GEOGRAFI

Faktor Persebaran Flora dan Fauna di Dunia: Iklim, Edafik, Biotik

Oleh: Addi M Idhom - 27 September 2021
Dibaca Normal 3 menit
Ada empat macam faktor yang mempengaruhi persebaran flora dan fauna di dunia, yakni iklim, edafik, fisiografi dan biotik.
tirto.id - Bumi menjadi tempat hidup bagi beraneka ragam flora dan fauna. Keanekaragaman flora dan fauna di dunia sangat bergantung pada kondisi masing-masing wilayah.

Letak geografis, kondisi lingkungan, iklim, cuaca, dan lain sebagainya, yang tidak sama di setiap kawasan, menjadi faktor penentu satu jenis flora atau fauna bisa berkembang atau tidak. Sudah jelas bahwa kondisi permukaan bumi tidak seragam. Karena itu, wajar kondisi keanekaragaman flora dan fauna di masing-masing wilayah berlainan.

Perbedaan itu tidak hanya berhubungan dengan kepadatan populasi dan keragaman jenis flora dan fauna di setiap wilayah yang tidak sama. Perbedaan ciri fisik juga penting untuk diperhatikan mengingat ada jenis flora atau fauna tertentu yang hanya bisa ditemukan di satu wilayah.

Fakta di atas menjadi perhatian pula dalam ilmu geografi. Bidang studi ini tidak hanya terfokus pada kajian kondisi alam permukaan bumi dan lingkungan hidup manusia, melainkan juga biosfer. Kajian pada permukaan bumi, sebagai fokus utama di ilmu geografi, tidak bisa dilepaskan dari aspek biosfer yang membahas keanekaragaman hayati.


Dalam ilmu geografi, biosfer dimaknai sebagai fenomena keruangan makhluk hidup, yang mencakup flora dan fauna. Sementara cabang khusus di ilmu geografi yang mempelajari sebaran biosfer disebut dengan biogeografi. Bidang yang terakhir meliputi fitogeografi (geografi tumbuhan) dan zoogeografi (geografi binatang).

Mengutip Modul Geografi terbitan UT, kajian zoogeografi berfokus mempelajari persebaran dan pergerakan fauna di bumi yang berlangsung secara alami dalam konteks waktu evolusi. Artinya, ia bisa berlangsung selama ribuan hingga jutaan tahun.

Sedangkan kajian fitogeografi mencakup persebaran geografis, habitat, sejarah hingga faktor-faktor biologis yang memengaruhi kehidupan tumbuhan. Menukil ulasan dalam Jurnal Berita Biologi (Vol. 6, No. 3, 2002), fitogeografi menuntut pemahaman akan tumbuhan pada masa kini maupun yang sudah lewat, baik masih ada ataupun sudah punah. Pemahaman itu dikaitkan dengan area persebaran tumbuhan secara geografis dan waktu geologisnya.

Bisa disimpulkan, studi zoogeografi maupun fitogeografi menaruh perhatian besar terhadap fenomena persebaran flora dan fauna di bumi. Maka itu, penting memahami terlebih dahulu faktor-faktor yang memengaruhi persebaran flora dan fauna.


Faktor yang Memengaruhi Persebaran Flora dan Fauna di Dunia

Secara umum, studi geografi memberikan pemahaman bahwa ada 4 macam faktor yang memengaruhi persebaran flora dan fauna di bumi. Keempatnya adalah iklim, edafik, biotik, dan fisiografi.

Penjelasan tentang masing-masing faktor tersebut, sebagaimana termuat dalam Modul Geografi XI KD. 3.2 dan 4.2 terbitan Kemdikbud, adalah sebagai berikut.

1. Faktor Iklim

Iklim bisa memberikan pengaruh dominan terhadap persebaran flora dan fauna di bumi. Kenyataannya, wilayah yang mempunyai iklim ekstrem dihuni flora dan fauna dengan ragam spesies jauh lebih sedikit dibandingkan yang ada di kawasan tropis.

Ada beberapa jenis faktor iklim yang berpengaruh terhadap persebaran flora dan fauna. Di antara sejumlah faktor yang termasuk dalam kategori iklim adalah suhu udara, kelembapan, angin, dan curah hujan. Bagaimana faktor-faktor itu dapat memengaruhi persebaran flora dan fauna?

a. Suhu Udara

Perbedaan letak geografis-astronomis, sudut datangnya sinar matahari, jarak daratan dengan lautan, ketinggian lokasi, dan tutupan lahan membuat suhu udara di setiap wilayah tidak seragam. Sementara itu, kehidupan tumbuhan maupun hewan terkait erat dengan kondisi suhu udara.

Banyak spesies tertentu memerlukan suhu udara ideal di lingkungan hidupnya agar dapat tetap bertahan dan berkembang biak. Karena itu, kawasan dengan suhu non-ekstrem, atau tidak terlalu panas maupun dingin, umumnya layak menjadi tempat hidup banyak jenis spesies flora dan fauna. Suhu udara juga bisa memengaruhi kondisi vegetasi di suatu wilayah. Vegetasi yang terdapat di wilayah tropis, gurun, kutub dan lainnya tidak bisa sama.

b. Kelembapan udara

Kelembaban udara menunjukkan tingkat uap air yang terkandung di udara. Kelembapan berpengaruh langsung terhadap kehidupan flora. Ada tumbuhan yang cocok hidup hanya di daerah kering, lembab, atau basah.

