Menuju konten utama

Freezer Pangkalan Militer AS Diduga Diretas, Stok Makanan Rusak

Freezer di enam toko pangkalan militer AS mengalami gangguan hingga makanan rusak. Pentagon menyelidiki dugaan serangan siber yang terkait kasus di Prancis.

Freezer Pangkalan Militer AS Diduga Diretas, Stok Makanan Rusak
Pesawat Boeing KC-135R Stratotanker milik Angkatan Udara AS di pangkalan militer AS di Adana, Turki. REUTERS/Murad Sezer
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejumlah freezer (lemari pembeku) dari enam commissary (toko kebutuhan pangan pangkalan militer) Amerika Serikat (AS) mengalami gangguan yang belum diketahui penyebabnya pada akhir Agustus 2026.

Insiden tersebut menyebabkan persediaan makanan rusak setelah sistem pendingin diduga diubah oleh peretas sehingga suhu di dalam freezer meningkat.

Commissary adalah istilah untuk toko di dalam pangkalan militer tempat personel militer membeli bahan pangan. Salah satu unit freezer dalam commissary dilaporkan masuk ke mode pencairan es atau defrost dan memanaskan seluruh makanan yang disimpan.

Departemen Pertahanan AS atau Pentagon kini menyelidiki rangkaian gangguan tersebut sebagai dugaan serangan siber. Penyelidik militer AS juga telah menjalin komunikasi dengan aparat Prancis untuk mempelajari serangan serupa yang mengganggu pengoperasian sistem pendingin di ratusan supermarket di negara itu pada Oktober 2026.

Kronologi Gangguan Freezer di Pangkalan Militer AS

Gangguan freezer di sejumlah pangkalan militer AS mulai terungkap pada akhir Agustus 2026. Berdasarkan penelusuran Reuters terhadap unggahan Facebook dan pembaruan situs web sejumlah pangkalan militer, sedikitnya enam toko commissary terdampak.

Salah satu insiden terjadi di Fort Huachuca, Arizona. Pada 26 Agustus 2026, akun Facebook pangkalan tersebut mengumumkan bahwa freezer mereka mengalami gangguan hingga masuk ke mode defrost. Suhu di dalam freezer meningkat hingga makanan rusak sehingga persediaan tersebut tidak lagi layak dikonsumsi.

Dalam pengumumannya, pihak Fort Huachuca menggambarkan makanan yang terdampak sebagai barang yang telah rusak. Gangguan tersebut bukan sekadar membuat freezer berhenti beroperasi, melainkan diduga melibatkan perubahan pengaturan suhu yang menyebabkan sistem pendingin bekerja secara berlawanan dari fungsi normalnya.

Hingga laporan Reuters diterbitkan pada Jumat (29/10/2026), belum diketahui secara pasti sejauh mana penyelidikan Pentagon terhadap dugaan adanya sabotase siber pada insiden itu telah berjalan.

Pentagon Selidiki Dugaan Serangan Siber

Pentagon mengonfirmasi bahwa unit dari Komando Siber AS atau US Cyber Command terlibat dalam penanganan kasus tersebut. Dalam keterangannya, Pentagon menyebut unit itu bekerja sama secara erat dengan sejumlah lembaga pemerintah dan aparat penegak hukum.

Divisi Investigasi Kriminal Angkatan Darat AS menyatakan bahwa Kantor Lapangan Siber mereka turut terlibat dalam penyelidikan. Lembaga tersebut juga bekerja sama dengan aparat penegak hukum Prancis untuk memahami lebih jauh gangguan sistem pendingin yang terjadi di Eropa.

Kerja sama dengan Prancis dilakukan karena negara tersebut sebelumnya mengalami serangan siber terhadap sistem pendingin komersial. Penyelidik AS berupaya mempelajari pola serangan di Prancis dan membandingkannya dengan gangguan freezer yang terjadi di pangkalan militer AS.

Meski demikian, belum ada kepastian bahwa kedua rangkaian insiden tersebut dilakukan oleh kelompok yang sama.

Serangan Serupa Lumpuhkan Freezer Ratusan Supermarket di Prancis

Dugaan serangan siber terhadap freezer pangkalan militer AS mencuat ketika Prancis juga menghadapi gangguan sistem pendingin di sejumlah supermarket pada Oktober 2026.

Serangan tersebut terjadi pada malam 11 Oktober dan dilaporkan memengaruhi lebih dari 350 lokasi usaha. Peretas diduga berhasil mengakses sistem pengendali pendingin komersial, kemudian mengubah pengaturan suhu hingga sejumlah lemari pendingin dan freezer masuk ke mode pencairan es.

Dalam beberapa kasus, suhu perangkat meningkat hingga sekitar 50 derajat Celsius selama kurang lebih enam jam. Kondisi tersebut membuat berbagai produk makanan, termasuk daging, sayuran, dan makanan beku, tidak dapat dipertahankan kualitasnya sehingga harus dibuang.

Sejumlah jaringan supermarket besar di Prancis turut terdampak. Sekitar 150 gerai Intermarché dilaporkan mengalami gangguan, sedangkan kurang dari 100 gerai jaringan Coopérative U juga terkena dampaknya. Carrefour menyebut sekitar 80 dari total 6.000 lokasi tokonya terdampak. Sejumlah gerai Leclerc juga dilaporkan mengalami serangan.

Perusahaan Groupement Mousquetaires, pemilik Intermarche, menyatakan bahwa sistem pendingin yang terdampak diproduksi oleh perusahaan teknologi pendingin asal Denmark, Danfoss. Di sisi lain, Danfoss mengaku telah mengetahui insiden tersebut dan sedang bekerja sama dengan para pelanggannya untuk menerapkan langkah mitigasi.

Belum diketahui siapa yang berada di balik serangan terhadap supermarket-supermarket tersebut. Namun, pola serangannya menarik perhatian karena peretas diduga memanipulasi pengaturan suhu sistem pendingin.

Gangguan freezer di pangkalan militer AS dan supermarket Prancis memperlihatkan bahwa serangan siber dapat berdampak langsung terhadap aktivitas fisik. Sistem yang terhubung ke jaringan komputer tidak hanya menyimpan atau mengirimkan informasi, tetapi juga dapat mengendalikan mesin, suhu, dan berbagai proses operasional.

Dilansir The Straits Times, Kamis (29/10/2026), jaksa federal di Los Angeles pada Desember 2025 mendakwa seorang perempuan asal Ukraina karena diduga menjadi bagian dari kelompok peretas yang melumpuhkan sistem pendingin sebuah fasilitas pengolahan daging pada 2024. Serangan tersebut menyebabkan lebih dari 900 kilogram daging rusak.

Sebelumnya, Danfoss juga menyebut adanya serangan terhadap sistem pendingin supermarket di Rusia dan Israel pada 2022.

Baca juga artikel terkait PANGKALAN MILITER atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra