Dunia IT Menyumbang Emisi Karbon yang Sangat Besar

Oleh: Ahmad Zaenudin - 8 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Dunia IT menyumbang dua persen total emisi karbon dunia.
tirto.id - Pada tahun 2007, dalam perjalanannya menuju Pulau Lofoten di Norwegia, Maja Rosen merasa ada yang salah dengan dirinya. Perasaan itu muncul tatkala pesawat yang ditumpanginya melintas di Lingkar Arktik, wilayah yang mengalami pemanasan tercepat di seluruh sudut Bumi.

Rosen sadar perjalanan udara tidak ramah lingkungan. Perjalanan satu-arah New York ke London melintasi Atlantik, misalnya, menghasilkan satu ton karbon dioksida ke atmosfer dari tiap penumpangnya. Hari ini, terdapat 2.500 perjalanan di rute tersebut.

Sementara itu, di seluruh dunia, dunia aviasi menyumbang 860 juta metrik ton karbon dioksida ke udara setiap tahun, setara dengan 2 persen total emisi gas rumah kaca. Diprediksi, atas semakin diminatinya perjalanan udara, angkanya akan semakin meningkat.

“Saya merasa sangat berdosa dengan penerbangan saya sendiri. Dengan ini, saya akhirnya memutuskan tidak akan pernah terbang lagi,” ujar Rosen sebagaimana dilaporkan Umair Irfan dari Vox.

Pada 2018, Rosen membentuk kelompok bernama "We Stay on the Ground", mengajak orang-orang untuk setidaknya berhenti menggunakan pesawat selama setahun. Agustus 2019 lalu, Greta Thunberg, aktivis di bidang lingkungan, juga mengikuti langkah Rosen dengan berlayar selama dua minggu di perahu dengan tenaga angin dari London ke konferensi perubahan iklim di New York.

Tindakannya tersebut juga turut mempopulerkan istilah flygskam: rasa malu bepergian menggunakan pesawat.

Sayangnya, pemanasan global tidak hanya disebabkan oleh perjalanan udara saja. Ketika Anda membaca tulisan ini atau sekadar berselancar di dunia maya, maka hal itu turut menyumbang karbon disoksida atas konsumsi listrik yang dibutuhkan untuk menghidupkan PC, laptop, atau mengisi daya di ponsel.


Laporan Gartner, sebuah badan riset global, yang dilansir Guardian menunjukkan, berselancar di dunia maya dalam setahun membutuhkan listrik sebesar 365 kWh (kilowatt-hours) dan menghasilkan karbon dioksida setara dengan yang dihasilkan mobil tatkala bepergian sejauh 1.400 kilometer.

Tiap melakukan satu pencarian via Google membutuhkan listrik sekitar 3,4 Wh, setara dengan pelepasan 0,8g karbon dioksida ke udara. Sementara mengirim atau menerima 20 surat elektronik, baik di Gmail maupun Yahoo Mail, jika dikalkulasikan dalam setahun dapat menghasilkan karbon dioksida sama dengan perjalanan menggunakan mobil sejauh 1.000 kilometer.

Sementara itu, laporang Guardian lain terkait emisi gas melalui penggunaan internet juga menjelaskan: pencarian tunggal di Google menghasilkan 0,2g karbon dioksida, menonton video di Youtube selama 10 menit menghasilkan 1g karbon dioksida, lalu mengecek newsfeed facebook selama setahun menyebabkan 269g karbon dioksida lepas ke udara.

Dalam laporan Nature, secara menyeluruh dunia IT menyumbang 2 persen total emisi gas rumah kaca terkait konsumsi listrik yang sangat besar. Sementara laporan Greenpeace berjudul “Clicking Clean: Who Is Winning The Race To Build A Green Internet?” memaparkan, kerja IT menghabiskan listrik sebesar 1,817 miliar kWh.

Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding listrik yang dikonsumsi Jepang (921 miliar kWh), India (864 miliar kWh), Jerman (540 miliar kWh), hingga Korea Selatan (482 miliar kWh). Dan salah satu penyumbang emisi terbesar itu adalah data center atau pusat data.

Pusat Data: Penyumbang Emisi Terbesar


Ada lebih dari 2,5 miliar data yang dihasilkan manusia atas segala aktivitas digitalnya setiap hari. Kebutuhan akan data pun terus meningkat.

Amazon Web Service (AWS), layanan pusat data berbasis cloud milik Amazon, adalah contohnya. Pada 2013, AWS hanya menyumbang pendapatan sebesar $3,1 miliar pada perusahaan yang didirikan Jeff Bezos. Lima tahun berselang, jumlah tersebut meningkat drastis menjadi $25,6 miliar.

Selain AWS, pihak yang kebagian durian runtuh atas semakin masifnya penggunaan dan produksi data oleh manusia ialah Singapura. Ia menjadi “rumah” bagi pusat data. Pada Agustus 2018, Google menyatakan membangun pusat data di Singapura setelah melakukannya di 2011 dan 2015. Sebagaimana dilansir The Straits Times, proses pembangunan pusat data itu ditaksir menelan biaya hingga $850 juta.

Sebulan berselang, langkah Google diikuti Facebook. Raksasa media sosial tersebut mengumumkan juga akan membangun pusat data di wilayah Tanjong Kling, Singapura, dengan luas 170 ribu meter persegi. Pusat data yang akan dikerjakan oleh Fortis Construction itu diperkirakan menelan biaya lebih dari $1 miliar dan direncanakan mulai beroperasi pada 2022 mendatang.

Menurut laporan Forbes berjudul “Why Energy is a Big and Rapidly Growing Problem for Data Centers,” pusat data bisnis sangat mahal, terutama karena bisnis ini memerlukan energi listrik yang sangat besar. Di Amerika Serikat, pusat data menelan listrik lebih dari 90 miliar kWh tiap tahun. Pusat data mengonsumsi 3 persen total listrik dunia atau 200 terawatt hours (TWh).

Maka, masih merujuk laporan Nature, pusat data menyumbang 0,3 persen keseluruhan emisi karbon.


Sebenarnya, emisi karbon yang dihasilkan pusat data dapat ditekan dengan menggunakan sumber penghasil listrik yang lebih ramah lingkungan. Sayangnya, sebagaimana dilaporkan The Guardian, di Loudoun County, Virginia, AS, tempat di mana 3.000 perusahaan IT menempatkan pusat datanya, hanya 1 persen penggunaan sumber listrik ramah lingkungan dimanfaatkan, selebihnya masih menggunakan bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik.

“Tentang bagaimana kita menghasilkan listrik (ramah lingkungan atau fosil) untuk kebutuhan infrastruktur digital sangat penting untuk mengetahui jawaban apakah manusia dapat menahan perubahan iklim,” tegas Gary Cook, analis IT pada Greenpeace.

Namun, tantangan pusat data bukan cuma sumber listrik yang digunakan. Ian Bitterlin, pakar pusat data Inggris, sebagaimana diungkapkannya pada Independent, menyebut bahwa sektor ini terus berkembang dua kali lipat setiap dua tahun.

Bitterlin memberi contoh kasus di Jepang. Jika perkembangan pusat data tidak diantisipasi, maka ia akan mengonsumsi energi keseluruhan Jepang pada 2030.

Aksi Perusahaan IT


Pemanasan global adalah masalah nyata. Menurut pendapat para ahli, dunia seharusnya menjaga temperatur untuk tidak naik 1,5 derajat celcius agar Bumi tidak mendapatkan petaka. Sayangnya, sebagaimana dilaporkan BBC, suhu Bumi kini justru meningkat mencapai angka hampir 3 derajat celcius.

Dengan dasar itu, lebih dari 1.000 karyawan Google menyurati pimpinan mereka agar perusahaan turut berkontribusi menurunkan efek pemanasan global. Misalnya, tidak bekerjasama dengan perusahaan yang menggunakan energi fosil sebagai sumber energi utama.

Infografik Perubahan Iklim
Infografik perubahan iklim. tirto.id/Quita


Google mengklaim telah menjadi carbon-neutral company sejak 2007. Istilah carbon-neutral company digunakan untuk menggambarkan keadaan suatu entitas, di mana emisi karbon yang disebabkan oleh mereka telah diseimbangkan dengan mendanai program penghematan karbon di tempat lain di dunia. Sundar Pichai, sang CEO, juga berjanji bahwa Google, “akan menggapai sebagai perusahaan tanpa emisi pada 2030.”


Sayangnya, klaim Google itu bak pepesan kosong. Merujuk laporan The Guardian, Google mendukung aksi politik pada kelompok-kelompok yang menyatakan bahwa perubahan iklim adalah kabar bohong. Mereka, misalnya, mendukung Competitive Enterprise Institute (CEI), kelompok konservatif yang memaksa Donald Trump meninggalkan kesepakatan Paris soal perubahan iklim.

Google juga turut mendukung State Policy Network (SPN), sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada kebijakan tingkat negara bagian. Oktober lalu, salah satu anggota SPN menyebut bahwa “perubahan iklim adalah delusi”. Terakhir, Google pun mendukung Cato Institute, oposisi yang terang-terangan menentang segala proses legislasi soal perubahan iklim.

Aksi Rosen dan juga Thunberg yang menolak naik pesawat karena berkontribusi besar pada emisi karbon semestinya patut didukung dengan aksi lain. Seperti, misalnya: mengurangi atau berhenti sama sekali bermain media sosial. Sebuah tindakan yang muskil terjadi, namun bukan berarti tidak mungkin sama sekali.

Baca juga artikel terkait CLIMATE CHANGE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - )

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight