Menuju konten utama

Duduk Perkara Keruwetan Penjualan Tiket Asian Games oleh Kiostix

Bukan kali pertama sistem pertiketan yang dikelola Kiostix berlangsung amburadul.

Duduk Perkara Keruwetan Penjualan Tiket Asian Games oleh Kiostix
Stadion Gelora Bung Karno saat petang jelang pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta, Sabtu (18/8/18). tirto.id/Andrey Gromico

tirto.id - Pengelolaan tiket Asian Games 2018 oleh Kiostix menjari sorotan. Sebagai satu-satunya agen penjual resmi tiket Asian Games, situsweb Kiostix down dan tidak bisa diakses hingga berhari-hari. Masalah kian kusut saat penjualan offline pada beberapa pop-up store dan gerai Alfamart juga tak bisa diakses.

"Saya udah ke Alfamart, ke pop-up Store Gandaria City, tapi hasilnya tetap zonk, kesel jadinya," kata Cindy Sariwati, salah seorang pembeli tiket, kepada Tirto.

Waktu yang kian mepet membuat Organizing Comitee (INASGOC) bertindak cepat. INASGOC meminta BliBli untuk mengambilalih penjualan tiket dari KiosTix.

“Kami evaluasi karena ada banyak kritik dari masyarakat tentang penjualan tiket KiosTix yang bermasalah. Bahkan calon penonton yang sudah membeli masih kebingungan soal sistem penukaran tiketnya," kata Direktur Ticketing INASGOC Sarman Simanjorang kepada KataData.

"Maka itu kemarin kami putuskan menggandeng partner yang lebih kuat dan bagus," katanya lagi.

Baca laporan visual interaktif tentang potensi Indonesia meraih emas:

Masalah ini membuat CEO Kiostix Ade Sulistioputra meminta maaf kepada publik. Karena itulah ia mengajak partner lain yaitu BliBli untuk terlibat.

"Kami harap penambahan sejumlah titik distribusi dapat menjawab persoalan lalu lintas data yang tinggi karena antusiasme masyarakat juga tinggi," ujarnya dalam keterangan Pers kepada Tirto.

"Sinergi antara kiosTix.com dan Blibli.com serta Alfamart akan memberikan opsi lebih banyak bagi peminat acara, dan diharapkan dapat membawa energi positif masyarakat yang ingin memberikan dukungan langsung kepada para atlit di lapangan," kata Ade.

Kiprah Kiostix menggarap event multinasional sudah dilakukan sejak 2013 lalu saat menggarap ajang Islamic Solidarity Games (ISG) 2013 di Palembang. Meski bertajuk event multinasional, gelaran ISG boleh dikatakan gagal karena tidak berhasil menarik perhatian penonton dan media nasional. Itulah mengapa Kiostix tak menghadapi masalah berarti saat itu.

Dianggap sukses pada ISG 2013, PSSI akhirnya mendepak partner rutin mereka sejak 2010 yaitu Raja Karcis dan menggantinya dengan Kiostix. Awalnya mereka dikontrak satu tahun untuk mengelola tiket timnas, namun kontrak itu berlanjut hingga sekarang.

Pada periode 2013-2015 tiket masih dilepas panpel PSSI via offline. Baru pada Piala AFF 2016, saat AFC mewajibkan seluruh tiket dijual online, kapasitas Kiostix pun mulai diuji. Hasilnya: mengecewakan.

Pihak Kiostix kepayahan menghadapi jumlah penonton yang membludak. Saat Indonesia lolos ke semifinal AFF Cup 2016, Kiotix diberi jatah oleh PSSI untuk menjual 27 ribu lembar tiket. Protes muncul saat situsweb mereka lagi-lagi sulit diakses. Pihak Kiotix berkelit bahwa hal itu sebagai hal lumrah.

"Animonya sangat luar biasa, kami menghadapi traffic yang luar biasa. Sebenarnya kami siap (menjual), tapi kami tak bisa menghadapi kendala akses yang ini luar biasa. Seperti antrean yang panjang, jadi harus menunggu," ucap head of sales Kiostix Andika Putra, dikutip dari Goal.com.

Sikap itu akhirnya membuat PSSI angkat tangan dan memutuskan menjual sebagian. PSSI sampai menggelar penjualan tiket di markas Kostrad.

"Kami minta maaf kalau suporter dipersulit. Akhirnya diputuskan untuk penjualan manual," ucap salah seorang pengurus PSSI saat itu, Yeyen Tumena.

Berkaca dari kasus Piala AFF 2016, mestinya pihak Kiostix bisa lebih mempersiapkan diri saat diberi tanggung jawab mengelola pertiketan Asian Games 2018. Namun tampaknya hal itu tidak terjadi. Ribetnya sistem pengambilan tiket seperti Piala AFF 2016 ternyata tak diubah oleh Kiostix dan malah kembali diterapkan pada Asian Games 2018.

Seperti dikeluhkan Bani Maryanto, penggemar timnas dari Semarang. Ia mengeluh sistem pingpong Kiostix yang tak efektif. Setelah membeli membeli via online, pembeli akan menerima bukti pembayaran berbentuk e-voucher. Lalu e-voucher ini harus ditukarkan ke outlet Kiostix untuk mendapatkan tiket yang sebenarnya. Bani yang sering berpegian ke luar negeri menonton bola mengeluhkan sistem ini sebagai "amat ribet".

Idealnya barcode yang di e-voucher saat pembayaran via online bisa langsung dipakai untuk masuk ke dalam stadion, tak perlu lagi ditukar secara offline. "Di Turnamen sepakbola Internasional Club Championship (ICC) sistemnya seperti itu. Jadi kita bisa masuk dengan modal barcode di handphone saja," katanya kepada Tirto.

Masalah lain adalah soal penukaran e-voucher. Salah satu syarat pengambilan tiket, si pembeli boleh datang dengan diwakilkan tapi ia harus memberikan surat kuasa dan fotokopi identitas kepada orang yang akan mengambilnya.

"Kalau saya sebagai suporter, sih, mau-mau aja antri, tapi kalau orang-orang kaya ya pasti mereka suruh orang untuk ambil tiket. Nah, kadang banyak yang enggak tahu aturan ini, makanya antrinya cukup lama," katanya lagi. Terkadang proses verifikasi dokumen pemilik ini yang membuat waktu molor hingga berjam-jam.

Pada penjualan tiket pembukaan Asian Games, kekusutan Kiostix semakin diperparah saat lokasi penukaran e-voucher yang semula di sekitaran stadion Gelora Bung Karno dipindakan mendadak ke kantor Kiostik di daerah Pejaten, Jakarta Selatan.

Kiostix memenangkan tender pengelolaan tiket Asian Games pada tahun lalu. Mereka menyingkirkan lebih dari 20 perusahaan lain, seperti RajaKarcis, Tiket.com, dll. Proses tender ini menuai kritik: mengapa pengelolaan tiket event sebesar Asian Games hanya dimonopoli satu perusahaan?

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES atau tulisan lainnya dari Aqwam Fiazmi Hanifan

tirto.id - Olahraga
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Aqwam Fiazmi Hanifan