Dana Abadi Pendidikan Ditambah Rp10 Triliun Pada 2017

Oleh: Addi M Idhom - 14 April 2017
Dibaca Normal 1 menit
Menristek Dikti, Mohamad Nasir menyatakan ada tambahan sebesar Rp10 triliun pada 2017 untuk dana abadi pendidikan.
tirto.id - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Mohamad Nasir mengatakan pemerintah akan mengucurkan Rp10 triliun untuk tambahan dana abadi pendidikan pada 2017.

"Pada 2017 kami mengharapkan tambahan Rp10 triliun ke dalam dana pendidikan yang nantinya hasil pengelolaan dananya digunakan untuk beasiswa dosen dan lainnya," ujar Nasir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, pada Jumat (14/4/2017) seperti dilansir Antara.

Dana abadi pendidikan atau secara resmi disebut Dana Pendidikan Indonesia selama ini dikelola oleh Lembaga Dana Pendidikan Indonesia (LPDP) yang penerimaannya berasal dari investasi dana abadi. Di awal 2017, LPDP sudah mengelola dana sebesar Rp22,5 triliun. Sejak 2013 hingga tahun ini, sudah ada 16.293 orang yang mendapatkan beasiswa LPDP.

Nasir mengimbuhkan pemerintah memperkirakan besaran dana abadi pendidikan akan terus meningkat menjadi Rp150.000 triliun pada 2018. Targetnya, pada 2030 dana abadi itu sudah mencapai Rp400 triliun.

Menurut Nasir, pemberian beasiswa LPDP akan terus memberikan prioritas kepada dosen-dosen yang mengajar di perguruan tinggi negeri baru (PTNB) untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang doktor.

"Lalu bagaimana mengganti dosen yang ada sekarang lagi belajar? Kami minta agar ada kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengirim pegawainya yang sudah pascasarjana ke Kemenristek Dikti dan bisa mengajar. Tahun depan kami berharap ada kuota penerimaan dosen untuk PTNB," kata dia.

Nasir memberi contoh mekanisme itu bisa diterapkan di Universitas Bangka Belitung yang merupakan PTNB dan saat ini memiliki 186 dosen tapi sebagian besar pengajarnya sedang menempuh pendidikan.

"Kami menargetkan pada 2024 semua dosen Universitas Bangka Belitung sudah doktor semua," kata dia.

Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Eko Prasetyo juga pernah menyatakan sebanyak 30 persen kuota beasiswa setiap tahunnya diperuntukkan bagi warga di daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T).

"Untuk daerah 3T memang ada afirmasi khusus," ujar dia di Jakarta pada 26 Februari 2017 lalu.

Bentuk afirmasi itu berupa seleksi bagi pendaftar beasiswa dari daerah 3T berbeda dengan masyarakat dari daerah lainnya. Misalnya, salah satu syarat kemampuan Bahasa Inggris untuk beasiswa luar negeri yakni skor TOEFL 550 atau IELTS 6,5, maka untuk masyarakat dari daerah 3T bisa di bawahnya. Pembekalan pelatihan bahasa Inggris bagi penerima beasiswa dari kawasan 3 T juga lebih lama, yakni ada yang enam bulan dan ada juga setahun.

Baca juga artikel terkait DANA PENDIDIKAN atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Addi M Idhom
Penulis: Addi M Idhom
Editor: Addi M Idhom