Hubert de Givenchy, Perancang Busana Audrey Hepburn Tutup Usia

Oleh: Yulaika Ramadhani - 13 Maret 2018
Dibaca Normal 1 menit
Hubert de Givenchy, perancang busana kenamaan asal Prancis tutup usia pada Senin (12/3/2018) dalam usia 91 tahun
tirto.id - Hubert de Givenchy, perancang busana kenamaan asal Prancis yang rancangannya pernah dipakai Jacqueline Kennedy dan Audrey Hepburn tutup usia pada Senin (12/3/2018) dalam usia 91 tahun.

Berdasarkan laporan Reuters, label pakaian Givenchy mengumumkan kabar meninggalnya desainer kenamaan ini, namun tidak menjelaskan penyebab kematiannya.

Desainer yang merupakan pendiri rumah mode Givenchy pada tahun 50an ini pertama kali memamerkan karyanya di Paris pada usia 24, karyanya identik dengan rancangan yang glamor. Koleksi pertamanya yang keluar pada 1952 mencapai 7 juta franc (sekitar 1 juta euro) saat itu.

Diantara para perempuan yang pernah memakai karyanya, yang paling setia adalah Audrey Hepburn, memakai rancangannya selama tiga dekade setelah mereka berkolaborasi pada 1963.

Givenchy mendandani Hepburn di “Breakfast at Tiffany’s”, “Sabrina”, “Funny Girl”, “Charade”, “How to Steal a Million” dan “Bloodline”.

Dia mendedikasikan parfum “L’Interdit” untuk Hepburn, bahkan saat Givenchy mendapatk Lifetime Achievement Award dari California pada 1988, sahabatnya itu turut hadir di upacara penghargaan.

Jacqueline Kennedy memakai salah satu rancangannya saat pemakaman Presiden John. F. Kennedy pada 1963. Gaun rancangan Givenchy juga pernah dipakai bintang film Grace Kelly, yang belakangan menjadi Putri Monaco.

Hingga saat ini, merk Givenchy tetap bertabur bintang. Di bawah Riccardo Tisci (yang baru-baru ini pindah ke Burberry), merk ini sering dipakai keluarga Kardashian dan pernah mendapat sambutan meriah di dunia maya saat fashion week di Paris.

Setelah 30 tahun, dia menjual labelnya ke ke grup LVMH Moet Henessy-Louis Vuitton pada 1988, tetap berada di grup tersebut hingga pensiun pada 1995.

Ia lahir di keluarga ningrat pada 21 Februari 1927. Mulanya ia diharapkan menjadi pengacara. Givenchy muda sempat belajar mengenai hukum, namun, karena atmosfer pemberontakan menyusul Perang Dunia II, dia akhirnya masuk sekolah seni Ecole des Beaux-Arts di Paris. Dia pindah ke Paris pada usia 17.

Hingga kemudian, Givenchy tertarik melihat kain tekstil berkelas yang dipajang di rumah kakek dari pihak ibu. Sang kakek saat itu menjadi petinggi di industri karpet Beauvais dan Goblin dan gemar mengoleksi bahan tekstil berkualitas.

Givenchy terkesan dengan Cristobal Balenciaga, yang saat itu menjadi pemimpin perancang Paris. Sebelum membuat desainnya sendiri, ia magang ke Jacques Fath, Robert Piguet dan Elsa Schiarapelli.

Setelah debutnya menuai sukses, Givenchy pergi ke New York untuk meraih pasar Amerika. Di sana, akhirnya ia bertemu Balenciaga dan bersahabat karib hingga perancang dari Spanyol itu meninggal pada 1972.

“Balenciaga yang mengajari semua yang saya tahu sekarang. Dia bilang perhatikan detail, tidak perlu pasang kancing kalau tidak digunakan, atau tambah bunga supaya gaun terlihat cantik… Tidak ada detail yang mubazir,” begitu Givenchy sering berkata mengenai sahabatnya.

Baca juga artikel terkait BUSANA atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Yulaika Ramadhani
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yulaika Ramadhani