Dilema Pemeran Pengganti: Antara Uang, Nyawa, Hasrat

Aksi stuntman terbakar, Brabant, Belanda [Foto/Shutterstock]
Oleh: Nuran Wibisono - 2 Desember 2017
Dibaca Normal 6 menit
Di Hollywood, dari 1959 hingga 2012, tercatat sudah 23 orang tewas saat melakukan adegan berbahaya.
Aksi Demian Aditya di ajang SCTV Awards 2017 menyisakan banyak pertanyaan. Salah satu dan yang paling utama adalah soal nasib pemeran pengganti (stuntman) yang dilibatkan dalam aksi bertajuk "Death Drop" itu.

Ide dasar dari aksi "Death Drop" adalah meloloskan diri. Demian harus mampu keluar dari peti yang jatuh mengenai duri-duri, atau semacam tombak, di bawah. Rentang waktunya sangat pendek bagi Demian untuk lolos yaitu sebelum tali yang menahan peti tersebut putus terbakar.

Pemeran pengganti yang berada di dalam peti disebut-sebut menjadi korban. Ia dikabarkan terluka parah karena tertusuk benda tajam di bawahnya.

Hingga kini Demian belum memberikan keterangan apa pun. Namun insiden tersebut kadung menyebar dan menjadi percakapan. Sekaligus membuka kembali diskusi mengenai posisi pemeran pengganti yang lebih dikenal dalam produksi film.

Peran yang Tak Tampak

Sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju kencang di jalan raya. Di balik kemudi, seorang pria mengerang kesakitan, tampak darah mengucur dari pelipisnya. Dari belakang melesat sebuah motor. Pengendaranya memakai setelan serba hitam. Celana, jaket, helm. Setelah menyalip satu mobil, si pengendara motor, dengan tangan kirinya, mencabut senapan uzi dari balik jaket. Trettettettettet! Dia memberondong mobil sedan itu.

Naas, ketika sudah sejajar, peluru si pengendara motor habis. Mobil sedan kemudian memepet motor, hingga motor terjatuh dan si pengendaranya bergelantungan di jendela. Dia terseret mobil. Karena tak bisa didorong hingga jatuh, pengemudi mobil mengambil senapan mesinnya kemudian, dor dor dor! Peluru berhamburan ke arah kepala.

Korban jatuh, dilindas mobil yang dari tadi ia gelayuti.

Seperti yang sudah anda duga, itu adalah adegan dalam film. The Raid 2: Berandal, tepatnya. Si pengemudi mobil adalah Oka Antara yang memerankan Eka, penasihat Bangun, kepala geng paling besar dan berpengaruh di kota J. Sedangkan pengemudi motor? Penonton tak akan tahu bahwa di balik helm itu adalah seorang stuntman bernama Udeh Nans.

"Sebagai stuntman, peran dan terkenal itu tak penting kok," kata Udeh sembari tersenyum.

Siang itu Udeh sedang bersantai di kantor Pejuang Stunt, di bilangan Cimanggis, Depok. Kantornya sepi. Hanya ada Udeh, ditemani secangkir kopi susu dan musik dangdut dari speaker laptop. Kawan-kawan lainnya sedang survei lokasi untuk syuting.

Udeh adalah satu dari sedikit sekali stuntman di Indonesia. Profesi ini memang terbilang langka di Indonesia. "Hanya sekitar 100 orang saja. Kalau fighter sih banyak," katanya.

Perjuangan Udeh cukup panjang. Menjadi seorang stuntman ternyata sudah jadi cita-citanya sejak SD. Waktu itu dia menonton film The Terminator yang dibintangi oleh Arnold Swarchzenegger. Dia terpukau, dan ingin melakukan adegan yang sama. Minatnya makin menjadi-jadi ketika waktu SMP, bersama teman satu sekolah, menonton film First Strike yang dibintangi Jackie Chan.

Tapi di kampung halamannya, Pemalang, Jawa Tengah, susah sekali mendapat akses informasi tentang cara untuk menjadi stuntman. "Baru pada 2003 saya pindah ke Semarang untuk jadi cleaning service. Di sana saya bisa ke warnet dan cari tahu tentang cara untuk jadi stuntman," bebernya.

