Clodi, Pengganti Diaper yang Boros dan Membahayakan Lingkungan

Oleh: Aditya Widya Putri - 23 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Selain bisa membikin kulit menjadi ruam, pemakaian diaper juga mencemarkan lingkungan.
tirto.id - Ruam karena pemakaian popok sekali pakai atau diaper seringkali menjadi masalah yang membikin para ibu pusing. Lazimnya, untuk mengatasi ruam, mereka memberikan krim khusus anti-ruam. Namun, masalah akan kembali berulang karena pemakaian diaper masih terus berlanjut.

Pengalaman berurusan dengan ruam popok sempat dirasakan Loka Widyasti (33). Sejak anak pertamanya lahir pada 2004, Loka, sama seperti ibu lainnya, sempat menjajal diaper karena praktis. Ia tak perlu capek bolak-balik mencuci popok dan cukup membuang diaper bekas ke tempat sampah.

Namun, sampai tiga bulan pemakaian, sang anak mengalami ruam di kulit. Ruam terjadi di area yang bokong, lipatan paha, paha, dan sekitar alat kelamin bayi. Ia lalu menjajal beragam merk diaper untuk mengurangi ruam, mulai dari yang murah, hingga harga termahal. Namun, hasilnya sama saja: pantat bayinya lagi-lagi ruam.

Ruam anaknya terus muncul, meski Loka telah mengantisipasi dengan krim anti-ruam. Gejalanya baru hilang ketika sang anak dipakaikan popok kain. Namun, masalahnya popok kain tak punya daya serap tinggi dan lama. Ia akhirnya mencoba clodi, akronim dari cloth diaper.

Dalam bahasa Indonesia, cloth diaper juga berarti popok kain, tapi yang dimaksud dengan clodi adalah popok kain yang dilengkapi lapisan penyerap ompol. Lapisan dalamnya, bagian antarmuka dengan kulit bayi, yang relatif kering. Adapun luarnya dilapisi bahan polimer yang tak tembus air, sehingga popok tak bocor.

Lapisan penyerap ompol terbuat dari beragam material dengan kemampuan serap tinggi seperti mikrofiber, bambu, wool, serta kayu hemp.

“Dulu, sehari bisa 5-6 kali ganti diaper untuk menghindari kulitnya merah-merah, takut iritasi,” kata Loka, berbagi cerita. Hal itu membuat pengeluaran rumah tangganya cukup tinggi. Maka, ketika ia menggunakan clodi, selain bisa mengatasi ruam, Loka pun bisa lebih berhemat.

Saat bayinya memakai diaper, diselingi pemakaian popok kain, ia bisa mengeluarkan uang hingga Rp155 ribu per bulan hanya untuk biaya diaper. Dengan memakai clodi, ia cukup mengeluarkan kocek Rp70 ribu per clodi. Kini, total Loka memiliki dua lusin clodi yang dipakainya hingga anak kedua.

Memang mahal di awal, sebab kita harus mengeluarkan modal lumayan untuk memberi beberapa clodi. Namun, secara jangka panjang, sangat hemat. Jika masing-masing anak memakai clodi selama 2 tahun, maka pengeluaran per bulannya kira-kira hanya sekitar Rp35 ribu per bulan.

“Tak ada kesulitan yang berarti ketika pindah clodi, cuma agak gempor nyuci. Tapi, enggak apa-apa, karena anakku bener-bener enggak bisa pakai diaper sedikit pun,” kata Loka.


Tak semua ibu beralih dari diaper ke clodi karena masalah ruam. Prinsip ekonomi dan ramah lingkungan juga menjadi alasan lainnya. Sama halnya seperti Loka, Aang Ariesta (29) seorang reporter televisi swasta mengungkapkan enam clodi anak pertamanya bisa dilungsurkan hingga anak kedua, meski kedua anaknya tak memiliki masalah sensitivitas kulit.

Pada 2014, ia memutuskan beralih ke clodi untuk penggunaan popok anaknya. Merk yang ia gunakan bermacam-macam. Ada PemPem, Royal Baby, dan GG, yang harganya berkisar antara Rp60-90 ribu per buah. Dalam sebulan, Aang mengaku bisa menghemat hingga Rp200 ribu dengan pemakaian clodi.

“Clodi jadi pilihan dibanding popok kain karena lebih tebal, jadi enggak langsung nembus basah seperti popok kain yang tipis,” kata Aang.

Jika dihitung, bayi umur 0-1 bulan membutuhkan diaper sebanyak 10-12 buah per hari. Total diaper yang digunakan satu bulan pertama bisa mencapai 320-360 buah. Lalu, pada umur 1-5 bulan, bayi butuh diaper 8-10 buah, maka total diaper per bulannya mencapai 240-300 buah. Kebutuhan ini sedikit menurun ketika bayi berusia 5-12 bulan, yakni diaper 8 buah per hari, berarti 240 per bulan. Total biaya selama setahun untuk membeli diaper seharga Rp30 ribu per 22 buah adalah Rp4,5 juta.

Sementara itu, jika memakai clodi, dengan asumsi ganti popok per empat jam sekali, maka dalam sehari bayi hanya membutuhkan 8 buah clodi. Supaya ada cadangan saat clodi dijemur, setidaknya orangtua perlu mempunyai persediaan clodi untuk dua hari. Dengan clodi seharga Rp70 ribu, para ibu hanya perlu mengeluarkan Rp1.120.000 untuk pemakaian berulang kali.

Namun, dengan memilih clodi, para ibu harus menerima konsekuensi lain, yakni cucian yang semakin menumpuk. Kerepotan pun semakin menjadi seiring bertambahnya usia anak, karena feses yang dikeluarkan kian padat. Alhasil, butuh tenaga ekstra untuk mencuci clodi-clodi mereka.

Hal inilah yang membuat Nuzulya Safitri Ilahude (29) mengakali penggunaan clodi. Ia hanya menyiapkan empat buah clodi, ditambah selusin popok kain dan diaper untuk pemakaian malam hari. Untungnya, wanita yang akrab disapa Mia ini tak terlalu risau masalah ruam popok. Anaknya tak punya masalah ruam serius seperti yang dialami bayi Loka.

“Untung kulit anak saya tidak terlalu sensitif, pakai diaper merek apa pun bisa. Ruam popoknya tergolong ringan dan bisa cepat sembuh dengan krim,” ujarnya.

Biasanya, popok kain dan clodi ia pakai di siang hari. Hal ini dilakukan dengan alasan agar area intim bayi mudah “bernapas” dan lebih sehat ketika lebih banyak aktivitas. Sementara itu, diaper selain digunakan pada malam hari, juga dipakai saat melakukan perjalanan jauh. Meski begitu, ia selalu berusaha mengganti diaper setiap 2-3 jam sekali.


Infografik popok bayi

Diaper dan Ragam Efek Lingkungannya

Ada lebih dari 16 miliar popok, yang mengandung sekitar 2,8 juta ton kotoran dan urine, dibuang ke tempat pembuangan sampah per tahunnya. Kotoran tersebut mengandung lebih dari 100 virus, termasuk polio dan hepatitis dari residu vaksin. Virus ini jelas berpotensi bahaya bagi pekerja sanitasi dan lingkungan karena dapat menyebar lewat air tanah atau terbawa lalat.

Idealnya, untuk meminimalisir dampak negatif tersebut, kotoran harus harus dibersihkan dari diaper sebelum diapernya dibuang. Namun, sayangnya menurut studi yang dilakukan Carl Lehrburger dalam tulisan “Diapers di Waste Stream”, hanya kurang dari 5 persen orang yang melakukan anjuran ini. Sebesar 92 persen diaper berakhir ke tempat pembuangan sampah dan perlu waktu sekitar 250-500 tahun bagi mereka untuk bisa terurai secara alami di lingkungan.

Pembuatan dan penggunaan diaper juga menghabiskan 2,3 kali air lebih banyak dibanding penggunaan popok kain. Untuk kebutuhan popok, seorang bayi setiap tahun saja dibutuhkan lebih dari 150 kg kayu, 25 kg minyak bumi, dan 10 kg klorin.

Diaper juga mengandung dioksin, produk sampingan dari proses pemutihan kertas yang bersifat karsinogenik. Selain dioksin, ada juga kandungan Tributyl-tin (TBT) dan natrium poliakrilat. TBT dapat mengganggu keseimbangan hormon pada manusia dan hewan, sementara poliakrilat—zat yang menjadi gel saat basah—meningkatkan risiko Toxic Shock Syndrome.

Pada 2000, penelitian yang dimuat Archives of Disease in Childhood menunjukkan bahwa suhu skrotum anak laki-laki yang memakai diaper meningkat. Pemakaian secara berkepanjangan dapat menghilangkan mekanisme pendinginan testis untuk spermatogenesis normal.

Namun, ragam efek buruk itu ternyata tak menyurutkan kepopuleran diaper, terbukti pemakaiannya terus meningkat. Pada 1990, lebih dari 70 persen bayi Amerika memakai produk ini, dan jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 95 persen di tahun 2015. Kondisi ini yang akhirnya juga mengakibatkan pencemaran metana dan gas rumah kaca 20 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.


Baca juga artikel terkait LIMBAH atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani