Ramadhan 2021

Doa Puasa Hari Keenam Bulan Ramadhan: Arab, Latin dan Terjemahan

Oleh: Beni Jo - 17 April 2021
Dibaca Normal 2 menit
Doa puasa hari keenam, doa puasa Ramadhan hari keenam dalam bahasa Arab, latin, dan terjemahan.
tirto.id - Puasa telah memasuki hari keenam. Artinya, salah satu rukun Islam ini hampir dilaksanakan selama sepekan lamanya.

Seperti halnya beberapa hari sebelumnya, juga ada doa yang bisa dibaca dalam mengisi waktu di bulan yang mulia tersebut.

Bulan Ramadan merupakan peluang bagi manusia untuk memohon agar dosa-dosanya selama ini diampuni oleh Allah SWT.

Berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu".

Berawal dari kutipan hadis di atas, maka puasa di bulan Ramadan ini adalah waktu yang tepat untuk selalu berdoa kepada Allah SWT dan memohon ampun terhadap kesalahan yang sudah diperbuat sebelumnya.

Doa Puasa Hari Keenam


Berikut adalah doa puasa hari keenam bulan Ramadan dalam bahasa Arab, latin, dan terjemahannya:

اَللَّهُمَّ لاَ تَخْذُلْنِيْ فِيْهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ وَ لاَ تَضْرِبْنِيْ بِسِيَاطِ نَقِمَتِكَ وَ زَحْزِحْنِيْ فِيْهِ مِنْ مُوْجِبَاتِ سَخَطِكَ بِمَنِّكَ وَ أَيَادِيْكَ يَا مُنْتَهَى رَغْبَةِ الرَّاغِبِيْنَ

Allâhumma lâ takhdzulnî fîhi lita’arrudhi ma’shiyatika, wa lâ tadhribnî bisiyâthi naqimika, wa zahrihnî fîhi min mûjibâti sakhatika, bimannika wa âyâtika yâ Muntahâ raghbatir râghibîn

Artinya:"Ya Allah, jangan Kau hinakan aku di bulan ini karena keberanianku bermaksiat kepada-Mu, jangan Kau cambuk aku dengan cambuk kemurkaan-Mu dan jauhkanlah aku dari (segala perbuatan) yang menyebabkan murka-Mu. Dengan anugerah dan kekuasaan-Mu wahai Puncak Harapan para pengharap,".

Beberapa Syarat Wajib Puasa

Puasa di bulan Ramadan ialah salah satu perintah dalam ajaran agama Islam. Ibadah ini tidak hanya berkaitan tanpa makan dan minum saja.

Namun juga wajib menjaga diri dari beberapa perbuatan yang bisa membatalkan puasa tersebut.

Seperti masuknya sesuatu ke dalam lubang tubuh secara sengaja, muntah dengan sengaja, atau melakukan hubungan suami istri di siang hari.

Mengalami haid atau nifas pada wanita juga bisa membatalkan puasa dengan sendirinya. Artinya, puasa menjadi batal dan wajib untuk diqhodo atau diganti di luar bulan ramadan.

Berkaitan dengan ibadah puasa, ada beberapa hal yang menjadi syarat wajib bagi seorang muslim. Artinya, jika tidak memenuhi beberapa persyaratan tersebut, maka kewajiban melaksanakan puasa bisa saja menjadi gugur.

Mengutip laman NU Online via artikel dengan judul "Syarat Wajib dan Rukun Puasa Ramadhan" yang ditulis Syaifullah Amin, ada 4 syarat bagi seorang muslim yang bisa dikenai kewajiban mengerjakan puasa. Yakni sebagai berikut ini:

Muslim

Syarat wajib yang pertama ialah seorang muslim atau muslimah. Berdasarkan salah satu hadis, dijelaskan bahwa:

"Dari Abi Abdurrahman, yaitu Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab r.a, berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Islam didirikan dengan lima hal, yaitu persaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, didirikannya shalat, dikeluarkannya zakat, dikerjakannya hajji di Baitullah (Ka’bah), dan dikerjakannya puasa di bulan Ramadhan". (HR Bukhari dan Muslim).

Balig

Balig memiliki pengertian cukup umur. Apabila seorang anak sudah balig, maka sudah wajib untuk menjalankan ibadah puasa di bulan ramadan.

Anak laki-laki bisa dikatakan balig jika sudah pernah keluar mani dalam keadaan tidur atau terjaga. Dan bagi wanita yaitu yang sudah mengeluarkan darah haid.

Melihat usia, batasan minimal 9 tahun bisa dikenakan kewajikan menjalankan puasa dengan syarat sudah pernah keluar mani atau haid. Andai belum pernah mengeluarkannya, maka batasan usia balig adalah 15 tahun.

Tidak Gila

Selain muslim dan balig, tidak dalam keadaan gila merupakan salah satu syarat dalam kewajiban menjalankan ibadah puasa.

Bagi orang yang tidak memiliki akal secara sempurna, baik karena catat mental atau gila yang disebabkan mabuk, maka ia tidak dikenakan kewajiban untuk puasa.

Mampu

Ibadah puasa butuh kekuatan fisik untuk melaksanakannya lantaran tidak akan makan dan minum dimulai sejak sebelum matahari terbit hingga tenggelam kembali.

Oleh karena itu, bagi orang yang tidak mampu melaksanakannya, maka tidak dikenai kewajiban puasa di bulan Ramadan.

Namun, tetap wajib mengganti di bulan berikutnya atau dengan cara membayar fidyah sesuai dengan hitungan hari melaksanakan puasa yang telah ditinggalkan.


Baca juga artikel terkait DOA PUASA HARI KE-6 atau tulisan menarik lainnya Beni Jo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Dhita Koesno
DarkLight