Menuju konten utama

ESDM: Motor Listrik Hasilkan 40% Emisi Lebih Rendah dari BBM

Emisi kendaraan listrik lebih rendah, yakni setara 39 ton karbon dioksida (tCO2e), dibandingkan hybrid (47 tCO2e), dan konvensional (55 tCO2e).

ESDM: Motor Listrik Hasilkan 40% Emisi Lebih Rendah dari BBM
Wiraniaga melayani pengunjung yang akan membeli sepeda motor listrik pada ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2024 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (19/2/2024). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.

tirto.id - Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menjelaskan bahwa emisi motor listrik lebih rendah 40 persen dibandingkan emisi yang dihasilkan dari motor berbahan bakar bensin. Nantinya, dia menuturkan elektrifikasi akan didorong lebih lanjut.

“Bensin itu 1 liter itu mungkin 35 kilometer, 1 liter bensin itu mengeluarkan emisinya 2,5 kilogram. Pakai listrik yang sekarang emisinya itu 40 persen lebih rendah,” ucap Dadan dalam acara Rembuk Nasional Transisi Energi di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (6/3/2024).

Menurut Dadan, elektrifikasi motor listrik terus didorong untuk mendukung Indonesia rendah emisi karbon. Dia menyoroti perlunya dukungan industri untuk mewujudkan visi tersebut.

“Sebenarnya bagian yang agak tantangannya cukup atau sangat berat karena kita perlu, kita perlu kalau industri itu bekerja sama,” ujar dia.

Kajian life cyle emision oleh Polestar dan Rivian di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Pasifik yang dilaporkan pada Polestar and Rivian Pathway Report 2023, menyatakan emisi yang dihasilkan kendaraan listrik lebih rendah, yakni setara 39 ton karbon dioksida (tCO2e), dibandingkan kendaraan listrik hybrid (HEV) sebesar 47 tCO2e, dan kendaraan konvensional atau internal combustion engine (ICE) yang mencapai 55 tCO2e.

“Angka emisi ini berbeda tidak terlalu jauh per ton CO2 per kilometernya jika bersamaan bensin yang digunakan lebih bio atau green fuel,” kata Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian, R Hendro Martono, Sabtu (21/10/2023).

Hendro menambahkan bahwa siklus hidup emisi sebuah kendaraan bergantung pada penggunaan energi dari proses hulu hingga hilir, yakni mencakup pasokan bahan baku, produksi, penggunaan, hingga pembuangan.

“Masih adanya emisi ini sangat tergantung dari input energi bahan bakar dari hulu maupun hilir (kendaraan itu sendiri) dan secara gradual akan menurun jika bahan input ini dilakukan secara green fuel,” kata dia.

Baca juga artikel terkait FLASH NEWS atau tulisan lainnya dari Faesal Mubarok

tirto.id - Flash news
Reporter: Faesal Mubarok
Penulis: Faesal Mubarok
Editor: Dwi Ayuningtyas