Di Balik Sambutan Hangat Suporter Kosovo untuk Timnas Inggris

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 19 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Saat God Save the Queen terdengar di Pristina, orang-orang Kosovo ikut mengibarkan bendera Inggris. Jasa orang Inggris di masa perang, akan selalu hidup dalam ingatan bangsa Kosovo.
tirto.id - Sebelum berangkat menyambangi markas Timnas Kosovo untuk melakoni laga kualifikasi Piala Eropa 2020, Senin (18/11/2019) dini hari, skuat Timnas Inggris punya alasan untuk gelisah.

Kali terakhir melakoni sebuah pertandingan tandang, The Three Lions mendapat perlakuan lata dari barisan suporter Timnas Bulgaria. Tyrone Mings dan Raheem Sterling, dua penggawa mereka jadi sasaran rasisme para penghuni bangku Stadion Vasil Levski, Sofia.

Rasisme tersebut berujung kejadian besar: Borislav Mikhaylov, presiden federasi sepakbola Bulgaria, mundur dari jabatannya.

Kendati tak menjurus kekerasan fisik, kejadian ini juga bikin sejumlah penggawa skuat asuhan Gareth Southgate mengalami trauma. “Aku bahkan merasakan perlakuan [rasisme] itu sebelum peluit ditiup, saat kami masih pemanasan,” ujar Mings seperti dilansir Independent.

Namun, apa yang akhirnya dialami para pemain Inggris di tanah Kosovo, berbanding 180 derajat ketimbang kunjungan mereka ke Bulgaria. Di Fadil Vokrri Stadium, Pristina, orang-orang Kosovo menyambut para penggawa Inggris layaknya ksatria yang pulang dari medan perang.

Berbagai spanduk dengan ucapan, “selamat datang saudara”, atau “kami mengutuk rasisme terhadapmu,” bermunculan untuk menyambut Harry Kane dan kolega. Tiket pertandingan ludes terjual. Orang-orang berdesakan untuk menyapa para pemain tim tamu saat pertama menginjakkan kaki di bandara Adem Jashari, Pristina.

Puncak dari sambutan itu terjadi tatkala God Save the Queen, lagu kebangsaan Inggris berkumandang beberapa menit jelang kickoff pertandingan. Orang-orang Kosovo yang memadati tribun stadion tampak mengibarkan bendera Inggris.

Bahkan setelah negara mereka dibantai lawan 0-4, barisan suporter Kosovo keluar dari stadion dengan kepala tegak dan senyum mengembang di bibir.

“Ketika kami mengalami kejahatan genosida dan orang-orang di negara kami diperkosa, kalian [Inggris] datang memberikan harapan. Terima kasih Inggris,” tulis salah satu spanduk yang dibawa suporter Kosovo.


Balas Jasa atas Bantuan Perang

Di panggung sepakbola, Inggris bukan kesebelasan yang akrab untuk Kosovo. Keduanya baru berjumpa secara langsung pada kualifikasi Piala Eropa tahun ini. Khusus untuk Kosovo, mereka bahkan tergolong tim yang masih hijau; belum lama bergabung dengan induk sepakbola Eropa, UEFA.

Tapi fakta tersebut tak menghalangi hubungan manis kedua negara di lapangan hijau. Adalah masa lalu yang jadi musababnya. Inggris, dianggap sebagai negara yang punya jasa besar terhadap bangsa Kosovo.

“Aku masih ingat dulu sekali, para tentara Inggris yang membantu kami di sini begitu menghargai kami,” tutur Atdhe Muharremi, seorang fans Kosovo dan saksi hidup perang, seperti dilansir The Observer. “Ketika orang Kosovo bermain bola, para tentara Inggris bahkan meletakkan senjata mereka dan ikut bersenang-senang dengan kami di lapangan.”

Peristiwa yang dimaksud Muharremi terjadi penghujung 90an, saat Kosovo terlibat perang dengan Yugoslavia. Di masa konflik yang menumbalkan ribuan korban tersebut, berbagai upaya diplomasi yang gagal memicu peningkatan kehadiran militer Yugoslavia--didominasi pasukan Serbia--di wilayah Kosovo.

Sebagai upaya memaksa etnis Albania di Kosovo mengosongkan rumahnya, seiring berjalannya waktu kekerasan dan perampokan marak terjadi. Harta benda dijarah dan dibakar. Para wanita jadi korban perkosaan, ribuan laki-laki ditahan, dan tak sedikit yang dieksekusi mati.

Kondisi desa-desa yang dihuni etnis Albania di Kosovo semakin tak karuan. Tak kurang dari 200.000 warga sipil akhirnya mengungsi. Hampir 70.000 di antaranya pindah ke negara-negara tetangga, termasuk Montenegro.


Lalu muncullah NATO, beranggotakan negara-negara Sekutu/Blok Barat—termasuk Inggris—yang mendukung Kosovo dengan mengirimkan pasukan militer untuk membantu negara tersebut.

Menurut arsip NATO, kala itu Inggris ikut urun menyumbang 19.000 orang ke dalam pasukan NATO. Selain membantu Kosovo dari kekerasan pihak lawan, pasukan ini juga mengebom wilayah Yugoslavia pada 24 Maret sampai 10 Juni 1999.

Operasi serangan yang diberi nama Operation Allied Force ini, selain berhasil menghancurkan infrastruktur kota seperti jembatan, industri, gedung-gedung publik, perusahaan dan basis militer, juga telah menewaskan 488 warga sipil Yugoslavia dan meningkatkan jumlah pengungsi Kosovo, seperti dicatat oleh Human Rights Watch tahun 2000.

Perang akhirnya paripurna lewat Perjanjian Kumanovo. Pasukan militer Yugoslavia dan Serbia kemudian setuju menarik diri dari Kosovo, dikukuhkan lewat Resolusi Dewan Keamanan PBB 1244.


Bantuan Inggris untuk Kosovo tak berhenti di situ. Seperti dinukil Guardian, pada 25 April 2008 Inggris pernah mengirim sekitar 600 tentara untuk menjaga perdamaian di Kosovo pasca-kemerdekaan negara tersebut. Inggris juga merupakan salah satu negara Eropa yang mendukung serta mengakui penuh kemerdekaan Kosovo.

Saking berjasanya, menurut catatan The Times, hingga saat ini banyak orang tua di Kosovo menamai anaknya ‘Tonibler’. Nama ini disadur dari sosok Tony Blair, Perdana Menteri Inggris era 1997-2007. Blair tercatat sebagai salah satu sosok yang pro terhadap kemerdekaan Kosovo, dan berkali-kali mengunjungi negara tersebut.

“Kami bukan sedang cari perhatian. Kami hanya ingin berterima kasih pada Inggris. Sejujurnya, kami tidak perah berpikir mendapat kesempatan melakukan ini dalam sebuah pertandingan sepakbola,” ujar Blodin Gagica, seorang warga Kosovo dan pemilik bar yang berlokasi 500 meter dari Stadion Pristina.

“Sampai sekarang aku masih merinding tiap mengingat bantuan Inggris kala itu. Aku benar-benar merasakan tuhan sedang menolong kami.”


Memangkas Trauma Rasisme


Perlakuan suporter Kosovo kepada pemain dan staf Timnas Inggris barangkali sesuatu yang terlihat sederhana. Tapi, sikap ini punya andil tidak kalah besar ketimbang bantuan yang diberikan tentara Inggris untuk negara tersebut puluhan tahun silam.

Pelatih Inggris, Gareth Southgate menilai sambutan hangat ini membikin para pemainnya lebih rileks usai trauma atas serangan rasisme di Bulgaria.

“Aku benar-benar senang menginjakkan kaki di Kosovo. Kami semua senang. Terima kasih untuk semua orang yang menyambut kami, bahkan sejak tiba di bandara,” tutur Southgate.

Media-media Inggris pun tak ketinggalan mengapresiasi sikap warga Kosovo.

Jurnalis sepakbola The Athletic, Jack Pitt-Brooke, menilai hubungan baik Inggris dan Kosovo akan jadi fenomena jangka panjang yang bisa mengubah citra sepakbola. Apalagi Timnas Kosovo punya prospek bagus untuk berkiprah di panggung Eropa layaknya Inggris. Kendati cuma finis di peringkat tiga fase kualifikasi, Kosovo masih berpeluang lolos Piala Eropa 2020 lewat jalur playoff.

Hal serupa disampaikan Nick Ames, jurnalis The Guardian yang hadir langsung meliput pertandingan Kosovo vs Inggris di Pristina. “Menara-menara di Kosovo kini menjadi saksi bahwa lewat sepakbola, semua orang berhak punya harapan,” tulisnya.

Baca juga artikel terkait KUALIFIKASI PIALA EROPA 2020 atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Abdul Aziz
DarkLight