Di Balik Hilangnya UC Browser di Google Play Store

Oleh: Ahmad Zaenudin - 16 November 2017
Dibaca Normal 3 menit
UC Browser menghilang dari toko aplikasi Android, Google Play Store. Kenapa?
tirto.id - UC Browser tiba-tiba menghilang dari toko aplikasi Android Google Play Store. Browser atau perambah mobile bikinan UCWeb, di bawah kendali Alibaba ini diketahui raib setelah ada laporan pengguna forum internet Reddit.

Upaya pencarian via Google Play Store, dengan menggunakan kata kunci “UC Browser” hasilnya memang nihil. Praktis, hanya versi “mini” dari aplikasi itu yang saat ini masih tersedia di Google Play.

Hilangnya UC Browser dari Google Play cukup mengherankan, karena baru seminggu lalu, UC Browser merayakan kesuksesan mereka atas 500 juta unduhan. Aplikasi ini mampu bersaing dengan perambah-perambah top lainnya.

Data yang dipacak dari Statista mengungkapkan UC Browser ada di posisi ke-3 sebagai perambah aplikasi mobile dengan pangsa pasar tertinggi di seluruh dunia per Oktober lalu. Capaian ini setara dengan 14,11 persen pangsa pasar perambah mobile. Sampai saat ini, Chrome memang masih merajai dengan 49,51 persen pangsa pasar. Urutan kedua, dipegang oleh Safari dengan 18,11 persen pangsa pasar.

Masuknya Chrome dan Safari sebagai dua besar memang bukanlah suatu yang mengherankan. Chrome, merupakan perambah bikinan Google, yang juga memiliki Android, sistem operasi mobile terbesar di dunia. Safari, serupa dengan Chrome, ia dikembangkan oleh Apple.

Jika secara global UC Browser berada di urutan ke-3, lain lagi dengan kondisi di Indonesia. Per bulan Oktober lalu, merujuk data yang dipaparkan Statcounter, UC browser merupakan perambah mobile nomor wahid di Indonesia. Ia menguasai 38,43 persen pangsa pasar. Unggul tipis dari Chrome dengan 37,33 persen pangsa pasar.

Baca juga: Berlomba Saling Klaim Jadi Browser Paling Irit

Sehingga hilangnya UC Browser dari toko aplikasi tentu menjadi tanda tanya. Google bahkan tidak menyampaikan secara tegas apa penyebab pasti hilangnya UC Browser pada Google Play Store.

“Kami tidak dapat memberikan komentar mengenai aplikasi secara individu, semua aplikasi di Google Play harus mematuhi terms of service dari Google,” kata perwakilan Google Indonesia penjelasannya kepada Tirto.

Sementara itu, pihak UC Browser memberi keterangan bahwa penghapusan aplikasinya oleh Google hanya bersifat sementara.

“Saat ini kami telah mendapatkan konfirmasi dari pihak Google Play Store mengenai penghapusan sementara aplikasi UC Browser dari Google Play Store. Hal ini akan memakan waktu selama 7 hari dimulai dari 13-20 November besok,” ungkap Viola Xu, Branding Communications Team UC Browser dalam penjelasannya kepada Tirto.

Infografik UC Browser



Pihak UC Browser mengungkap bahwa hilangnya aplikasi UC Browser terjadi atas adanya pengaturan tertentu yang tengah disesuaikan dengan platform Google Play Store.

“Hal ini terkait dengan adanya bagian tertentu di dalam pengaturan dari aplikasi UC Browser yang sedang dalam penyesuaian di platform Google Play Store. Saat ini kami juga sedang menyelidiki lebih lanjut mengenai permasalahan terkait dan sekaligus juga memperbaiki permasalahan tersebut,” ucap pihak UC Browser.

“Saat ini kami sedang mengunggah versi terbaru dari UC Browser dan sedang dalam evaluasi dari tim Developer Console di Google Play Store. Kami akan terus bekerja sama secara aktif dengan Google Play Store untuk terus memantau segala hal yang terkait dengan permasalahan ini,” jelas pihak UC Browser.

Kasus India dan Masalah Privasi

Namun, menghilangnya UC Browser dari Google Play Store dikaitkan dengan masalah privasi, terutama dalam kasus di India. Pada Agustus lalu, UC Browser tengah diawasi oleh Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi India. Di India, sama hal dengan di Indonesia, UC Browser menguasai pasar.

“Keluhan telah diterima atas tindakan UC Browser mengirimkan data mobile atas penggunanya di India pada server mereka di Cina. Dampaknya sedang kami lihat,” ucap juru bicara kementerian pada Times of India.

Kementerian yang bertanggung jawab atas dunia maya di India itu mengatakan bahwa UC Browser masih tetap bisa mencuri data pengguna meskipun aplikasinya telah dihapus dari smartphone.

“Ada keluhan (dari pengguna) bahwa meskipun aplikasi telah dihapus atau data berselancar telah dibersihkan, UC Browser masih menyimpan kendali DNS para penggunanya,” kata perwakilan kementerian.

Adanya kekhawatiran UC Browser bisa mencuri data pengguna tanpa izin sesungguhnya telah diperingatkan sejak 2015 lalu. Dalam laporan Reuters, Citizen Lab, institute penelitian di bawah kendali University of Toronto, Kanada, menyebut bahwa versi Bahasa Inggris UC Browser terbukti memberikan informasi pribadi penggunanya seperti lokasi, informasi pencarian, nomor perangkat, pada pihak pengembang pihak ketiga.

Selain versi Bahasa Inggris, Citizen Lab mengatakan bahwa versi bahasa Cina perambah mobile ini, jauh lebih rentan dibanding versi Bahasa Inggris. Bila menggunakan UC Browser versi Bahasa Cina, pengguna akan mudah terpapar dengan isu privasi yang lebih besar. Namun, atas dugaan pelanggaran privasi itu, pihak UC Browser membantah tuduhan tersebut.

“Kami juga telah menerima banyak laporan informasi menyesatkan mengenai UC Browser seperti UC Browser dilarang di India karena kebocoran data dan dugaan promosi berbahaya. Alasan penghapusan aplikasi UC Browser ini tidak ada kaitannya dengan dugaan pelanggaran keamanan data ataupun promosi berbahaya karena kami berkomitmen untuk menanggapi isu terkait keamanan dan privasi dengan serius,” tegas UC browser.

Penghapusan UC Browser memang mengundang tanya, tapi bila diamati lebih jauh, pada tanggal yang sama UC Browser dihapus, Google telah menyebar peringatan ke banyak developer aplikasi seperti dilaporkan Gadgets To Use. Peringatan itu terkait dengan layanan Android Accessibility Service pada Aplication Programming Interface Android.

Melalui layanan itu, aplikasi yang berjalan pada Android bisa dibuat ramah terhadap kaum disabilitas, dengan kemudahan-kemudahan tertentu yang diberikan Google. Sayangnya, layanan tersebut banyak disalahgunakan developer aplikasi. Selain disalahgunakan, Google mengungkapkan bahwa Android Accessibility Service memiliki lubang keamanan yang berbahaya.

Dalam peringatan yang dikirim, Google meminta developer menjelaskan apa manfaat layanan Android Accessibility Service pada aplikasi yang dibuat. Jika developer tak menjawab dalam 30 hari, Google akan menendang aplikasi yang bersangkutan.

Isu privasi pengguna seperti yang dituduhkan pada UC Browser, tidak hanya menimpa aplikasi ini saja. Narseo Vallina-Rodriguez, peneliti dari International Computer Science Institute, University of California Berkeley, dalam tulisannya di Scientific American, mengatakan bahwa 70 persen aplikasi smartphone, mengirim data pribadi penggunanya paling tidak kepada satu pihak ketiga. Sementara itu, 15 persen aplikasi yang diteliti diketahui mengirim data pada lebih dari 4 perusahaan pihak ketiga.

Namun, yang lebih mengejutkan, Vallina-Rodriguez mengungkap bahwa di beberapa aplikasi pelacak data pengguna, terindikasi memiliki nomor unik perangkat seperti IMEI bahkan nomor telepon pengguna.

Kesimpulan ini terungkap setelah menganalisa 1.600 orang memanfaatkan aplikasi buatannya beserta tim, bernama Lumen Privacy Monitor. Lumen, bekerja menganalisis data yang dikirimkan oleh aplikasi yang terpasang pada smartphone penggunanya semenjak Oktober 2015. Melalui Lumen, Vallina-Rodriguez menganalisa lebih dari 50.000 aplikasi.

Baca juga artikel terkait UC BROWSER atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra