Hernia, Penyakit yang Bisa Menyerang Anak Hingga Orang Dewasa

Oleh: Maria Ulfa - 17 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Jenis hernia yang paling banyak diderita di Indonesia adalah hernia inguinal.
tirto.id - Penyakit hernia di Indonesia menempati urutan kedelepan dengan jumlah 18.145 kasus pada 2004. Menurut bank data Kementerian Kesehatan, 273 orang di antara jumlah tersebut meninggal dunia.

Dikutip dari penelitian Siti Aisyah, Andri Dwi Hermawan, dan Sutirswanto berjudul Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Penyakit Hernia Inguinal pada Laki-Laki di Rumah Sakit Umum Dr. Soedarso Pontianak, orang yang meninggal karena penyakit ini disebabkan karena ketidak berhasilan proses pembedahan terhadap hernia itu sendiri.

Dari total tersebut, 15.051 di antaranya terjadi pada pria dan 3.094 kasus terjadi pada wanita. Sedangkan untuk pasien rawat jalan, hernia masih menempati urutan ke-8. Dari 41.516 kunjungan, sebanyak 23.721 kasus adalah kunjungan baru dengan 8.799 pasien pria dan 4.922 pasien wanita.

Hernia bisa juga menimpa bayi dan anak-anak. Berikut ini sejumlah penyebab, gejala, dan cara mengobati hernia.

Apa itu Hernia?

Dilansir dari Cleveland Clinic, hernia adalah kondisi yang terjadi ketika sebagian atau keseluruhan dari organ atau jaringan (misalnya usus) menonjol ke daerah-daerah yang tidak biasa. Bagian organ tersebut muncul melalui bukaan atau area lemah dalam dinding otot, sehingga muncul tonjolan atau benjolan.

Jenis hernia yang paling umum adalah inguinal (selangkangan bagian dalam), insisional (dihasilkan dari sayatan), femoralis (selangkangan luar), pusar (pusar), dan hiatal (perut bagian atas).

Jika hernia hanya muncul karena tekanan atau regangan, maka kondisi tersebut dikenal dengan hernia yang dapat direduksi (reducible hernia) dan tidak berbahaya. Sementara jaringan yang terjebak dalam bukaan atau ruang dan tidak dapat kembali lagi dinamakan hernia yang tertahan (incarcerated hernia) dan merupakan masalah serius.

Hernia strangulasi adalah jenis hernia yang paling berbahaya, karena jaringan yang terjebak bisa kehilangan suplai darah dan akhirnya mati.

Penyebab Hernia

Dilansir dari Web MD, hernia disebabkan kombinasi tekanan dan pembukaan atau kelemahan otot atau fasia. Tekanan mendorong organ atau jaringan melalui lubang atau titik lemah. Kadang-kadang kelemahan otot sudah ada sejak lahir, dan atau bisa terjadi di kemudian hari.

Selain itu, apa pun yang menyebabkan peningkatan tekanan di perut dapat menyebabkan hernia, di antaranya:
  • Mengangkat benda berat tanpa menstabilkan otot perut.
  • Diare atau sembelit.
  • Batuk terus-menerus atau bersin.
Selain itu, obesitas, gizi buruk, dan merokok dapat melemahkan otot dan menyebabkan hernia lebih mungkin terjadi.

Gejala Hernia

Hernia di perut atau selangkangan dapat menghasilkan benjolan atau tonjolan yang nyata yang dapat didorong kembali, atau yang dapat hilang ketika berbaring. Tertawa, menangis, batuk, mengejan saat buang air besar, atau aktivitas fisik dapat membuat benjolan muncul kembali setelah didorong. Gejala hernia meliputi:
  • Pembengkakan atau tonjolan di selangkangan atau skrotum (kantong yang berisi testikel).
  • Nyeri meningkat di tempat tonjolan.
  • Nyeri saat mengangkat.
  • Tonjolan membesar seiring waktu.
  • Rasa sakit amat sangat.
  • Rasa kenyang atau tanda-tanda obstruksi usus.
Dalam kasus hernia hiatal tidak ada tonjolan di bagian luar tubuh. Tetapi gejala-gejala mungkin termasuk sakit maag, gangguan pencernaan, kesulitan menelan, sering mengalami regurgitasi dan nyeri dada.

Faktor Penyebab Hernia

Faktor-faktor yang berkontribusi mengembangkan hernia inguinal, seperti dilansir dari Mayo Clinic, sebagai berikut:
  • Jenis kelamin, pria delapan kali lebih mungkin mengembangkan hernia inguinal daripada wanita.
  • Orang tua, otot melemah seiring pertambahan usia.
  • Berkulit putih.
  • Riwayat keluarga. Anda memiliki kerabat dekat, seperti orang tua atau saudara kandung, yang pernah mengalami hernia.
  • Batuk kronis, seperti efek merokok.
  • Konstipasi kronis, sembelit menyebabkan tegang saat buang air besar.
  • Kehamilan, hamil dapat melemahkan otot-otot perut dan menyebabkan peningkatan tekanan di dalam perut Anda.
  • Kelahiran prematur dan berat badan bayi yang lahir sangat rendah.
  • Mengalami hernia inguinalis sebelumnya atau perbaikan hernia. Bahkan jika hernia Anda sebelumnya terjadi pada masa kanak-kanak, Anda berisiko lebih tinggi mengembangkan hernia inguinalis lain.

Cara Mengobati Hernia

Cara pengobatan atau perawatan hernia, tergantung pada ukuran hernia dan tingkat keparahan gejalanya. Dokter mungkin hanya memantau hernia Anda untuk kemungkinan komplikasi. Pilihan pengobatan untuk hernia adalah melalui perubahan gaya hidup, pengobatan, atau operasi/pembedahan, seperti yang dilansir dari Healthline.
  • Perubahan gaya hidup
Perubahan pola makan dapat mengobati gejala hernia hiatal, tetapi tidak akan membuat hernia hilang. Hindari makanan besar atau berat, jangan berbaring atau membungkuk setelah makan, dan pertahankan berat badan dalam kisaran yang sehat.

Latihan-latihan tertentu dapat membantu memperkuat otot-otot di sekitar situs hernia, yang dapat mengurangi beberapa gejala. Namun, latihan yang dilakukan dengan tidak benar dapat meningkatkan tekanan di daerah itu dan sebenarnya dapat menyebabkan hernia membengkak lebih banyak. Sebaiknya diskusikan latihan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan kepada dokter.

Jika perubahan ini tidak menghilangkan ketidaknyamanan tersebut, mungkin perlu pembedahan untuk menyembuhkan hernia.

Gejala juga dapat dihindari dengan makanan yang menyebabkan refluks asam atau sakit maag, seperti makanan pedas dan makanan berbasis tomat. Selain itu, hindari refluks asam dengan menurunkan berat badan dan berhenti merokok.
  • Obat
Jika memiliki hernia hiatal, obat-obatan yang dijual bebas dan diresepkan yang mengurangi asam lambung dapat meredakan ketidaknyamanan dan memperbaiki gejala hernia, di antaranya These include antacids, H-2 receptor blockers, dan proton pump inhibitors.
  • Operasi
Jika hernia bertambah besar atau menyebabkan rasa sakit, dokter mungkin memutuskan untuk mengambil tindakan operasi.

Operasi terbuka membutuhkan proses pemulihan yang lebih lama. Yang memungkinkan tidak dapat bergerak normal selama enam minggu setelah operasi. Operasi laparoskopi memiliki waktu pemulihan yang jauh lebih singkat, tetapi risiko hernia kambuh menjadi lebih tinggi. Namun, tidak semua hernia cocok untuk operasi laparoskopi.

Baca juga artikel terkait HERNIA atau tulisan menarik lainnya Maria Ulfa
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Maria Ulfa
Editor: Dipna Videlia Putsanra