Di 2005, dia menemukan Jelita Visindo, sebuah Production House, di internet. Udeh coba menelpon sutradara. Ternyata dia ditawari untuk datang ke Jakarta guna mencoba jadi stuntman. Maka Udeh pun pergi, berbekal hasil tabungan selama jadi tenaga pembersih di Semarang. Sejak saat itu dia bekerja keras menjadi stuntman. Tak mudah memang. Sebab profesi ini kerap kurang dihargai.

Bayaran Seorang Pemeran Pengganti

"Susah sekali di awal-awal dulu, terutama dari segi finansial," kata Udeh.

Jadi stuntman di Indonesia, berarti harus bersiap dengan kerja keras dan berbahaya, tetapi honornya sangat kecil. Menurut Udeh, sewaktu pertama kali kerja, dia tahu honor rekan-rekannya amat murah. Mulai dari Rp30 ribu per hari, hingga Rp70 ribu saja. Dia melakoni itu dengan santai. Namun, titik hidupnya berubah ketika dia bertemu dengan tim The Raid 2. Dia diajak sebagai kru stunt, juga sebagai stuntman.

"Film itu beda karena dari PH besar, dan sutradaranya punya passion ke film aksi. Kalau sutradaranya tidak punya passion itu, pasti akan beda. Kalau punya, sutradaranya akan melindungi stunt. Mereka tak mengizinkan stunt melakukan aksi bahaya tanpa perlindungan. Kemudian secara finansial, mereka pasti akan membayar stuntman dengan layak karena risiko yang besar," ujar Udeh panjang lebar.

Dari sana, kariernya menanjak. Dia beberapa kali membintangi film laga lain. Seperti Beyond Skyline dan Headshot, dua-duanya sedang memasuki masa praproduksi. Di dua film itu, Udeh akan kembali bekerja sama dengan Iko Uwais, aktor yang dikenalnya lewat film The Raid 2.

Udeh sempat menunjukkan show reel adegan stunt yang dia lakoni untuk film Headshot. Bertempat di jalan besar yang diapit hutan belantara, Udeh yang berlumur flame retardant --semacam gel anti api-- di muka, harus bertarung dengan api yang melalap sekujur tubuh.

Meski sudah menjulang, Udeh tak mau besar sendirian. Bersama rekan-rekannya yang satu visi, mereka mendirikan Pejuang Stunt. Perusahaan ini sudah ada sejak tiga tahun lalu, namun baru berbadan hukum sejak Januari 2016. Menurutnya, punya badan hukum akan membuat perusahaannya lebih berkembang. Terutama untuk melebarkan sayap ke film internasional.

"Sebab biasanya sutradara luar negeri itu mencari partner yang punya badan hukum," kata pria berambut sebahu ini.

Menantang Maut

Dalam sebuah wawancara, seorang wartawan bertanya pada Jackie Chan, aktor yang dikenal melakukan sendiri adegan-adegan berbahaya dalam filmnya.

"Apakah kamu pernah takut ketika melakukan adegan itu?"

"Ya jelas aku takut. Aku bukan Superman."

Para stuntman bisa dibilang sebagai daredevil, sebuah istilah untuk menyebut orang-orang yang melakukan hal-hal berbahaya untuk kesenangan dan tidak berpikir tentang risiko. Namun, tentu saja karena industri film semakin maju, risiko ini bisa semakin diperkecil hingga ke titik nol.

Meski demikian, kecelakaan di profesi ini adalah sesuatu yang lumrah. Organisasi Screen Actors Guild pernah melakukan penelitian pada 1982 hingga 1986 tentang aktor dan aktris yang mengalami kecelakaan ketika syuting. Hasilnya, ada 4.998 anggota SAG yang mengalami kecelakaan saat pengambilan gambar. Dalam studi itu juga dijelaskan, ada peningkatan kecelakaan sebesar 41 persen secara total.

Selain itu, juga diketahui bahwa tingkat kematian untuk syuting adegan berbahaya adalah 2,5/1.000, rasio yang lebih tinggi dibanding polisi, pekerja jalan raya, atau pekerja tambang.

Menurut Michael McCann, Ph.D, yang pernah menulis artikel Stunt Injuries and Fatalities Increasing, semakin tingginya tingkat kecelakaan dan kematian dalam syuting ini disebabkan karena dua faktor. Pertama karena adanya tren realisme. Dulu, adegan-adegan berbahaya hanya berupa uji coba dan tidak nyata. Sekarang, kalau ada adegan kecelakaan mobil atau kecelakaan helikopter, adegan itu nyata. Kedua, meningkatnya penggunaan efek spesial seperti api ataupun ledakan.

Di Hollywood, dari 1959 hingga 2012, tercatat sudah 23 orang tewas saat melakukan adegan berbahaya. Ini termasuk tewasnya Brandon Lee, anak aktor legendaris Bruce Lee, karena kesalahan prosedur dalam penggunaan senjata api dalam film The Crows. Kemudian seorang stuntman bernama Harry O'Connor yang menjadi pemeran pengganti Vin Diesel di film XXX, tewas saat menubruk tiang Jembatan Palacky, Republik Ceko, ketika melakukan adegan terjun payung.

Sementara di Indonesia, belum tercatat ada stuntman yang tewas. Meski demikian, Udeh selaku pendiri Pejuang Stunt, punya visi untuk menjamin keamanan para stuntman yang bergabung bersamanya. Selain masalah honor yang layak, paling tidak harus ada asuransi. Karena itu, hal administratif pun dia kerjakan.

"Sebab biasanya perusahaan asuransi yang mau kerja sama dalam jumlah besar, mereka hanya mau kerja sama dengan perusahaan," kata Udeh.

Untuk meminimalisir risiko, pria yang suka touring ini juga ingin mengambil sertifikasi untuk safety officer, P3K, water safety, juga sertifikasi untuk Basarnas, dan sertifikasi pemadam kebakaran.

"Saya ingin stunt di Indonesia itu gak cuma modal berani. Tapi juga bisa manajemen risiko. Misal ada apa-apa di lokasi syuting, kita bisa menanganinya."

Uang atau Nyawa

Meski berbahaya, profesi stuntman akan selalu ada. Sebab ada adegan-adegan film yang tak akan bisa digantikan oleh teknologi sekalipun. Dan, selama masih ada daredevil, para peminat profesi ini pasti akan terus ada.

"Aku pernah bilang kalau CGI akan membuatmu tak kreatif. Waktu itu aku meratapi berkurangnya adegan stunt karena semakin majunya teknologi," kata sutradara legendaris Steven Spielberg.

"Jika sebuah adegan bisa dilakukan stuntman secara aman, aku memilih itu ketimbang menggunakan CGI."

Di Hollywood, para aktor stunt sangat dihormati. Mereka dianggap pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka rela melakukan adegan berbahaya, tanpa wajah tersorot kamera.

Karena ini profesi dengan tingkat risiko tinggi, wajar kalau ada sekolah khusus untuk stuntman. Akademi Stunt Park, misalkan. Berdiri sejak 22 tahun lalu, akademi yang berdiri di tiga negara --Amerika Serikat, Australia, dan Thailand-- ini menawarkan berbagai pelatihan dan kelas untuk stuntman. Dari kelas dasar yang hanya butuh empat jam, hingga kelas Hollywood Stunt Course Master Class yang memakan waktu hingga 100 jam dengan biaya 4.400 dollar.

Di kelas pemula, siswa akan diajarkan teknik-teknik gerakan dasar. Seperti adegan pertarungan, permainan pedang, dan terbang dengan kabel. Di kelas master, para peserta akan diajarkan teknik berguling, bersalto di udara, jatuh dari ketinggian, hingga menaiki kuda.

Ada pula akademi International Stunt School, yang dikelola oleh United Stuntmen's Asscociation. Peminatnya selalu melimpah. Kuota untuk semua kelas di 2016, sudah terisi penuh. Padahal biayanya tak murah. Kelas dibagi dua, The Utility Stunt Course yang memakan waktu 150 jam pelatihan dengan biaya 4.300 dolar; dan The Aerial Intesive Course yang berlangsung selama 50 jam pelatihan dengan biaya 2.000 dolar.

"Sekolah ini amat bermanfaat, seimbang dengan waktu dan biaya yang kamu keluarkan. Dalam sebulan setelah lulus, aku mendapat peran stuntman utama di film Jack Reacher 2," kata salah satu alumni, Ashley Wilks.

Alumni sekolah ini memang cukup dikenal. Ada Roy Taylor yang bermain di film Star Wars: The Force Awakens dan James Bond's Spectre. Ada pula Jessie Graff yang bermain di Marvel's Agents of S.H.I.E.L.D, menjadi stuntwoman untuk salah satu peran utama yang dimainkan Adrianne Palicki. Ada pula Maya Santandrea dan Eric VanArsadle yang menjadi pemeran pengganti di film laris Captain America: Civil War.

Udeh sendiri punya visi untuk melanjutkan sekolah stuntman, entah di Amerika Serikat atau Australia. Menurutnya, dengan mengambil sekolah stuntman, ilmunya akan bertambah. Belum lagi kebanyakan produser film luar negeri selalu mencari stuntman dengan sertifikat. Meski itu artinya dia harus menabung cukup lama untuk membayar kursus stunt yang mahal.

"Itu investasi. Sesuai dengan passion saya, cita-cita saya,” katanya mantap.

Apakah semua biaya yang dikeluarkan oleh para stuntman itu sebanding dengan hasilnya? Meski tak sebesar pendapatan aktor utama, dompet stuntman bisa tebal. Apalagi kalau melakukan adegan yang nyaris musykil, di film berbujet besar. Untuk film-film aksi tertentu, studio film punya bujet khusus untuk tim spesial efek dan juga stunt. Seperti saat James Cameron menyediakan dana 51 juta dolar khusus untuk efek spesial dan stunt dalam film Terminator 2.

Honor stuntman beragam, tergantung aksi dan durasinya. Hollywood, sebagai sebuah industri film yang punya standar, sudah mengatur honor layak untuk para stuntman. Pada 2013, honor harian para stuntman adalah 859 dolar, atau sekitar Rp11 juta. Untuk para stuntman yang disewa mingguan, honor mingguannya adalah 3.200 dolar, atau sekitar Rp41 juta.

Tentu jumlah itu akan jadi berkali-kali lebih besar kalau seorang stunt punya nama besar, dan untuk adegan yang berbahaya. Rick Sylvester, yang menggantikan Roger Moore dalam film James Bond: The Spy Who Loved Me (1977) dibayar 30.000 dolar untuk sekali adegan melompat dari gunung salju. Dar Robinson, yang menggantikan Steve Mc Queen dalam film Papillon, pernah mendapat rekor dunia sebagai stuntman dengan honor termahal, mencapai 100.000 dolar untuk satu kali aksi. Tapi bayaran termahal untuk satu adegan dalam satu film, jatuh pada aksi Simon Crane di film The Cliffhanger, yang mendapat 1 juta dolar untuk adegan berjalan di atas tambang di antara dua pesawat di ketinggian 4.500 meter.

Sedangkan Udeh mengakui kalau bayaran layak pertamanya adalah ketika dia bermain di The Raid 2. Selain jadi kru stunt, dia juga berperan sebagai stuntman selama 4 bulan masa syuting. Selama masa kerja itu, total honornya berkisar antara Rp50 juta hingga Rp60 juta.

Namun, sama seperti kebanyakan daredevil di industri ini, para stuntman awalnya melakukan hal berbahaya ini bukan untuk uang. Melainkan untuk kesenangan. Jika mau bertahan dalam profesi yang berbahaya ini, kuncinya bukan melulu pada keuntungan finansial, ataupun kenekatan belaka. Tetapi kecintaan pada profesi.

"Yang dibutuhkan untuk jadi stuntman adalah passion. Kalau pengen survive ya harus punya passion," kata Udeh.

=====

Naskah ini pernah tayang pada 3 September 2016 dengan judul "Para Pecandu Adegan Berbahaya". Naskah dipublikasikan ulang dengan penyuntingan minor.

Baca juga artikel terkait PEKERJAAN atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Film)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight