Menuju konten utama

Faktor Alam Penyebab Banjir di Indonesia dan Cara Mengatasinya

Faktor alam penyebab banjir di Indonesia tidak hanya curah hujan. Berikut cara mengatasi banjir.

Faktor Alam Penyebab Banjir di Indonesia dan Cara Mengatasinya
Warga berjalan melewati banjir di kawasan pemukiman penduduk, Kebon Pala, Jakarta, Senin (27/2/2023). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp.

tirto.id - Faktor alam penyebab banjir di Indonesia yang paling sering terjadi adalah curah hujan tinggi atau ekstrem, pasang ombak laut, kapasitas sungai terbatas, serta posisi daratan yang rendah. Sering kali, ada lebih dari 1 faktor yang secara bersamaan menyebabkan banjir di Indonesia.

Selain disebabkan oleh faktor alam, banjir juga bisa terjadi karena dampak dari tindakan manusia yang merusak lingungan. Contohnya adalah penebangan hutan dan pembangunan gedung-gedung di kawasan resapan air.

Banjir adalah peristiwa meluapnya permukaan air melebihi kapasitas saluran pembuangan dengan dampak terendamnya suatu wilayah. Bencana ini bisa merugikan manusia dan merusak alam.

Berada di wilayah tropis, dengan topografi tidak rata, sejumlah wilayah di Indonesia jadi langganan banjir. Wilayah-wilayah itu terendam air terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.

Banjir pun termasuk bencana alam yang paling sering terjadi di tanah air. Data BNPB menunjukkan dari 3.544 bencana alam di Indonesia selama tahun 2022, 1.531 di antaranya merupakan banjir.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat pula, bahwa selama 1-23 Januari 2023, sudah ada 33 kejadian bencana banjir di tanah air.

Faktor Alam Penyebab Banjir dan Penjelasannya

Sejumlah faktor alam yang bisa menjadi penyebab banjir di Indonesia beserta penjelasannya ialah sebagai berikut:

1. Curah hujan tinggi atau ekstrem

Curah hujan yang tinggi dan berlangsung terus menerus dalam beberapa hari dapat menyebabkan banjir. Saat saluran pembuangan air (sungai, kanal, drainase) tidak bisa menampung air, luapan akan terjadi.

2. Letak daratan yang rendah

Kondisi fisik suatu wilayah bisa berpengaruh terhadap terjadinya banjir. Daratan yang terletak di posisi lebih rendah dari area lainnya bisa menjadi langganan banjir saat sungai atau kanal meluap.

3. Erosi dan sedimentasi

Erosi dan sedimentasi merupakan proses terlepasnya butiran tanah dan terangkutnya material oleh gerakan air atau angin. Erosi dan sedimentasi di sungai akan mengakibatkan pendangkalan serta menurunkan kapasitas penampungan air. Akibatnya, banjir mudah terjadi saat ada limpahan air.

Erosi tanah yang terjadi hingga menyisakan bebatuan bisa menyebabkan air hujan mengalir deras di atas permukaan tanah tanpa adanya penahan. Kondisi ini biasanya memicu banjir bandang.

4. Kapasitas sungai

Kapasitas sungai menampung air pada saat musim hujan sangat berpengaruh dalam pengendalian banjir. Jika kapasitas sungai kecil, limpahan air dari hulu maupun hujan bisa mudah meluap serta menimbulkan banjir.

5. Pasang air laut

Banjir Rob merupakan banjir yang terjadi di wilayah pantai yang disebabkan oleh air pasang yang besar sehingga melimpah ke daratan.

Pemanasan global dan perubahan iklim kini semakin sering memicu cuaca ekstrem, yang di antara dampaknya adalah naiknya permukaan air laut. Dengan naiknya permukaan air laut, banjir bakal semakin mudah terjadi di wilayah pesisir saat ombak pasang.

Solusi Cara Mengatasi Banjir

Solusi penanggulangan banjir bisa berbeda-beda di tiap wilayah. Konteks faktor penyebab banjir di suatu kawasan akan sangat menentukan bentuk solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasinya.

Langkah yang paling mungkin dilakukan adalah melakukan pencegahan agar banjir tidak terulang lagi. Sebab, jika banjir sudah terjadi, dan kapasitas sungai maupun saluran air sudah benar-benar penuh, nyaris tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menanti air surut.

Di bawah ini, sejumlah langkah pencegahan untuk mengatasi masalah banjir:

  • Membersihkan saluran (sungai, kanal, drainase) dari sampah agar tak menyumbat aliran air.
  • Mengeruk sungai-sungai dan kanal dari endapan untuk menambah daya tampung air.
  • Membangun drainase alternatif (kanal/pipa) guna mengurangi beban berlebihan di sungai.
  • Tidak mendirikan bangunan di wilayah yang menjadi daerah area resapan air.
  • Tidak menebang pohon-pohon di hutan, karena hutan yang gundul akan sulit menyerap air.
  • Membuat tembok-tembok penahan (tanggul) di pinggiran sungai atau pantai rawan abrasi.
  • Melakukan penghijauan kembali wilayah hutan dan kawasan hulu sungai.
  • Membangun waduk-waduk penampung air di sekitar kawasan rawan banjir.
  • Memperbanyak wilayah resapan air dan sumur resapan di kawanan perkotaan.
  • Memperbanyak hutan bakau di kawasa pesisir.

Baca juga artikel terkait BANJIR atau tulisan lainnya dari Wulandari

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Wulandari
Penulis: Wulandari
Editor: Addi M Idhom