Gerilya Xanana Gusmao & Sejarah Hari Integrasi Timor Timur 17 Juli

Oleh: Iswara N Raditya, Elvinda Farhaniyatus Saffana - 16 Juli 2021
Dibaca Normal 3 menit
Xanana Gusmao merupakan tokoh sejarah kemerdekaan Timor Timur yang kemudian menjadi presiden pertama Timor Leste.
tirto.id - Xanana Gusmao merupakan tokoh sejarah kemerdekaan Timor Timur. Usai Timor Timur lepas dari Indonesia dan resmi berdiri sebagai negara sendiri sejak 2002 dengan nama Timor Leste, Xanana Gusmao menjadi presiden pertamanya dan menjabat hingga 2007.

Setelah itu, Xanana Gusmao duduk sebagai Perdana Menteri Timor Leste sampai 2015, sementara posisi presiden dilanjutkan oleh José Ramos-Horta. Xanana Gusmao juga pernah menempati sejumlah posisi menteri, yang terakhir adalah Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis sejak 2018 lalu.

Ia dilahirkan di Laleia, Manatuto, Timor, pada 20 Juni 1946 dengan nama Jose Alexandre Gusmao yang kemudian mendapat julukan "Kay Rala Xanana". Namanya pun pada akhirnya lebih dikenal sebagai Xanana Gusmao.

Geoffrey C. Gunn dalam First Globalization: The Eurasian Exchange 1500-1800 (2003) menuliskan, Xanana Gusmao merupakan sosok blasteran Timor dan Portugis. Saat ia lahir, wilayah Timor diduduki oleh Portugis sebelum akhirnya direbut oleh militer Indonesia pada 17 Juli 1976.

Tanggal 17 Juli 1976 inilah yang kemudian dikenal sebagai Hari Integrasi Timor Timur sebagai awal "bergabungnya" kawasan ini dengan NKRI.


Sejarah Awal "Perjuangan"

Pada 1974-1975, Xanana Gusmao bergabung dengan Frente Revolucionario de Timor Leste Independente (Fretilin) pimpinan Xavier do Amaral dan Jose Ramos-Horta. Fretilin merupakan salah satu dari 3 faksi yang berpengaruh di Timor Timur kala itu.

Selain Fretilin, terdapat pula Partai Uniao Democratica Timorense (UDT) dan Associacao Popular Democratica de Timor (Apodeti).

UDT menginginkan Timor Timur tetap menjadi koloni Portugal, Fretilin menghendaki kemerdekaan dan menjadi negara sendiri, sedangkan Apodeti ingin agar Timor Timur bergabung dengan Indonesia.

Harapan Xanana Gusmao bersama Fretilin yang ingin memerdekakan Timor Timor kandas setelah wilayah ini bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak 1976 dan menjadi provinsi ke-27 alias provinsi termuda.

Operasi Seroja yang dilancarkan militer Indonesia terus berlangsung hingga 1977. Menurut catatan John G. Taylor dalam Perang Tersembunyi: Sejarah Timor Timur yang Dilupakan (1998), sekitar 100.000 orang tewas akibat invasi tersebut.

Namun, Xanana Gusmao tetap bergerilya. Ia bergabung dengan Forcas Armadas de Libertacao Nacional de Timor Leste (Falintil) yang semula merupakan sayap militer Fretilin. Masa-masa inilah ia memakai nama samaran Kay Rala Xanana.


Memimpin Gerilya Terhadap RI

Tahun 1978, Xanana Gusmao menjadi panglima Falintil. Ia menggantikan Nicolau des Reis Lobato yang tewas dalam konflik melawan pasukan bersenjata Indonesia. Seiring tumpasnya satu demi satu pemimpin Falintil, Xanana Gusmao kemudian ditunjuk sebagai pemimpin.

Dikutip dari buku East Timor at the Crossroads (1995) suntingan Peter Carey dan G. Carter Bentley, Falintil sejak 1987 telah berganti rupa menjadi Angkatan Bersenjata Pembebasan Nasional dan tidak lagi berfungsi sebagai sayap bersenjata dari Fretilin.

Dengan kata lain, Falintil, termasuk ketika dipimpin oleh Xanana Gusmao, telah menjelma menjadi pasukan yang bersifat nasional dan non-politik, kendati tetap menghendaki Timor Timur menjadi negara merdeka, salah satunya dengan cara perjuangan gerilya.

Aksi gerilya Falintil di bawah pimpinan Xanana Gusmao dari hutan ke hutan dipandang sebagai gerakan pengacau keamanan oleh militer Indonesia. Namun, ia berkali-kali lolos dari kejaran.

Saat polemik dengan militer Indonesia sedang panas-panasnya, Xanana Gusmao selalu melarang anak buahnya membunuh tawanan yang mereka tahan. Ia selalu bersikap baik kepada para tahanan, termasuk prajurit Indonesia yang mereka tangkap.


Presiden Timor Leste Pertama

Xanana Gusmao kerap muncul di media internasional pada dekade awal 1990-an, terutama setelah pembantaian di Santa Cruz, Dili, tanggal 12 November 1991. Xanana Gusmao mulai menyuarakan tentang kemanusiaan dan perdamaian.

November 1992, Xanana Gusmao ditangkap oleh pemerintah Indonesia. Arsip Amnesty International (2007) menyebutkan bahwa ia diadili pada Mei 1993 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas pasal pemberontakan, kepemilikan senjata api secara tidak sah, dan berusaha memisahkan sebagian wilayah Indonesia.

Pada akhirnya, hukuman yang harus dijalani Xanana Gusmao diturunkan menjadi 20 tahun penjara setelah mendapat keringanan dari Presiden RI kala itu, Soeharto.

Setelah rezim Orde Baru pimpinan Soeharto runtuh pada 1998 dan digantikan oleh B.J. Habibie, Xanana Gusmao dibebaskan pada 7 September 1999.

Sebelumnya, tanggal 30 Agustus 1999 telah dilakukan jajak pendapat rakyat Timor Timur. PBB mengumumkan bahwa 78,5 persen rakyat Timor Timur menolak otonomi RI, 21 persen menerima otonomi, sisanya tidak sah.


Dengan demikian, Indonesia harus melepaskan Timor Timur. Sejak 20 Mei 2002, Timor Timur resmi menjadi negara merdeka dengan nama Timor Leste. Xanana Gusmao dilantik menjadi presiden pertamanya.

Ia berkuasa hingga tahun 2007, kemudian digantikan oleh Jose Ramos-Horta. Setelah lengser dari jabatan presiden, Xanana Gusmao menjadi Perdana Menteri Timor Leste sejak 8 Agustus 2007.

Jabatan ini berlangsung cukup lama dan melewati berbagai dinamika politik. Selain itu, Xanana Gusmao merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Timor Leste selama hampir 2 periode.

Xanana Gusmao mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri serta Menteri Pertahanan dan Keamanan pada 6 Februari 2015.

Namun, Xanana Gusmao tidak lantas menyingkir dari pemerintahan. Terbentuknya kabinet baru sejak 16 Februari 2015 menyertakan namanya sebagai Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis Timor Leste yang masih diemban hingga kini.


Baca juga artikel terkait HARI INTEGRASI TIMOR TIMUR atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya & Elvinda Farhaniyatus Saffana
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Elvinda Farhaniyatus Saffana
Penulis: Iswara N Raditya & Elvinda Farhaniyatus Saffana
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight