Menuju konten utama

Daftar Negara yang Protes Kasus Pembakaran Al-Quran di Swedia

Berikut adalah daftar negara yang memprotes kasus pembakaran Alquran di Swedia.

Daftar Negara yang Protes Kasus Pembakaran Al-Quran di Swedia
Sejumlah pengunjuk rasa yang tergabung dalam komunitas Muslim Malang Bergerak membawa poster saat berunjuk rasa di depan Balai Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (27/1/2023). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/YU

tirto.id - Sejumlah negara melakukan aksi protes terhadap kasus pembakaran Alquran di Swedia yang dilakukan Rasmus Paludan, seorang politikus sayap kanan. Peristiwa itu dikecam oleh Turki, Mesir, Indonesia, PBB, hingga negara-negara Arab.

Ribuan warga muslim di penjuru dunia melakukan aksi turun ke jalan untuk memprotes tindakan Rasmus Paludan yang telah membakar kitab suci umat muslim di Stockholm, Sabtu, 21 Januari 2023 lalu.

Mengutip laman Indian Express, puluhan orang berkumpul di depan Kedutaan Swedia di London pada Sabtu (28/1). Mereka memprotes tindakan Paludan dengan meneriakkan sejumlah tuntutan.

Di depan Kedubes Swedia di Kuala Lumpur, Malaysia, aksi yang sama juga terjadi. Sedangkan di Teheran, Iran, ribuan demonstran memenuhi jalanan dan ikut serta dalam protes mengecam penodaan terhadap Al-Quran.

Tidak hanya itu, warga di beberapa negara lain juga menggelar aksi yang sama. Di antaranya Afghanistan, Pakistan, Iraq, Lebanon, serta Indonesia.

Di Swedia, Perdana Menteri Ulf Kristersson mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Radio Swedia bahwa aksi pembakaran Al-Quran itu merupakan tindakan tercela dan mempolarisasi. Namun, ia menganggap hal tersebut sah-sah saja.

Daftar Negara yang Protes Pembakaran Alquran

1. Turki

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengancam tidak akan mengizinkan Swedia bergabung dengan NATO selama negara tersebut memberikan izin aksi menodai kitab suci umat Islam.

Di hadapan anggota parlemen Turki, seperti dikutip AP News, Erdogan menegaskan,"Swedia, jangan terlalu sibuk! Selama Anda mengizinkan kitab suci saya, Al-Quran, dibakar dan disobek, dan Anda melakukannya bersama dengan pasukan keamanan Anda, kami tidak akan mengatakan 'ya' untuk masuknya Anda ke dalam NATO."

2. Mesir

Kementerian Luar Negeri Mesir mengutuk keras aksi pembakaran Alquran di Swedia. Mereka menyatakan keprihatinan yang mendalam atas terulangnya kejadian tersebut dan meningkatkan eskalasi Islamofobia di sejumlah negara Eropa.

Bahkan, menurut laporan Alarabiya.net, Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan Muslim Sunni paling bergengsi di dunia, telah menyerukan aksi pemboikotan produk Swedia dan Belanda setelah para pengunjuk rasa dari kelompok sayap kanan negara itu menghancurkan Alquran.

3. PBB

Sementara perwakilan tertinggi PBB juga mengutuk keras terhadap aksi pembakaran kitab suci umat Islam oleh politikus sayap kanan Swedia-Denmark itu.

Seperti dikutip dari Al-Jazeera, Perwakilan tinggi Aliansi Peradaban PBB, Miguel Angel Moratinos, mengungkapkan, "meskipun Perwakilan Tinggi menekankan pentingnya menjunjung tinggi kebebasan berekspresi sebagai hak asasi manusia yang mendasar, tetapi tindakan pembakaran Al-Quran merupakan ekspresi kebencian terhadap Muslim,".

Moratinos juga menyatakan prihatin atas meningkatnya aksi diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan yang dialami komunitas agama dan lainnya.

4. Indonesia

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri turut memprotes terhadap aksi pembakaran Alquran di Swedia.

Dalam pernyataan yang ditulis di Twitter resmi, Kemenlu menyampaikan 3 hal, yakni "Indonesia mengutuk keras aksi pembakaran kitab suci Al-Qur'an oleh Rasmus Paludan, politisi Swedia, di Stockholm (21/1)".

Kemudian "Aksi penistaan kitab suci ini telah melukai dan menodai toleransi umat beragama,". Serta "Kebebasan ekspresi harus dilakukan secara bertanggung jawab."

5. Arab

Sejumlah negara Arab, termasuk Arab Saudi, Yordania dan Kuwait mengecam aksi yang terjadi di negara Eropa itu. Bahkan, beberapa negara mayoritas Muslim lainnya juga melakukan tindakan yang sama, seperti Pakistan dan Somalia.

"Membiarkan tindakan penuh kebencian yang menghina kesucian dan nilai-nilai Islam sama sekali tidak dapat diterima," ujar pernyataan Kementerian Luar Negeri Somalia, Senin (30/1).

"Ini adalah praktik demagogis yang mencitrakan kebencian dan rasisme serta mendukung agenda ekstrimisme dan terorisme," lanjut mereka.

Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Politik
Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Alexander Haryanto