 menit
Makna kata "salam", selain dekat dengan kata "Islam", juga banyak bertebaran dalam berbagai tradisi agama.
tirto.id - Kata salam, demikian juga kata shalam dan selamat, akar katanya berasal dari salima (bahasa Arab). Maknanya berkisar pada kedamaian, kesejahteraan, dan keselamatan atau keterhindaran dari segala yang tercela.

Jika terjadi tabrakan, tetapi para penumpang tidak cedera, maka ucapan yang terdengar adalah "syukurlah, ia selamat" karena ia terhindar dari keburukan/kecelakaan. Di sisi lain, jika seseorang mendapat apa yang ia dambakan, maka diucapkan juga kepadanya kata “selamat” karena orang itu telah meraih kesejahteraan.

Manusia di mana pun berada selalu mendambakan salam atau kesejahteraan dan keselamatan. Ketika Adam dan Hawa hidup di surga, keduanya diliputi ketenangan dan kedamaian hingga iblis datang menggodanya. Ketika Allah memerintahkan mereka turun ke bumi, dipesankan-Nya agar mereka mengikuti petunjuk Allah karena itulah cara untuk mengenyahkan rasa takut dan sedih. Itulah cara untuk meraih salam atau kedamaian dan kesejahteraan (QS. al-Baqarah ayat 38).

Ketika Nabi Nuh As., akan berlabuh setelah mengalami air bah yang demikian dahsyat, Allah mempersilakan beliau dan pengikutnya turun dari bahtera dengan berfirman: "Wahai Nuh, turunlah dari bahtera dengan salam/damai selamat sejahtera, keberkahan Allah tercerahkan kepadamu dan orang-orang yang menyertaimu (QS. Hud ayat 48).

Masih terkait dengan kata salam, jangan lupakan: tuntunan Allah yang dianugerahkan kepada umat manusia dinamai Islam yang, secara bahasa, seakar dengan kata salam, yakni damai dan keterhindaran dari semua cela karena itulah harapan umat manusia.

Di mana pun Anda bertemu dengan seseorang, maka yang terucapkan pada saat pertemuan pertama adalah kata yang mengandung makna salam (kedamaian dan keterhindaran dari segala cela). Sapaan pertama orang Yahudi, bahkan juga sementara umat Kristiani, adalah shalom. Kata ini serupa dengan salam. Di kalangan umat Nasrani, misalnya, sangat populer ucapan: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi dan damailah bumi.

Begitu pun di kalangan umat Hindu. "Om shanti shanti" adalah doa dan ucapan umat Hindu yang kandungan maknanya serupa dengan salam dan shalom.

Di kalangan umat Islam, sapaan yang dianjurkan minimal adalah assalamu ’alaikum yang maknanya adalah "keselamatan semoga secara mantap dan selalu menyertai Anda". Lebih baik lagi kalau ditambah dengan wa rahmatu Allahi wa barakatuh (juga semoga rahmat Allah dan aneka keberkatan-Nya melimpah kepada Anda).

Ucapan ini, walau dari segi hukum Islam adalah anjuran, tetapi menjawabnya adalah wajib. Anjuran mengucapkan salam demikian itu bukan hanya terhadap siapa yang dikenal, tetapi juga terhadap siapa yang tidak dikenal.

Ketika Rasul Muhammad SAW. ditanya tentang bagaimana keislaman yang baik, beliau menjawab: “Memberi pangan dan mengucapkan salam kepada yang engkau telah kenal dan yang belum engkau kenal" (HR. Bukhari dan Muslim).

Infografik as Salam rev


Kedamaian bersumber dari Allah. Dia adalah as-Salam (Yang Maha Damai). Dia adalah al-Mukmin (Pemberi rasa aman). Kesejahteraan dan kedamaian yang didambakan (tidak hanya) dekat namun bahkan milik-Nya.

Karena itu di kalangan umat Islam cukup populer doa: “Ya Allah, Engkaulah as-Salam, dari-Mu bersumber as-Salam, dan kepada-Mu pula kembalinya... Hidupkanlan kami, Ya Allah, di dunia ini dengan as-Salam dan masukkanlah kami kelak di negeri as-Salam (surga), Mahabanyak Kebajikan-Mu, wahai Tuhan kami dan Mahatinggi Engkau, wahai pemilik Keagungan dan Kemuliaan."

Islam mengajarkan agar kedamaian disebarluaskan bukan hanya terhadap sesama manusia, tetapi seluruh makhluk, yang bernyawa maupun tak bernyawa. Tapi, ini tidak dapat terlaksana sebelum kedamaian terlebih dahulu bersemi di dalam dada penyebarnya. Bukankah “yang tidak memiliki tidak dapat memberi”? Begitu rumus yang sangat logis.

Yang juga perlu digarisbawahi, kedamaian bersemai di hati, bukan di akal. Karena itu, terang pula bedanya antara ilmu dengan iman. Karena ilmu bersemai di otak, maka ia bisa mengeruhkan pikiran pemiliknya. Sedang iman bersemai di hati, karena itu ia memberi ketenangan dan kedamaian, bukan saja kepada yang beriman, tetapi juga kepada selainnya.

Memang terkadang kita mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan sehingga mengganggu kedamaian hati kita. Tetapi orang bijak berpesan: pandanglah dunia seperti bintang-bintang yang memudar di siang hari, seperti gelombang di arus yang deras, seperti embun yang menguap, seperti gema, tapi semua itu hanya sementara. Kaki kiri dan kanan bergantian ke depan.

Kitab suci al-Qur’an menyatakan: Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan (QS. ath-Thalaq ayat 7). Bahkan, bersama kesulitan ada kemudahan (QS. Alam Nasyrah ayat 5).

Ada dua macam keselamatan/kedamaian yang diajarkan agama yaitu pasif dan aktif.

Islam memerintahkan memberi kedamaian terhadap orang-orang picik yang berlaku buruk terhadap Anda. Al-Qur’an memuji hamba-hamba Allah antara lain karena, "Apabila mereka disapa oleh orang-orang jahil, mereka berucap salam” (QS. al-Furqan ayat 63) — bersikap meninggalkan mereka yang jahil tanpa mengambil sikap yang mengundang keributan. Inilah damai secara pasif. Jika di dalam bus setiap penumpang diam, tanpa menyapa siapa pun dalam kendaraan itu, maka ketika itu telah wujud kedamaian, yakni kedamaian pasif.

Tapi yang dianjurkan Islam adalah damai aktif. Ajaklah teman Anda untuk berbincang dengan santai dan bermanfaat. Berilah ia sesuatu yang menunjukkan perhatian dan hormat Anda kepadanya. Persilakan ia membaca koran yang Anda miliki atau tawarkanlah kepadanya kue yang Anda nikmati — itu contoh kecil dari damai yang aktif.

Karena itu, kata orang bijak, jika Anda enggan memuji, maka jangan memaki. Jika Anda tidak dapat memberi, maka jangan ambil hak orang lain. Jika Anda tak mampu membantu, maka jangan celakakan orang. Demikian seterusnya.

Jika itu diwujudkan oleh setiap orang, maka kedamaian akan tercipta di mana pun kita berada. Demikian, wa Allah A’lam.

=======

*) Naskah diambil dari buku "Kumpulan 101 Kultum Tentang Islam" yang diterbitkan oleh penerbit Lentera Hati. Pembaca bisa mendapatkan karya-karya Prof. Quraish Shihab melalui website penerbit.



Baca juga artikel terkait KULTUM QURAISH SHIHAB atau tulisan menarik lainnya M. Quraish Shihab
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: M. Quraish Shihab
Penulis: M. Quraish Shihab
Editor: Zen RS