Oleh sebab itu, jenis-jenis tumbuhan bisa dikategorisasikan berdasar tingkat kelembapan wilayah keberadaannya. Setidaknya ada 4 jenis yang perlu diketahui, yakni:

  • Xerophyta: tumbuhan yang tahan di lingkungan kering atau kelembaban udara sangat rendah. Contoh: kaktus.
  • Mesophyta: tumbuhan yang cocok hidup di lingkungan lembab tetapi tidak basah. Contoh: anggrek dan cendawan.
  • Hygrophyta: tumbuhan yang cocok hidup di kawasan basah. Contoh: teratai, eceng gondok, selada air.
  • Tropophyta: tumbuhan yang bisa beradaptasi di daerah pemililk musim hujan dan musim kemarau. Tropophyta merupakan flora khas wilayah iklim musim tropis (monsun tropis). Contoh: jati dan ekaliptus.

c. Angin

Angin sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup tumbuhan. Di daerah terbuka, hanya tumbuhan berakar dan berbatang kuat yang dapat bertahan hidup di tengah terpaan angin kencang. Angin pun bisa membantu penyerbukan atau pembuahan pada beberapa jenis tanaman, sehingga regenerasi terjadi. Tumbuhan tertentu penyebaran benihnya juga dibantu angin, seperti yang terjadi pada spora paku-pakuan (pteridophyta).

d. Curah Hujan

Curah huja jelas menjadi penentu persebaran flora dan fauna karena air adalah sumber utama kehidupan. Beragam jenis hewan dan tumbuhan sangat tergantung pada curah hujan dan kelembaban udara. Tingkat curah hujan dapat membentuk karakter khas formasi vegetasi di muka bumi. Kekhasan vegetasi ini mengakibatkan ada hewan-hewan tertentu yang bisa hidup. Hal ini bisa terjadi karena banyak jenis hewan mengandalkan tumbuhan sebagai sumber makanan.

Contohnya, hujan tropis yang bisa tumbuh di kawasan dengan curah hujan 1000-2000 mm dan suhu udara 20-30 derajat celcius memiliki keragaman flora sekaligus fauna yang kaya. Kondisi berbeda ada di padang rumput stepa yang berkembang di wilayah dengan curah hujan 200-1000 mm dan suhu -20 sampai 10 derajat celcius.

b. Faktor Edafik (Tanah)

Faktor edafik kondisi tanah berpengaruh besar pula pada persebaran flora dan fauna. Tanah jadi media utama bagi tumbuhnya vegetasi. Kebutuhan-kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan vegetasi seperti unsur hara, kebutuhan bahan organik (humus), air dan udara disediakan oleh tanah. Tanah subur memberikan dampak baik bagi pertumbuhan tanaman. Hewan lalu bakal lebih mudah menemukan makanan jika tanaman di sekitarnya tumbuh subur.

Faktor-faktor fisik tanah yang mempengaruhi pertumbuhan vegetasi adalah:

  • Tekstur (ukuran butiran tanah atau tingkat kekasaran tanah)
  • Tingkat Kegemburan (tanah gembur memudahkan tumbuhan menyerap mineral)
  • Mineral Organik (Humus)
  • Mineral Anorganik (Unsur hara seperti Karbon, Hidrogen, Oksigen, Nitrogen, Fosfor)
  • Kandungan Air Tanah
  • Kandungan Udara Tanah (semakin gembur, kandungan udara tanah bertambah besar).

3. Faktor Fisiografi (Relief bumi)

Keragaman bentuk permukaan bumi memengaruhi persebaran flora dan fauna. Relief bumi dapat membantu atau mempersulit hewan dan tumbuhan berkembang. Kawasan pegunungan, misalnya, bisa menghambat penyebaran tumbuhan. Terhambatnya perkembangan vegetasi pada akhirnya berdampak pula pada kondisi fauna.


Selain itu, kemiringan lereng dapat memengaruhi tumbuh kembang tanaman. Lereng yang membelakangi sinar matahari mempersulit beragam jenis tanaman untuk tumbuh dengan baik.

Bentuk muka bumi yang beragam bisa memicu perbedaan suhu dan kelembapan udara sehingga berpengaruh pada jenis vegetasi, dan karena itu, memengaruhi spesies hewan yang bertahan. Perbedaan suhu dan kelembapan udara, misalnya, karena faktor tinggi-rendah dataran.

4. Faktor Biotik (mahluk hidup)

Makhluk hidup, baik tumbuhan, hewan, maupun manusia juga bisa memengaruhi persebaran flora dan fauna di bumi. Peran yang terbesar, untuk saat ini, ada di manusia. Perilaku manusia yang melestarikan lingkungan akan berdampak positif terhadap keberadaan flora dan fauna. Sebaliknya, kegiatan manusia merusak lingkungan bahkan dapat membuat spesien flora dan fauna tertentu punah.

Pada kasus tanaman, tumbuhan yang memiliki daya adaptasi kuat akan menghambat tumbuhan lain dengan kemampuan lebih lemah. Kondisi ini lantas memicu satu jenis vegetasi mendominasi suatu wilayah. Sedangkan dalam konteks hewan, keberadaan cacing yang bisa menyuburkan tanah dan membantu banyak jenis tanaman berkembang, merupakan contohnya.


Baca juga artikel terkait FLORA DAN FAUNA atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Addi M Idhom
Penyelia: Yantina Debora
DarkLight