Di Balik Lambatnya Pengadopsian 5G di Seluruh Dunia

Oleh: Ahmad Zaenudin - 8 Maret 2021
Dibaca Normal 3 menit
Pengadopsian 5G berlangsung lambat di seluruh dunia. Masalahnya teknis.
tirto.id - Agustus-September 2018 silam, tatkala Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games, Telkomsel melakukan uji coba 5G dalam satu tempat khusus di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) bernama "Telkomsel 5G Experience Center". Dalam Experience Center berbiaya USD 1 juta itu, Telkomsel memamerkan teknologi 5G melalui berbagai perangkat, termasuk unjuk gigi betapa cepatnya 5G digunakan untuk live streaming, Football 2020 (video game), Future Driving, hingga autonomous bus yang dapat digunakan penonton Asian Games berkeliling area GBK. Tak ketinggalan, Telkomsel juga menggandeng beberapa perusahaan teknologi penyedia perangkat 5G, seperti Samsung dan Huawei.

Di depan awak media, Ririek Adriansyah, yang kala itu menjadi bos Telkomsel, menyebut dibukanya Telkomsel 5G Experience Center dilakukan sebagai komitmen Telkomsel untuk mendukung Asian Games sekaligus "ajang pertunjukan bagaimana teknologi 5G bekerja".

Namun, meski demonstrasi 5G dari Telkomsel ditujukan untuk masyarakat luas, Ririek menambahkan 5G berbeda dengan telekomunikasi 4G yang sudah familiar di masyarakat hari ini. Teknologi 4G lebih dimaksudkan untuk keperluan manusia, seperti berselancar di dunia maya, sementara 5G untuk mesin. Baginya, adalah pemborosan seandainya 5G digunakan untuk berselancar.

“5G sudah beda, tidak lagi untuk buka internet. Percuma. Misalnya satu laman web dalam satu klik muncul, kita baca kan perlu waktu juga,” terang Ririek kala itu.

Ririek tak mengira, lebih dari dua tahun berlalu usai ia menyebut bahwa 5G "percuma" apabila digunakan masyarakat umum, pandemi COVID-19 menghantam dunia. Dalam studi berjudul "The Lockdown Effect: Implications of the COVID-19 Pandemic on Internet Traffic" yang terbit di arXiv Oktober lalu, Anja Feldmann menyebut ada peningkatan lalu-lintas internet antara 15 hingga 20 persen di seluruh dunia sejak pandemi. Tak ketinggalan, menurut survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2019-2020 (kuartal-2), 196,71 juta dari 266,91 juta penduduk Indonesia, atau setara dengan 73,7 persen populasi, telah sah menjadi penduduk dunia maya. Angka ini tumbuh 25,5 juta jiwa dari survei periode sebelumnya. Mudah ditebak, corona adalah faktor utamanya.

Corona membuka mata banyak orang bahwa internet kini adalah kebutuhan primer. Di situlah orang berwebinar via Zoom, belajar di Khan Academy atau Ruangguru, atau bekerja melalui berbagai alat GSuite. Internet, hari ini, tidak sebatas untuk "satu laman web dalam satu klik muncul". Ironisnya, tatkala internet semakin penting, 5G yang menjanjikan kecepatan tinggi belum juga tiba di sebagian besar wilayah di dunia. Di Amerika Serikat, misalnya, Brian X. Chen dari The New York Times melaporkan bahwa 5G "baru tersedia di sebagian kecil kota" dan menjangkau sedikit masyarakat perkotaan. Jika pun ada, 5G "masyarakat tidak mendapatkan kesempatan jaringan selulernya secara signifikan, alias biasa-biasa saja". Sementara itu, di Indonesia sendiri, pemerintah membatalkan kemenangan tender 5G Telkomsel, Smartfren, dan Hutchison Tri.

Hiroshi Ikezawa, dalam laporannya untuk Japan Times akhir Februari lalu, menyebut pemerintah Jepang berencana membangun 280.000 hotspot 5G hingga akhir Maret 2024 mendatang. Wakil Menteri Koordinasi Kebijakan Jepang Yasuhiko Taniwaki menyatakan pembangunan dilaksanakan karena "virus Corona telah mempengaruhi bidang telekomunikasi. Corona membuat semakin banyak orang sadar bahwa telecommuting, pendidikan jarak jauh, dan telemedicine dapat membantu masyarakat mempertahankan aktivitasnya tanpa kontak fisik".

Jepang akan mempercepat pembangunan 5G dengan cara mengganti infrastruktur 4G yang telah menjangkau 99 persen wilayahnya dengan 5G. Masalahnya, menurut Hisakazu Tsuboya, Manajer Departemen Bisnis 5G & IoT NTT DOCOMO, keinginan Jepang ini tak gampang dilakukan. Alasannya, "pita frekuensi 5G berbeda dengan 4G".

Masalah Teknis

"Tiap sepuluh tahun sekali, generasi baru teknologi mobile tiba di dunia," tulis Theodore S. Rappaport, dalam studi berjudul "Millimeter Wave Mobile Communications for 5G Cellular: It Will Work!" yang terbit pada jurnal IEEE Access Vol. 1 2013. Generasi pertama, sistem selular FM analog, atau dapat disebut sebagai 1G, tiba di dunia pada 1981 silam dan disusul sistem digital, alias 2G, pada 1992. Menginjak 2001, 3G lahir. Sepuluh tahun kemudian, 4G LTE-A muncul. Kemunculan teknologi baru di dunia komunikasi mobile, tutur Rappaport menghadirkan kemampuan baru, dari sebatas "telekomunikasi berbasis suara" dengan sistem analog (1G) dan digital (2G) menjadi "telekomunikasi segalanya" melalui 3G dan 4G.

Meskipun usia 4G cukup tua, 3G masih mendominasi di seluruh dunia. Hingga studi yang ditulis Rappaport diterbitkan, 3G telah diadopsi lebih dari 150 negara dan 350 perusahaan provider telekomunikasi di seluruh dunia. Sementara itu, tingkat adopsi 4G masih berstatus "kian mendekati 3G". "Penggabungan kemampuan HSPA (3G) dan LTE (4G)," tulis Rappaport, "dapat meningkatkan kecepatan data di waktu-waktu sibuk hingga 100 Mbps". Ini dapat terjadi karena teknologi yang digunakan 3G, Orthogonal Frequency-Division Multiplexing (OFDM), dapat digabungkan dengan teknologi 4G, Multiple-Input Multiple-Output (MIMO), yang disebut LTE-Advanced.

Infografik Komparasi Kecepatan Jaringan Telekomunikasi
Infografik Komparasi Kecepatan Jaringan Telekomunikasi


Melihat kebiasaan "sepuluh tahun sekali", 4G seharusnya sudah digantikan 5. Masalahnya, merujuk studi berjudul "5G Ultra-Dense Cellular Networks" yang terbit pada jurnal IEEE Wireless Communications (2015), Xiaohu Ge menyebut bahwa mengganti 4G dengan 5G tidak sama seperti mengganti RAM atau hard disk dengan kemampuan lebih tinggi di komputer. "Pita frekuensi 5G berbeda dengan 4G," tulis Tsubouya. Pada 5G, internet ditransmisikan/diterima melalui "millimeter wave", gelombang radio yang memiliki panjang dari sepuluh hingga satu milimeter. Suatu gelombang yang dipancarkan melalui pita frekuensi super tinggi (Extremely High Frequency), yang hanya dapat digunakan dalam spektrum elektromagnetik dari 30 hingga 300 gigahertz (GHz). Milimeter wave membuat data dapat ditransmisikan/diterima dengan sangat cepat. Sialnya, ia hanya dapat menjangkau area kecil alias terbatas.

Untuk menghadirkan 5G, teknologi ini tidak dapat bertumpu pada macrocell base stations alias tower telekomunikasi semata, melainkan small cells base stations atau semacam "router khusus". Dalam tataran ideal, sebut Ge, small cells base stations harus diletakkan dalam rentang tiap 500 kaki (152 meter) untuk menghadirkan 5G dengan kecepatan 1000x dari 4G. Sementara itu, untuk memberikan akses 3G/4G di dunia saat ini, 8 hingga 10 macrocell base stations per kilometer persegi, cukup.

Dalam studi berjudul "What Will 5G Be?" yang terbit pada jurnal IEEE edisi spesial sistem komunikasi nirkabel 5G (2014), Jeffrey G. Andrews menyatakan intensitas macrocell base stations harus ditambah. Jika 4G hanya membutuhkan 36 macrocell base stations untuk suatu wilayah, misalnya, 5G butuh hampir tiga kali lipatnya, 96. Dengan cara ini kecepatan akan bertambah dari 24,5 Mbps menjadi 1,4 Gbps.

Tentu, membangun small cells base stations dan macrocell base stations dalam jumlah ideal agak sulit dilakukan. Andrews sendiri menyebut bahwa seharusnya pihak yang hendak membangun 5G melakukan pemetaaan wilayah. Untuk wilayah perdesaan, small cells base stations dan macrocell base stations dapat dibangun agak berjauhan, sementara di wilayah padat penduduk small cells base stations dan macrocell base stations diperbanyak. Untuk perkara ini, yang menentukan adalah anggaran yang tersedia dan permintaan pasar.

Baca juga artikel terkait INTERNET atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight