Indikator Ekonomi Juli Masih Lemah, RI Kian Mendekati Resesi

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 27 Agustus 2020
Dibaca Normal 2 menit
Indonesia selangkah lebih dekat mencapai tubir resesi ekonomi. Pertumbuhan Q3 sulit diharapkan membaik.
tirto.id - Indonesia semakin mendekati tubir resesi setelah pertumbuhan ekonomi kuartal III (Q3) 2020 diprediksi paling tinggi hanya bisa menyentuh 0%. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan “Q3 outlook-nya negatif 2 persen sampai 0 persen.”

Sebelumnya, pada 9 Juli, ia masih optimistis pertumbuhan di kisaran minus 1 sampai positif 1,2%.

Kegagalan mencapai 0% alias jatuh pada level minus akan melengkapi kontraksi yang terjadi pada Q2 2020--minus 5,32%. Dengan demikian, ini memenuhi syarat resesi teknikal: kontraksi pertumbuhan dua kuartal berturut-turut.

Untuk 'menyelamatkan' Q3, Sri Mulyani bilang pemerintah akan berupaya sekeras mungkin mencapai 0%, bahkan positif. Caranya menjaga dua indikator: konsumsi yang memiliki kontribusi 57,9% PDB dan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang kontribusinya 32,3% PDB.

“Kunci utamanya konsumsi dan investasi,” ucap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA, Selasa (25/8/2020).


Pada Q2 2020, pertumbuhan komponen konsumsi mencapai minus 5,51%, sementara PMTB lebih parah, minus 8,61%. Menurutnya, konsumsi harus tumbuh positif di Q3 dan PMTB setidaknya bisa tumbuh 0%. “Kalau konsumsi-investasi masih negatif growth, masih sangat sulit untuk masuk di zona netral 0%.”

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap mengatakan pertumbuhan negatif di Q3 2020 sulit terhindarkan, bahkan realisasinya berpotensi lebih buruk dari prediksi pemerintah.

Pada Q2 saja, pemerintah memberi batas bawah minus 5,1%, tetapi Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat minus 5,3%.

Alasan Manap memprediksi pertumbuhan negatif sulit terhindarkan karena pada Q3 nanti “dorongannya hampir tidak ada.”

Kasus COVID-19 di Indonesia yang terus naik dengan penambahan 2.000 kasus baru per hari menciptakan ketidakpastian untuk beraktivitas normal kembali.

Di sisi lain, realisasi anggaran penanganan COVID-19 juga masih relatif rendah. Data Kemenkeu mencatat per 19 Agustus 2020 realisasinya baru 25%. Meski belakangan pemerintah melakukan percepatan, Manap ragu lantaran keputusan itu baru diambil dengan sisa waktu 1,5 bulan jelang berakhirnya Q3 2020. Belum lagi, peran komponen itu sendiri hanya 8,67% dari PDB.

“Agak sulit kita berekspektasi memperkirakan ekonomi tidak turun signifikan di Q3,” simpul Manap saat dihubungi, Selasa (25/8/2020).


Ia pun tak heran bila berbagai indikator pertumbuhan ekonomi belum akan sepenuhnya pulih seperti harapan pemerintah di Q3, termasuk sisi konsumsi dan investasi yang menyumbang 80% komponen PDB Indonesia. Indikator konsumsi di Juli 2020 belum menunjukkan tanda perbaikan. Sri Mulyani bahkan menyebutnya stagnan atau flat dari periode sebelumnya.

Indeks Penjualan Riil Juli 2020 baru mencapai 194 poin, tak banyak membaik dari Juni 193,6 poin. Indeks keyakinan konsumen juga baru mencapai 86,2 poin, hanya sedikit membaik dari Juni 2020 83,8 poin. Angkanya masih di bawah 100 alias pesimistis. Indikator inflasi pada Juli 2020 juga justru menunjukkan pelemahan dengan deflasi 0,1% mtom, padahal Juni 2020 sempat terjadi inflasi 0,18%. Ini menandakan masih lemahnya permintaan.

Sejumlah Sektor Menurun

Menurut Manap, di tengah indikator konsumsi yang demikian, penggelontoran bantuan langsung bagi pekerja bergaji di bawah Rp5 juta bisa jadi tak banyak berdampak. Sebab konsumsi mungkin tak terjadi dan uang malah disimpan.

Bagaimana dengan investasi? Tren impor barang modal yang menjadi penentu nasib PMTB pada Juli 2020 justru menunjukkan tanda pelemahan meski sudah sempat membaik pada Juni 2020.

Impor barang modal Juli 2020 hanya tumbuh 10,82% mtom dan minus 29,25% yoy. Nilai ini melambat dari Juni 2020 yang sempat tumbuh 27,35% mtom dan 2,63% yoy. Bahkan, menurut Direktorat Jenderal Bea Cukai Kemenkeu, impor barang modal Juli 2020 hanya tumbuh 6,08% mtom. Secara yoy terkontraksi lebih dalam, minus 33,42%.

Realisasi investasi, menurutnya, diperburuk dengan penundaan belanja modal kementerian/lembaga ke tahun 2021 yang terlanjur sudah diputuskan pemerintah. Kebijakan ini memang sudah diakselerasi di 2020, tetapi Manap ragu lantaran Indonesia masih memiliki masalah birokrasi.

Jalan mencapai pertumbuhan positif juga tampak berat karena data Kemenkeu menunjukkan sejumlah indikator yang diyakini menggambarkan geliat ekonomi justru kembali melemah. Misalnya konsumsi listrik pada Juli tumbuh minus 2% padahal sempat membaik pada Juni dengan pertumbuhan positif 5,4% dari Mei minus 10,7%.


Aktivitas ekonomi lain seperti ekspor Juli tercatat hanya tumbuh 14,33%, melambat dari Juni 15,09% mtom. Secara yoy, pertumbuhannya lebih buruk menjadi minus 9,9%, padahal Juni tumbuh positif 2,28%.

Impor juga mengalami penurunan lagi di Juli menjadi minus 2,73% mtom dan minus 32,55% yoy, padahal pada Juni sempat tumbuh 27,56% mtom dan minus 6,36% yoy.

Data penerimaan pajak Kemenkeu juga telah membunyikan alarm pelemahan aktivitas di Juli setelah membaik pada Juni. Pertumbuhan penerimaan sektor perdagangan Juni sempat membaik dari minus 40,66% menjadi minus 19,93%, namun sebulan kemudian turun lagi menjadi minus 27,34%.

Transportasi pergudangan juga sempat membaik dari minus 23,75% menjadi positif 9,63% Juni 2020. Namun Juli 2020 tumbuh minus lagi 20,93%.

Atas semua data ini, Indonesia “saya pikir akan mengarah ke resesi,” simpul Manap.

Baca juga artikel terkait RESESI EKONOMI atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Reja Hidayat
DarkLight