Menuju konten utama

Cina Sebut Pengunjuk Rasa Hong Kong Sebagai Demonstran Radikal

Pengunjuk rasa yang berdemonstrasi di Hong Kong dituding radikal dan menganggu warga lainnya.

Cina Sebut Pengunjuk Rasa Hong Kong Sebagai Demonstran Radikal
Ilustrasi demo Hong Kong. ANTARA FOTO/REUTERS/Issei Kato /djo/

tirto.id - Cina menaikkan status demonstran Hong Kong dari "rusuh" menjadi "pejuang rusuh" dalam pertemuan HAM PBB di Jenewa, Rabu (11/9/2019). Cina juga menyebut demonstran sebagai demonstran radikal ketika Joshua Wong mengadakan kampanye pro-demokrasi di Jerman.

Dikutip dari Aljazeera, pemimpin Federasi Perempuan Hong Kong pro-Cina, Pansy Ho Chiu-king mengkritik keras aksi unjuk rasa yang terjadi di Hong Kong dalam pertemuan tersebut.

Dia mengatakan, orang-orang Hong Kong telah diganggu karena demonstrasi tersebut, yang menurutnya, berakhir dengan kekerasan tanpa alasan dan tindakan melawan hukum.

"Tingkat anak-anak muda yang mengkhawatirkan melarikan diri dari rumah untuk menjadi pejuang kerusuhan garis depan, radikal untuk melakukan tindakan kriminal," katanya.

Ho tidak menyinggung tindak kekerasan yang dilakukan polisi terhadap demonstran dan pengamat independen. Padahal, beberapa di antaranya berakhir dengan cedera serius.

Jutaan orang telah turun ke jalanan Hong Kong selama 14 minggu berturut-turut menentang pemerintahan Cina untuk menuntut demokrasi di Hong Kong.

Pada Selasa (10/9/2019), Joshua Wong, aktivis demokrasi Hong Kong bertemu dengan Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas. Hal tersebut membuat Menteri luar negeri Cina memanggil duta besar Jerman di Cina.

"Yang saya bisa katakan adalah begitu besarnya kekecewaan Cina, dan kami memrotes dengan kuat. Insiden ini akan memiliki dampak yang sangat negatif dalam hubungan bilateral," kata Wu Ken, duta besar Cina untuk Jerman.

Wu menyebut aktor-aktor radikal Hong Kong menggunakan alasan demokrasi untuk menyembunyikan niat separatis mereka. Cina juga beranggapan bahwa ada kekuatan eksternal di balik kerusuhan Hong Kong.

Di sisi lain, Joshua Wong (22) menyebut bahwa Hong Kong adalah Berlin baru dan menyamakannya dengan komunis Jerman Timur yang menyebabkan jatuhnya tembok Berlin.

"Jika kita sekarang ada di perang dingin, Hong Kong adalah Berlin baru," kata Wong, dikutip The Guardian. "Kami mendesak seluruh dunia untuk berdiri bersama kami mengalahkan rezin otokratis Cina." lanjutnya.

Sebelumnya, Wong ditahan di Hong Kong ditahan petugas keamanan sementara sebelum keberangkatannya ke Jerman, karena dianggap menyalahi persyaratan jaminannya.

Dalam pertemuannya dengan Menlu Jerman tersebut, ia menyatakan telah ditangkap delapan kali dan ditahan selama 100 hari, serta membayar denda 10 ribu dolar Hong Kong untuk dibebaskan.

Menanggapi pertemuan Wong dengan Jerman ini, juru bicara Cina menuding Jerman mencampuri urusan dalam negeri Cina.

"Sangat salah abgi media dan politisi Jerman untuk mencoba memasuki gelombang separatis anti-Cina," kata Hua Chunying, dalam sebuah konferensi pers Selasa (10/9/2019).

Ia menambahkan, pemerintah Cina sangat tidak setuju dan Jerman dianggap tidak sopan terhadap kedaulatan dan urusan internal Cina.

Menlu Jerman menolak anggapan tersebut dengan mengatakan bahwa normal bagi menlu untuk mengadakan pertemuan dengan anggota masyarakat sipil dan penting bagi pemerintah menjamin kebebasan bicara warganya.

Terkait dengan demonstrasi Hong Kong, PBB menyebut polisi Hong Kong menyalahi aturan dan standar internasional dalam penggunaan senjata, yang meningkatkan resiko kecelakaan dan luka serius, South China Morning Post melansir.

PBB berencana akan mulai mengintervensi keamanan di Hong Kong, dan menyerukan kepada internasional untuk membantu Hong Kong membuat penyelidikan independen terhadap unjuk rasa anti pemerintahan yang telah berlangsung sejak Juni lalu.

"Kantor HAM PBB mengkaji bukti kredibel pejabat penegak hukum yang menggunakan senjata yang tidak mematikan dengan cara yang dilarang oleh norma dan standar internasional," kata juru bicara Rupert Colville.

Baca juga artikel terkait DEMO HONG KONG atau tulisan lainnya dari Anggit Setiani Dayana

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Anggit Setiani Dayana
Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Yantina Debora