12 Oktober 1988

"Every Rose Has Its Thorn" dan Bagaimana Ia Jadi Abadi

Ilustrasi Mozaik Band Glam Rock Poison. tirto.id/Sabit
Oleh: Nuran Wibisono - 12 Oktober 2020
Dibaca Normal 4 menit
"Every Rose Has Its Thorn" adalah single ketiga dari album kedua Poison.
Seorang teman memekik ketika saya membuka paketan yang baru datang dari e-Bay: piringan hitam bekas album Open Up and Say… Ahh! milik band rock Poison. Ketika kardus dan lapisan bubble wrap saya sobek, menyembul gambar sampul seorang perempuan iblis bermata hijau, kuku panjang, dengan rambut acak-acakan, menjulurkan lidah yang bikin Gene Simmons iri. Ketika album ini baru dirilis, gambar sampul aslinya diprotes banyak ormas, membuat label terpaksa mengeluarkan versi sensor.

“Aduh album ini kacau banget!” ujarnya sambil tertawa dan menggelengkan kepala.

Ingatan kawan saya yang mengalami masa remaja era 1980 ini masih kuat tentang Poison. Band ini adalah apa-apa yang ditentang oleh kawan ini dan banyak orang lain. Citra Poison selalu lekat dengan dekadensi moral. Mereka dianggap menjadikan perempuan sebagai obyek seksual semata, menulis tentang hal cabul, pesta sampai pagi, tidur sampai siang, bersenang-senang: semua yang dianggap amoral dan menyeleweng dari norma.

Poison adalah satu dari ratusan band glam metal —lebih dikenal dengan sebutan mengolok, hair metal— yang muncul di era 1980-an. Pembedanya, Poison berhasil masuk ke dalam gerombolan band hair metal papan atas —minimal rating B, jika rating A diisi oleh Guns N Roses, Motley Crue, dan Bon Jovi.

Line up Poison yang paling dikenal terdiri dari Bret Michaels (vokal), Rikki Rockett (drum), C.C. DeVille (gitar), dan Bobby Dall (bass). Formasi ini berhasil merilis tiga album, Look What the Cat Dragged In (1986), Open Up… (1988), dan Flesh & Blood (1990). Setelahnya, band ini beberapa kali mengalami konflik, ganti personel, bikin satu album blues rock asyik, vakum, bikin dua album gak jelas, rujuk, vakum lagi, dan kembali rujuk hingga kelak vakum lagi.

Poison, diakui atau tidak, cukup banyak mengubah kancah metal di ketika itu, setidaknya di Los Angeles. Identitas androgini mereka yang tegas ditunjukkan di sampul album perdana jelas membedakan mereka dengan band-band “seram-penyembah setan” macam Motley Crue atau W.A.S.P; band dengan gitaris virtuoso seperti Van Halen, Quiet Riot, Ratt, dan Dokken; atau band bengal enggan tunduk --we're not gonna take it!-- seperti Twisted Sister.

Di sampul album perdananya, sembari menatap wajah empat personel Poison yang berlumur pupur, maskara, dan lipstik, kamu bisa melihat stiker kebanggaan bertuliskan Uncensored and unanimously disapproved of by parents everywhere! Ini menunjukkan Poison adalah band rock ceria, penuh semangat bersenang-senang, dan akan disukai anak muda. Dan sebagaimana hukum alam berjalan, apa yang disukai anak muda seringkali dibenci orang tua.

Poison membuat klub-klub musik di sepanjang Sunset Strip mulai majemuk: dipenuhi oleh perempuan, tidak hanya lelaki gondrong berpakaian serba hitam, menjulurkan lidah, dan memasang tampang menakutkan.

Setiap Poison naik panggung, para perempuan ingin tidur dengan Bret Michaels, dan para pria setengah mati ingin jadi seperti Bret.


Pada 1988 keluarlah album kedua sekaligus album terlaris mereka, Open Up and Say…Ahh! Terlepas segala kontroversinya, jika ada daftar 10 album glam metal/ hair band terbaik sepanjang masa, album ini selayaknya ada di sana. Album ini adalah perwujudan paling esensial dalam semangat glam metal 1980: penuh riff spektakuler, lagu renyah dan cocok buat pesta, dan ada lagu balada, sebuah unsur tak terpisahkan dari band rock dan metal 1980-an.


Open Up… bisa dibilang adalah puncak karya Poison. “Fallen Angel” menjadi contoh apik bagaimana karakter gitar C.C yang poppish dan sederhana itu justru menjadi karakter Poison paling kuat. Dia memang bukan gitaris sejago Eddie Van Halen, Randy Rhoads, atau Vito Bratta; berpenampilan tidak semenarik Warren DeMartini atau Richie Sambora; nihil aura cool bawaan lahir seperti Slash dan Izzy Stradlin; tapi C.C. punya kemampuan bikin riff seperti kerupuk baru diangkat dari penggorengan. Riff-nya mudah ditiru, mungkin ditertawakan para virtuoso dan shredder, tapi hanya C.C yang kepikir membuat riff seperti C.C.

Itu ditunjukkan pula di lagu macam “Look But You Can’t Touch” atau “Love on the Rocks”, dan tentu saja “Nothin’ but a Good Time”, sebuah lagu yang tidak hanya cocok menjadi anthem klub rock era kapan pun, tapi juga sangat layak menjadi lagu mars para buruh di mana pun.

I raise a toast to all of us
Who are breakin’ our backs everyday
If wantin’ the good life is such a crime
Lord, then put me away.
Here’s to ya!

Tapi dari semua lagu di album kedua ini, tak ada yang menyangkal bahwa “Every Rose Has Its Thorn” adalah magnum opus Poison. Sebagai single, lagu ini dirilis di urutan ketiga tepat di tanggal ini, 12 Oktober, empat windu lalu. Kesuksesan lagu balada ini mungkin tak disadari oleh Poison sendiri —menjawab kenapa lagu ini tidak dirilis sebagai single pertama. Lantas lagu ini meledak, menjadi satu-satunya lagu Poison yang menduduki puncak tangga lagu Billboard, dan berperan besar membuat Open Up and Say…ahh! terjual 10 juta keping hingga hari ini.

Patah Hati di Tempat Laundry


Usai konser di Dallas, Bret pergi ke laundromat. Sembari menanti baju kering, ia menelpon pacarnya, seorang stripper di Los Angeles. Dari ujung, tak sengaja terdengar suara seorang lelaki. Bret patah hati. Dia duduk, lalu seketika bikin “Every Rose Has Its Thorn”. Saya tak tahu apakah cerita ini benar adanya, atau hanya bukti kepiawaian Bret dalam membuat gimmick. Pada akhirnya kisah itu jadi pengiring yang bikin banyak orang trenyuh terhadap kisah tragis Bret. Tentu banyak orang tak akan kepikiran bertanya: ngapain seorang bintang rock mencuci pakaiannya sendiri?

Lagu ini tidak dibuka oleh instrumen, melainkan suara helaan napas Bret yang bisa membuat kita membayangkan Bret adalah pria dengan hidup paling malang di seluruh dunia. Kemudian baru Bret memanggul gitar, menggenjrengnya di kunci G dan mulai bernyanyi.



Bret mungkin bukan penulis lirik yang bakal dikenang, tapi di lagu ini dia cukup berhasil bikin beberapa ungkapan yang layak diingat. Dia, entah disengaja atau tidak, membuat berbagai ungkapan yang saling bertolak belakang namun melengkapi, seperti Yang dalam Yin.

Dalam kasus lagu ini, Bret menuliskan “lie together but feel miles apart inside”, “every rose has its thorn”, “nights has its dawns”, “love is a game of easy come and easy go”, “every cowboy sing a sad sad song” sebagai cara untuk menunjukkan bagaimana dunia bekerja: selalu ada sisi lain dalam tiap keping uang.

Ini juga sekaligus menggambarkan bagaimana tingkah polah Bret seringkali kontradiktif. Bayangkan, seorang bintang rock yang mengisi hidupnya dengan pesta pora, tidur dengan banyak perempuan, tapi bisa patah hati hanya karena mendengar suara seorang pria dari telepon. Seorang pria yang pada masanya pernah jadi ikon seks, ternyata harus tersuruk karena satu kali diselingkuhi.

Though it's been a while now
I can still feel so much pain
Like a knife that cuts you the wound heals
But the scar, that scar remains

"Meski sudah lama, aku masih merasa sakit hati. Seperti pisau yang menyayatmu, lukanya sembuh tapi bekasnya akan tetap ada," begitu Bret merengek.

Pada akhirnya, “Every Rose Has Its Thorn” menjadi balada yang tahan terhadap ujian waktu atau genre musik. Sebab ia punya semua formula sebuah lagu balada apik: ada gitar akustik, lirik lagu mudah diingat, durasi moderat, dan kisah latar belakang yang menarik.

Meski sudah 32 tahun berlalu, lagu ini terus ada di kompilasi yang menyertakan unsur “Rock Ballad”, “Slow Rock”, mau pun “Classic Rock” di judulnya. Lagu ini senantiasa dinyanyikan om-tante usia 40-an di ajang reuni SMA, maupun anak muda macam Miley Cyrus yang menyanyikan ulang lagu ini.

Dan begitulah "Every Rose Has Its Thorn" menjadi abadi.

Baca juga artikel terkait MUSIK atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight