Indonesia Pernah Mesra dengan Korea Utara

Oleh: Petrik Matanasi - 21 Februari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Kini, seorang warga Indonesia disebut-sebut terkait dengan pembunuhan keluarga pembesar Korea Utara, Kim Jong Nam. Dulu, di masa Sukarno, Indonesia punya hubungan mesra dengan negara tertutup itu.
tirto.id - Korea Utara adalah negara sunyi. Itu satu hal yang diingat Grace Walandauw setelah sempat tinggal di ibukota Korea Utara, mendampingi suaminya, Hartono, yang jadi Duta Besar Berkuasa penuh untuk Korea Utara sejak 8 November 1968 hingga Januari 1970. Sebelum menjadi duta besar di Korea Utara, Hartono yang Sukarnois itu menjabat Panglima KKO Marinir. Di masa ia memimpin itulah KKO menjadi besar, punya banyak personel dan persenjataan.

“Tidak ada apa-apa di sana,” ingat Grace.

Tak ada tempat berlibur. Jika ingin mengunjungi sebuah daerah, harus mendapat izin dari penguasa militer setempat. Walaupun sudah punya izin, jika mendadak tempat itu dijadikan tempat latihan militer, izin itu tak akan ada artinya. Keempat putrinya yang masih kecil-kecil tentu saja butuh piknik. Padahal selama di Indonesia, tempat piknik bukan hal sulit untuk mereka.

Sialnya lagi, sebagai ibu-ibu yang sering membikin kue tart, dirinya merasa kesulitan. Bahan membuat kue tart tak ditemukan di Pyongyang, ibukota Korea Utara. Grace akan bingung jika ada yang akan berulang tahun di rumah.

Korea Utara adalah negara yang dianggap misterius. Karena tertutup, testimoni orang-orang yang pernah tinggal di sana seperti Grace Walandauw menjadi sumber informasi.

Jangankan berbicara soal ada apa di Korea Utara, ketika itu, pergi ke Korea Utara bukan hal mudah. Tak ada pesawat langsung dari Jakarta yang terbang langsung ke arah Pyongyang. Perjalanan udara dengan pesawat harus memutar melewati Moskow, yang kala itu jadi ibukota Uni Soviet, untuk menunggu pesawat ke Indonesia. Tak tiap hari ada jadwal penerbangan dari Pyongyang ke Moskow, hanya seminggu sekali.

Jauh dan sulitnya penerbangan Jakarta ke Pyongyang itu jadi masalah bagi Grace ketika Januari 1970, Hartono meninggal tiba-tiba di Jakarta. Ketika Grace dan anak-anaknya tiba di Jakarta, Hartono sudah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Grace butuh waktu hampir dua minggu untuk mencapai Jakarta dari Pyongyang.

Hartono adalah orang Indonesia kedua yang dikirim ke Korea Utara sebagai duta besar. Duta besar ebelumnya adalah Ahem Erningpradja. Sebelum Ahem, di Pyongyang hanya aja konsulat Republik Indonesia saja. Menurut situs Kementerian Luar Negeri, www.kemlu.go.id, sejarah hubungan diplomatik Indonesia diawali dengan persetujuan nota pembukaan hubungan konsuler pada tahun 1961. Tahun-tahun di mana Soekarno dekat dengan negara-negara Blok Timur seperti Uni Soviet atau Republik Rakyat Tiongkok.

Konsulat Jenderal RI di Pyongyang baru berdiri di bulan Pebruari 1964, dengan Sufri Yusuf selaku Konjen. Di akhir tahun 1964, setelah kunjungan Sukarno ke Pyongyang dari 1 hingga 4 November 1964, barulah perwakilan RI di Pyongyang meningkat menjadi Kedutaan Besar RI. Duta Besar RI pertama di sana adalah Ahem Erningpradja, sejak 1965 hingga 1968.

Setelah kunjungan Sukarno ke Pyongyang di akhir tahun 1964, Presiden Korea Utara Kim Il Sung melakukan kunjungan balasan pada 13 April 1965. Dalam kunjungan itu, Soekarno mengajak Kim Il Sung untuk berkeliling Kebun Raya Bogor. Ketika itulah mereka mereka melihat bunga warna merah muda dari jenis anggrek.

Menurut cerita dari Pyongyang dalam buku Korea pada Abad ke-20: 100 Kejadian Penting, Kim Il Sung tertarik pada tertarik pada bunga itu, dan Sukarno tahu itu. Sukarno bilang ke Kim, bunga itu belum bernama. Sukarno sempat menawarkan agar bunga itu dinamai menurut nama Kim Il Sung. Namun, Kim Il Sung menolak tawaran Sukarno. Sukarno agak memaksa, jadilah bunga itu bernama Kimilsungia.

Infografik Romantisme


Setelah rezim Sukarno tugur, hubungan Korea Utara dengan Indonesia yang semakin antikomunis menjadi lebih sepi. Bahkan, orang Indonesia yang sejak 1960 sudah di sana, yakni Gatot Wilotikto yang tak bisa pulang setelah 1965.

Selama Orde Baru, hubungan dengan Korea Utara mulai renggang. Meski begitu, Korea Utara tetap punya kantor kedutaan besar di Jakarta selama Orde Baru dan setelahnya. Agen intelijen mereka juga bercokol juga di sana. Menurut catatan Ken Conboy, dalam buku Intel: Menguak Takbir Dunia Intelijen Indonesia (2007), intel Korea Utara yang licin dan tak tersentuh intel Indonesia adalah lawan tangguh dari intel Indonesia di awal Orde Baru.

Usaha merekrut orang Indonesai sebagai agen mereka bukan hal aneh. Seseorang yang dekat dengan PKI atau mahasiswa yang skripsinya tentang reunifikasi Korea juga pernah berusaha direkrut. Orang ini pernah diminta memberi data soal tim olimpiade Indonesia yang hendak berlaga di Korea Selatan. Keberadaan mata-mata dengan kedok diplomatik sudah hal biasa.

Ho Chang Gon, adalah salah satu diplomat Korea Utara yang sering mengintai Bakin. Suatu kali, ia sempat menanyakan nomor telepon Kepala Bakin Sutopo Yuwono. Kemudian, timbul miskomunikasi antara Ho yang bahasa Inggrisnya buruk dengan orang Bakin yang menelepon Ho.

“Apa ini 49606?” tanya anggota Bakin dalam bahasa Indonesia.

Ho menjawab dalam bahasa Inggris, “Bukan, ini 49606.” Si anggota Bakin lalu menjelaskan, “ini dari Bakin.”

Ho yang tak tahu bahwa yang meneleponnya adalah lembaga intelijen Indonesia, menyahut, “Siapa itu Bapak Kin? Ini kedutaan Korea!”

Begitulah di zaman Orde Baru. Belakangan, hubungan Korea Utara dengan Indonesia terbuka lagi setelah Soeharto tumbang. Korea Utara kini menjadi pembicaraan lagi di masyarakat, terkait adanya warga Indonesia bernama Siti Aisyah yang diduga terlibat pembunuhan Kim Jong Nam pada 13 Februari 2017 lalu.

Baca juga artikel terkait KOREA UTARA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight