Dari Gamer, oleh Gamer, dan untuk Gamer

Oleh: Dea Anugrah - 2 Agustus 2016
Dibaca Normal 2 menit
Sekalipun mod umumnya beredar secara gratis, ia tetap menguntungkan industri video game yang komersial. Fitur-fitur yang diinginkan konsumen tapi tidak tersedia dalam versi asli bisa terwujud sebagai mod. Ia juga berpengaruh langsung terhadap penjualan permainan orisinal yang dijadikan landasan. Meski pada mulanya dibuat untuk bersenang-senang, mod berperan penting dalam kesuksesan industri video game.
tirto.id - Anda ingin Lyana Mormont duduk di Iron Throne dan menjadi “Queen of the Andals and the First Men and Protector of the Realm”? George R.R. Martin dan HBO, juga Telltale selaku pengembang Game of Thrones versi video game, besar kemungkinan tidak akan mewujudkannya. Tapi tentu ada jalan lain. Sila ketik “Crusader Kings 2: A Game of Thrones” di mesin pencari langganan anda. Terima kasih kembali.

Anda ingin Carl Johnson, karakter utama dalam Grand Theft Auto: San Andreas melakukan salat dhuha agar setiap pintu mobil yang dibukanya menjadi pintu rezeki? Bisa diatur, dan Rockstar Games, pengembang permainan itu, tidak harus dilibatkan.

Industri video game adalah salah satu industri hiburan terbesar di dunia. Pada 2015, ia menjala 91,8 miliar dolar Amerika Serikat. Dibandingkan tiga tahun sebelumnya, jumlah itu meningkat sebanyak 13,3 miliar dolar. Lembaga riset Newzoo memperkirakan pada 2019 pendapatan industri tersebut akan mencapai 118,6 miliar dolar Amerika Serikat atau 1.546 triliun rupiah, seperti target penerimaan pajak Indonesia tahun ini.

Salah satu faktor di balik kekuatan dan pertumbuhan gila-gilaan industri yang bahkan belum berumur 50 tahun itu ialah demokrasi: pengembangan sebuah video game oleh dan untuk para pengguna. Hasil pengembangan yang lazimnya tidak resmi itu dikenal sebagai mod.

David Kushner dalam “Its' a Mod, Mod World” menerangkan bahwa mod bisa berupa tampilan baru, tambahan konten (berupa level, karakter, barang-barang, misi, dan lain-lain), penyimpangan mekanisme permainan (gameplay tweak), atau rombakan menyeluruh. Jenis yang terakhir diciptakan lewat total conversion modding atau TCM. Dalam TCM, engine atau program dasar video game dipertahankan, namun isinya dirombak secara signifikan, sehingga menghasilkan video game “baru.”



Sekalipun mod umumnya beredar secara gratis, ia tetap menguntungkan industri video game yang komersial. Fitur-fitur yang diinginkan konsumen namun tidak tersedia dalam versi asli bisa terwujud sebagai mod. Hal itu berpengaruh langsung terhadap jumlah penjualan dan umur video game di pasaran. Luke Plunkett dari situs Kotaku menyatakan banyak orang membeli sebuah video game hanya agar dapat memainkan mod-nya.

Siapa yang tidak kenal Counter-Strike dan Defense of the Ancients alias DotA? Dua video game sejuta umat itu adalah mod. Counter-Strike dirancang oleh Minh Le dan Jess Cliffe berdasarkan permainan Half-Life dari Valve, sementara DotA oleh—antara lain—Steve Feak dan IceFrog berdasarkan Warcraft III dari Blizzard Entertainment.

Counter-Strike adalah cabang klasik dalam kompetisi-kompetisi video game, baik di tingkat nasional, regional, maupun dunia. Demikian pula DotA. Keduanya tampil dalam turnamen-turnamen bergengsi seperti World Cyber Games, Electronic Sports League dan lain-lain, dengan peserta yang datang dari seluruh penjuru dunia.

E-Sports Earnings melaporkan hadiah terbesar dalam sejarah kompetisi video game, 18,4 juta dolar Amerika Serikat, diperebutkan dalam The International 2015. Turnamen itu adalah “Piala Dunia” untuk DotA 2, sekuel DotA yang dirilis oleh Valve pada 2013. Valve memperkerjakan IceFrog sejak 2009 dan memenangkan hak komersial DotA dari Blizzard Entertainment selaku pemilik engine Warcraft III serta Riot Games yang mempekerjakan Steve Feak pada 2012.

Dengan hadiah turnamen yang lebih besar daripada Le Tour de France (sepeda), Superbowl (American football), dan NBA Finals (bola basket), wajar bila DotA dianggap sebagai—ungkapan Patrick Howell O'Neill dari The Daily Dot—“Ilmu yang pantas dipelajari secara sungguh-sungguh alih-alih sekadar pengisi waktu luang.”

Para pemain bisa menjadi atlet profesional dengan penghasilan yang serius. Peter Dager alias ppd, seorang atlet DotA 2 berkebangsaan Amerika Serikat, telah memperoleh 2,2 juta dolar dari 55 kompetisi yang ia ikuti. Itu belum termasuk gaji dari sponsor, pendapatan dari iklan, dan lain-lain.

Terlepas dari urusan profesional, minat atas DotA 2 tetap gegap-gempita. Steam Charts mencatat jumlah pemain terbanyak (pada saat bersamaan) dalam sebulan terakhir adalah 1,1 juta orang. League of Legends, “sekuel” lain DotA yang dikembangkan Riot Games, mempunyai lebih dari 35 juta pemain dari seluruh dunia dan kompetisi akbar League of Legends World Championship.

Semua itu mungkin terjadi berkat mod. Craig Peterson dari Valve mengatakan “Pendekatan yang tepat [dalam industri video game] bukanlah dengan hubungan antara pembuat dan konsumen, tetapi pendekatan kolaboratif, di mana bagian-bagian tertentu dalam sebuah produk merupakan ciptaan kami dan bagian-bagian yang lain diciptakan oleh komunitas, dengan batas-batas yang senantiasa bergeser.”

Hubungan dua arah itu adalah jaminan masa depan yang cemerlang bagi industri video game. Perusahaan-perusahaan pengembang untung karena mod memperkaya dan memperbaiki produk-produk mereka, sementara pembuat mod mendapat panggung untuk memamerkan kebolehannya. Sebagaimana diperlihatkan IceFrog dan Valve atau Steve Feak dan Riot Games, mod bisa menjadi jalan menuju kesuksesan. Dan yang terpenting: Rakyat atawa konsumen senang belaka.

Bila anda jadi memainkan Crusader Kings 2: A Game of Thrones, jangan lewatkan kesempatan mengebiri Ramsay Bolton dan menggoreng Cersei Lannister. Terus terang, itu jauh lebih memuaskan ketimbang dua musim terakhir sinetron tersebut.

Baca juga artikel terkait MOD atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Hobi)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight