Jokowi Akui Pembangunan MRT Jakarta Terlambat 20 Tahun

Jokowi Akui Pembangunan MRT Jakarta Terlambat 20 Tahun
Penyelesaian pekerjaan konstruksi MRT Jakarta koridor Selatan-Utara Fase 1 rute Lebak Bulus - Bundaran HI, tirto.id/Andrey Gromico/Andrey Gromico
13 Oktober, 2017 dibaca normal 1 menit
Jokowi berpesan, siapapun gubernur Jakarta, proyek transportasi umum harus ada untuk memenuhi kebutuhan sekitar 30 juta penduduk Jakarta.
tirto.id - Presiden Joko Widodo mengakui bahwa pembangunan mass rapid transportation (MRT) di Jakarta terlambat sekitar 20 tahun, sehingga banyak kerugian yang diderita.

"Kalau pembebasan lahan sudah mulai 20-25 tahun yang lalu, maka harga tanah masih Rp5-10 juta. Sekarang harga tanah sudah Rp90-200 juta per meter persegi karena kita terlambat membangun," ungkap Presiden Joko Widodo di dekat pintu tol Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat (13/10/2017).

Kerugian lainnya karena keterlambatan pembangunan MRT adalah kemacetan di Jakarta.

"Kemacetan di Jakarta dan sekitarnya menyebabkan setahun hilang Rp28 triliun karena macet. Kalau uang itu dipakai untuk membangun, bisa berlipat-lipat (manfaatnya)," tambah Presiden.

Hingga akhir September 2017, pembangunan konstruksi sipil fase I MRT Jakarta telah mencapai 80,15 persen. Konstruksi fisik jalur bawah tanah itu menyambungkan bundaran Patung Pemuda hingga Bundaran HI sebesar 90,22 persen dan konstruksi jalur layang dari Lebak Bulus hingga patung Pemuda sebesar 70,16 persen.

Untuk fase 1 membutuhkan rel sekitar 3.585 batang dengan panjang per batang 20-25 meter. Selanjutnya untuk fase 2 rute Bundaran HI-Kampung Bandan sepanjang 8,3 kilometer meliputi 8 stasiun yaitu Bundaran HI, Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Mangga Besar, Glodok, Kota dan Kampung Bandan.

Presiden berpesan agar siapapun gubernur yang memimpin Jakarta, ibu kota harus memiliki transportasi massal untuk mengejar kebutuhan penduduk Jakarta yang jumlahnya banyak.

"Siapapun gubernurnya transportasi massal harus dipunyai oleh ibu kota Jakarta karena selain penduduknya sudah padat untuk Jakarta Raya sekitar 30-an juta [orang], yang kedua kita butuh alternatif-alternatif angkutan massal, bisa naik bus, bisa naik taksi, bisa naik MRT, bisa naik LRT (light rapid transportation), agar masyarakat semakin memiliki pilihan mau ke mana naik apa," kata Jokowi.

Sehingga untuk setiap proyek infrakstruktur ia mendorong percepatan pengerjaan proyek tersebut.

"Ini pentingnya saya dorong di lapangan ada masalah apa, saya ikuti karena saya ingin semuanya bisa cepat diselesaikan. Tol Kuala Tanjung diharapkan segera selesai kemudian kawasan industri di Semangke, ada tol belum selesai. Untuk kawasan khusus pariwisata di Toba dan sekitarnya juga terus kita garap," tegas Presiden.

Presiden Joko Widodo hari ini meresmikan dua jalan tol di Sumatera Utara yaitu tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi untuk ruas Kualanamu-Sei Rampah sepanjang sekitar 42 kilometer dan tol Medan-Binjai untuk ruas Helvatia-Semayang-Binjai sepanjang 10,46 kilometer.

Baca juga artikel terkait PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - dip/dip)

Keyword