Djakarta Warehouse Project yang Menembus Batas

Kemeriahan Djakarta Warehouse project 2015. Doc. DWP
Oleh: Aditya Widya Putri - 10 Desember 2016
Dibaca Normal 1 menit
Djakarta Warehouse Project (DWP), festival musik elektronik terbesar di Indonesia kembali dihelat. DWP menyedot perhatian para pecinta musik elektronik tak hanya di dalam negeri juga mancanegara.
tirto.id - Hentakan musik keras penuh energi berbalut dengan gemerlapnya lampu warna-warni di panggung mengiringi muda-mudi yang asyik menggoyangkan tubuhnya.

Muda-mudi ini berkumpul menantikan para disc jockey (DJ) kenamaan dunia di festival Djakarta Warehouse Project (DWP). Mereka menghabiskan malam akhir pekan 9-10 Desember di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, untuk sebuah pertunjukan electronic dance music (EDM) alias musik dugem yang kian populer.

Panggung DWP di hari pertama digoyang oleh Destructo, Jason Ross, KSHMR, Martin Garrix, Rudimental, Snakehips, Yves V, Alan Walker, dan Zeed. Pada hari terakhir, nama-nama seperti Blasterjaxx, Carl Cox, Dipha Barus, Duke Dumont, Lost Frequencies, DJ Snake, dan Hardwell bergantian menggoyang ribuan penggemar musik elektronik dalam negeri hingga turis mancanegara.

DWP disebut-sebut mengalahkan festival serupa yang diadakan di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ajang ini juga dinobatkan sebagai “The Best Dance Music Festival of 2015” serta sukses menjadi salah satu festival musik dengan penonton terbanyak di dunia.

Sang promotor, Ismaya Live menargetkan jumlah penonton menembus 80 ribu orang, jauh lebih besar dari tahun lalu yang hanya 75 ribu orang. Rata-rata per tahunnya, jumlah penonton DWP naik sekitar 5 ribu orang. Peningkatan pengunjung ini berlawanan dengan anggapan bahwa musik elektronik di Indonesia masih barang yang tabu.



Tabu yang Menembus Batas

EDM identik dengan riuh orang-orang bergoyang mengikuti ramuan musik elektronik oleh para DJ. Tempo EDM yang paling lambat berkisar 60-90 beats per minute (bpm), dibandingkan dengan genre speedcore yang bisa melampaui 240 bpm. Hentakan musik semacam ini tentu membuat orang tak segan untuk meliukkan tubuhnya.

Masyarakat Indonesia masih melihat musik elektronik sebagai sesuatu yang tabu karena lekat dengan persepsi negatif, seperti dunia malam, obat-obatan terlarang, dan minuman beralkohol. Kepanikan moral masih menghinggapi tatkala musik elektronik dengan dunianya diperbincangkan.

EDM sebagai sebuah musik tercatat oleh sejarah dimulai sejak 1970, yang khusus diproduksi dan diputar di klub malam atau tempat yang digunakan untuk berdansa. Tentu, kala itu penggemarnya bisa hanya para penikmat klub malam.

Namun, seiring berjalannya waktu, EDM tak lagi tersegmentasi. Kini, tak jarang radio-radio di Indonesia memutar musik bergenre EDM. Televisi nasional seperti Net TV sempat menayangkan program pencarian bakat DJ dalam acara yang bertajuk The Re-Mix. Berbagai festival EDM di kota-kota Indonesia ramai dengan peserta.

Belum lama ini lagu dolanan “Ora Minggir Tabrak” dihadirkan kembali dalam balutan hip-hop bercampur EDM oleh Libertaria dan Kill the DJ sebagai soundtrack film AADC2 yang sukses di layar lebar.

“Melalui film AADC2 dan soundtracknya tampak EDM tumbuh berkembang melewati batas keistimewaan kota Yogyakarta,” kata Citra Aryandari, Musikolog kepada tirto.id.

Pendobrakan budaya lewat EDM ternyata tak hanya terjadi di Yogyakarta, juga di wilayah Indonesia lainnya memiliki musik elektronik yang dibaurkan dengan khasanah budaya lokal. Di Makassar, dan daerah lainnya sudah dikembangkan EDM yang berpadu dengan musik setempat.

Selain di Indonesia, mengawinkan unsur lokal dengan EDM juga terjadi di dunia. Ibiza misalnya, sebuah kota dalam kepulauan Balearic, Spanyol kemudian mengeksplorasi teks lokal yang kemudian berkembang menjadi Balearic Beat, sebuah beat yang sangat terkenal dalam genre EDM. Balearic beat menjadi contoh betapa EDM dapat melebur gaya lokal untuk memenuhi permintaan pasar dan menjadikannya subgenre yang dikenal luas.

EDM sebagai sebuah musik telah mendobrak nada, hirarki sosial, dan belenggu moral. EDM juga menghapus sekat-sekat antar negara. DWP misalnya, festival ini diperkirakan menyedot kunjungan 20 ribu wisatawan asing yang datang ke Jakarta.

Baca juga artikel terkait DJAKARTA WAREHOUSE PROJEC atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Musik)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Suhendra
DarkLight