Kolumnis
Peneliti sosiologi. Bergiat di Koperasi Riset Purusha

Garang di Jalanan, Gagal di Kehidupan

Kolumnis: Geger Riyanto
31 Januari, 2017dibaca normal 3 menit
Geng Berlan menembak dan memukuli aktivis yang memprotes pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Waktu itu, proyek TMII Ibu Tien memang tengah menjadi sorotan. Pembangunannya dianggap sebagai pemborosan. Proses pembebasan lahannya diduga melanggar hak sipil. Banyak pihak menduga Geng Berlan tak lain disewa Ibu Tien untuk mematahkan semangat para aktivis.

Soemitro, Pangkopkamtib saat itu, menyatakan bahwa insiden memalukan tersebut merupakan ulah komplotan anti-TMII yang berusaha mengacaukan pembangunannya. Ia menginstruksikan komando-komando militer membasmi geng-geng dan menyelamatkan anak-anak muda dari pengaruh buruknya. Apabila Anda salah satu orang yang gemas terhadap ketidaktegasan pemerintah menghadapi ormas, Anda mungkin senang dengan apa yang terjadi di masa ini. Aparat menggerebek perkumpulan yang meresahkan warga di daerah-daerah. Mereka menangkap para anggotanya satu per satu, agar warga merasa lebih aman.

Ketika ribuan anak muda anggota ormas itu dikumpulkan dalam sebuah upacara, salah seorang perwakilannya mengatakan bahwa mereka anak yang terlunta karena ditinggal orang tua. Kebanyakan mereka tak menikmati kehidupan senyaman pemuda-pemuda pada umumnya. Seorang perwakilan lain menuntut negara memberi mereka pekerjaan. Jika ada pekerjaan, mereka tak akan punya alasan berbuat kriminal. Masuk akal.

Apakah anak muda yang telah menemukan kekerasan sebagai cara terbaik untuk meningkatkan derajatnya itu akan kembali menjadi warga baik-baik? Setelah ormasnya dibubarkan, apakah mereka kehilangan akses dan jaringannya?

Apa yang terjadi selanjutnya adalah dimulainya satu praktik ganjil yang terus kita jumpai hingga hari ini. Anak muda itu tetap diperkenankan berkumpul, tapi dengan wadah kelab olahraga, pecinta alam, dan mereka dibina oleh petinggi-petinggi militer. Mereka tetap melakukan aktivitasnya menjaga “keamanan” kampung-kampung. Ditambah, ada “petinggi” yang “memberdayakan” mereka di saat diperlukan.

Serangkaian peristiwa tersebut berkata banyak. Negara bisa membredel ormas bila mereka mau. Negara bisa menguras anggarannya habis-habisan untuk membiayai operasi-operasi penumpasan. Namun, pada dasarnya, hal tersebut tak berdampak banyak. Apa yang dihadapinya bukanlah semata para pelanggar hukum, melainkan sebuah kondisi struktural yang akut.

Dan faktanya, dari dulu sampai hari ini, satu hal yang tak pernah berganti dari ormas adalah anggotanya yang mayoritas terdiri dari kelompok kaum miskin kota. Mantel identitas kelompok ini bisa berbeda dari waktu ke waktu. Pada satu waktu, patriotisme. Pada waktu lain, anti komunisme. Setelahnya, Islam serta keputradaerahan. Akan tetapi, Anda tetap akan menemukan orang-orang dari kelas yang sama yang menjadi roda penggeraknya—mereka yang merogohi semua tempat, semua lubang, semua kesempatan untuk merangkak keluar dari teror kemiskinan.

Sebagian anggota Forum Betawi Rempug, misalnya, berasal dari kelompok orang-orang yang mencari setiap kesempatan yang bisa mereka raih untuk menjamin kepastian hidupnya. Rudy, anggota FBR yang diwawancara Grace Tjandra Laksana pada 2008, mengaku, ia tak pernah memperoleh pekerjaan yang menjanjikan sebelumnya. Ia sadar, ia tak bisa berharap banyak tanpa koneksi orang dalam maupun gelar pendidikan. Ia pun bergabung dengan FBR. Beberapa waktu berselang, ia mendapatkan pekerjaan sebagai satpam sebuah perusahaan.

Kawan-kawan Rudy, yang juga anggota FBR, Dede dan Yono, sama-sama sadar, orang-orang seperti mereka tak punya harapan memperoleh penghidupan yang pantas bila berdiri sendiri. Mereka harus menggalang diri dengan rekan-rekan sepenanggungan untuk berjuang bersama (Grace Tjandra Laksana, Urban Youth, Marginalization and Mass Organization: Involvement in the Betawi Brotherhood Forum in Jakarta, 2008).

Lima dekade silam, Pemuda Patriotik, ormas underbow Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia yang didirikan A. H. Nasution, memperoleh anggotanya dengan cara yang familiar dengan pemandangan di atas. Berkat sejumlah elitenya yang duduk di kabinet, mereka memiliki jatah sejumlah proyek konstruksi di Senayan. Mereka pun memanfaatkannya untuk merekrut para pemuda pengangguran di Pasar Senen. Para pemuda ini bukan hanya dipekerjakan, melainkan juga didaftarkan menjadi anggota partai yang sedia dimobilisasi kapan saja di mana saja.

Kita masih bisa menunjuk berbagai ormas yang mentereng dengan lelaku kekerasannya dan tak akan menemukan fakta lain perihal anggotanya. Anggota ormas-ormas ini kebanyakan anak muda kota marginal. Amfibi, ormas terbesar di NTB, 80 persen dari anggotanya berusia di bawah empat puluh tahun dan pendidikannya tidak lebih tinggi dari Sekolah Dasar. Gerakan Pemuda Ka'bah, ormas Islam yang sohor di Yogyakarta, 90 hingga 95 persen anggotanya merupakan jebolan SMA, tak punya pekerjaan tetap, dan sebagian besarnya berusia di bawah tiga puluh tahun.

Coba perhatikan BAP Novel Bamukmin—selain bagian ia pernah bekerja untuk “Fitsa Hats.” Novel bukan orang yang berpunya. Namun, ia mendapatkan kehidupan yang lebih baik serta—mungkin yang lebih penting—dihormati sejak ia "konsentrasi ke dakwah" pada 2006. Dari sana, ia mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan kuliahnya, bahkan melanjutkan ke jenjang pascasarjana. Dari sana, ia memperoleh jabatan di sebuah organisasi yang, kendati tak selalu disukai, tak bisa ditampik pengaruhnya. Dari sana, ia memperoleh kedudukan sebagai sesosok habib.

Pada titik ini, saya kira, para pejabat negara terlampau bersemangat ketika tempo hari menegaskan siap berhadapan dengan ormas-ormas. Benang kusut ormas pengecer kekerasan di Indonesia bukan perkara yang dapat diurai dengan unjuk kekuatan.

Barangkali, memang, kita tak dapat mengurai persoalan ini sepanjang mata kita hanya terpaku kepada penampilan mereka yang mengintimidasi—yang membuat kita berpikir ia hanya bisa dihadapi dengan kegarangan yang lebih. Toh, itu hanya seragam mereka untuk mencari nafkah. Persona yang mereka tampilkan agar partai dan pejabat mau merekrut mereka, pedagang dan warung mau membayar uang keamanan.

Kenyataannya? Kenyataannya, mereka adalah orang-orang yang tak berhasil. Orang-orang yang terpuruk. Orang-orang yang, dalam ungkapan mengena seorang kawan, “garang di jalanan, gagal di kehidupan.”

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

Keyword