10 Oktober 1963

Edith Piaf, dari Jalanan ke Panggung Dunia Bersama La Vie En Rose

Oleh: Tyson Tirta - 10 Oktober 2021
Dibaca Normal 4 menit
Edith Piaf memulai karier tarik suaranya dari jalanan. Di balik ketenarannya, hidupnya penuh liku dan sendu.
tirto.id - Louis Guglielmi, musisi Prancis keturunan Italia, membuat sebuah alunan nada mendayu yang khas dengan komposisi orkestra era 1940-an. Komposisi itu memadukan teknik permainan violin pizzicato (petikan) yang susul-menyusul dengan nada gesek panjang serta perpaduan klarinet. Selain itu, ada melodi viola dan alat-alat musik pengiring melodi lain yang memperkuat nuansanya.

Ketika versi kasar komposisi itu selesai, Guglielmi agak kesulitan melengkapinya dengan lirik yang pas. Beruntung, penyanyi Édith Piaf yang sempat mendengar komposisi itu berinisiatif menulis liriknya. Judul lagu pun diberikan: La Vie En Rose.

Piaf kemudian menyanyikan lagu itu, meski sempat diremehkan orang. Berkat lagu itu, Piaf semakin tenar dan diakui sebagai penyanyi berkaliber internasional. Karya Piaf dan Guglielmi itu menjadi masterpiece dan salah satu karya musik pop tradisional paling populer di abad ke-20.

Édith Piaf lahir di Paris pada 19 Desember 1915. Nama lahirnya adalah Édith Giovanna Gassion. Orang tuanya mendapatkan inspirasi nama Édith dari seorang perawat Inggris Edith Cavell yang dieksekusi mati dua bulan sebelum Piaf lahir karena dianggap bersalah menolong tentara Prancis melarikan diri dari penahanan Jerman dalam Perang Dunia I. Ayah Piaf, Louis Alphonse Gassion, adalah seorang pengamen akrobat dari Normandy yang punya pengalaman tampil di teater. Di Normandy, keluarga ayah Piaf memiliki bisnis prostitusi yang cukup sukses.

Darah seni Piaf juga turun dari ibunya, Annetta Giovanna Maillard, yang seorang penyanyi profesional dan pemain sirkus kelahiran Italia. Tapi, setelah melahirkan Piaf, Annetta pergi dan menelantarkan bayinya. Ketika ayahnya berangkat berperang, Piaf dibesarkan oleh neneknya di Normandy.

Konon, para pelacur di rumah prostitusi milik neneknya itu ikut membantu merawat Piaf. Belakangan, Piaf mengaku sikapnya yang lemah di hadapan laki-laki disebabkan oleh kenangan masa kecilnya yang dirawat oleh para pelacur itu.

Di masa kecilnya itu, Piaf sempat mengalami kebutaan akibat menderita keratitis—penyakit yang menyebabkan inflamasi di kornea mata. Kabarnya, kebutaan itu baru sembuh setelah para pelacur melakukan ziarah dan memohon bimbingan Santa Thérèse of Lisieux. Piaf sendiri mengakui kesembuhan matanya itu sebagai sebuah mukjizat.


Jadi Penampil Jalanan

Piaf mulai mengenal dunia hiburan di usia 14 tahun ketika diajak ayahnya bergabung dengan tim akrobat jalanan dan berkeliling Perancis. Di masa ini, dia juga pertama kali menyanyi di hadapan publik. Dengan bimbingan ayahnya, Piaf asyik menjalani hidupnya sebagai penampil jalanan.

Tak lama setelah melakukan tur jalanan itu, dia bertemu dengan Simone Berteaut yang kemudian memutuskan untuk membentuk grup penampil bersama Piaf.

Grup penampil itu ternyata cukup sukses. Mereka sanggup mengumpulkan uang untuk menyewa sebuah kamar di Grand Hôtel de Clermont. Tur jalanan mereka terus berlanjut sampai Piaf dan Berteaut bertemu Louis Dupont.

Dupont dan Piaf dengan cepat saling jatuh hati. Namun, Dupont tidak senang dengan pekerjaan Piaf yang mengharuskannya berkeliling jalanan itu. Dupont pun mencoba mencari lowongan pekerjaan tetap untuk Piaf.

Semula, Piaf menolak berhenti jadi penampil jalanan. Tapi, dia akhirnya menyerah ketika tahu dirinya hamil. Piaf pun akhirnya setuju untuk bekerja di sebuah pabrik karangan bunga.

Di usianya yang baru 17 tahun, Piaf melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Marcelle. Seperti ibunya, Piaf juga merasakan kesulitan besar ketika harus merawat bayi. Terlebih, dia dan Dupont jadi sering bertengkar.

Hubungan Piaf dan Dupont pun memutuskan berpisah. Bersama Marcele dan Berteaut, Piaf pergi meninggalkan Dupont dan kembali ke panggung-panggung jalanan.

Masalah rupanya tak berhenti begitu saja. Dupont yang merasa dikhianati kemudian merebut Marcelle dari Piaf. Dia berharap Piaf mau pulang untuk mengurus anaknya itu. Tapi, seperti ibu kandungnya dulu, Piaf tak pernah pulang lagi untuk mengurus Marcelle. Malangnya, Marcelle terserang meningitis dan kemudian meninggal di usia yang baru 2 tahun.

Pada 1935, nasib baik mendatangi Piaf. Penampilannya di jalanan Pigalle menarik hati seorang pemilik kelab malam bernama Louis Leplée. Kelab malam milik Leplée di Paris cukup populer dan memiliki pelanggan yang berasal dari berbagai kalangan.

Leplée kemudian meyakinkan Piaf untuk tampil di kelabnya itu. Tak tanggung-tanggung, Leplée juga memoles karakter Piaf menjadi biduan idaman. Pertama, Leplée memberinya nama panggung La Môme Piaf—sesuai posturnya yang memang mungil. Leplée juga mengajarkan segala aspek penting untuk tampil di panggung mewah. Sentuhan terakhirnya adalah kostum serba hitam yang kemudian menjadi ciri khas Piaf.

Dari segi bisnis, Leplée juga serius. Dia membuat rencana publikasi dan pemasaran yang sangat luas. Dia merencanakan sebuah konser yang bakal menampilkan nama-nama beken, seperti aktor Maurice Chevalier, musisi Django Reinhardt, dan pianis kenamaan Norbert Glanzberg.

Upaya Leplée itu menuai sukses besar dan nama La Môme Piaf pun meroket.

Namun, kesuksesan itu rupanya tak berlangsung lama. Pada 6 April 1936—sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-53, Leplée ditemukan tewas terbunuh di apartemennya. Piaf pun terseret dalam kasus itu dan berkali-kali harus menghadapi interogasi Kepolisian Perancis. Tapi, Piaf memang tidak bersalah. Kematian Leplée belakangan dihubungkan dengan konspirasi mafia.

Infografik Mozaik Edith Piaf
Infografik Mozaik Edith Piaf. tirto.id/Fuad



La Vie En Rose

Setelah heboh kematian Leplée mereda, Piaf yang kini selangkah lebih berpengalaman merekrut Raymond Asso untuk mengurus penampilan panggungnya. Hal pertama yang dilakukan Asso adalah mengubah nama panggung sang penyanyi. La Môme Piaf kini berganti jadi Édith Piaf.

Di era 1940-an, nama baru itu perlahan semakin populer di kalangan masyarakat kelas atas Perancis. Piaf pun pandai mengelola ketenarannya dengan menjalin pertemanan dengan jejeran selebritas beken masa itu.

Kala Perancis diduduki Jerman selama Perang Dunia II, karier Piaf seakan tak terhambat. Namanya bahkan makin kesohor lantaran banyak tentara Jerman yang kesengsem padanya. Mereka ramai-ramai memesan tempat di kelab malam dan rumah bordil tempat Piaf bakal tampil.

Penampilan Piaf yang mengesankan juga membuat tawaran tur berdatangan. Orang-orang Jerman rela memberikan sponsor untuk Piaf agar bersedia tampil di Berlin bersama para artis lain, seperti Loulou Gasté, Raymond Souplex, Viviane Romance, dan Albert Préjean.

Dengan manajemen yang baik dan penampilannya yang konsisten, Piaf menjadi semakin dikenal publik. Permintaan tampil berdatangan dari berbagai daerah di Perancis. Selain tampil menyanyi, Piaf juga mulai aktif menulis lirik lagu.

Ketika perang berakhir pada 1945, Piaf dikenal sebagai penyanyi dan penulis lagu berkat La Vie En Rose. Lagu itu pun turut melambungkan popularitas internasionalnya. Pada 1947, La Vie En Rose akhirnya masuk dapur rekaman dan didistribusikan secara masif.

Kesuksesan La Vie En Rose terus berlanjut di era 1950-an. Kala itu, nama-nama besar seperti Tony Martin, Paul Weston, Bing Crosby, Dean Martin, hingga Louis Armstrong ikut menyanyikannya. Lirik lagu itu bercerita tentang keindahan dunia dan beraura positif sehingga mudah diterima khalayak luas. Lagu itu seakan menjadi perwakilan suara hati masyarakat yang baru saja keluar dari bencana peperangan besar.

Pada 1951, Piaf mengalami musibah kecelakaan mobil yang sangat parah. Tulang lengan dan dua tulang iganya patah.

Hidup Piaf berubah drastis setelah itu. Dia mulai kecanduan obat-obatan terlarang yang membuatnya harus masuk-keluar rumah sakit. Selain itu, dia juga kecanduan alkohol dan obat tidur. Sepuluh tahun kemudian, kecanduan itu membuat tubuhnya semakin melemah.

Edith Piaf kemudian dikabarkan meninggal di villa miliknya di French Riviera pada 10 Oktober 1963—tepat hari ini 58 tahun silam. Prosesi penguburannya dibanjiri ribuan orang penggemarnya.

“Penguburan Piaf adalah satu-satunya peristiwa yang menghentikan lalu lintas Paris dengan sangat parah sejak Perang Dunia ke-2,” kata Carolyn Burke dalam bukunya No Regrets: The Life of Edith Piaf (2012, hlm. 227).

Baca juga artikel terkait PENYANYI atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight