tirto.id - Sewaktu pertama kali pindah ke Jakarta medio 2014, saya berkesempatan berkantor di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat. Itu adalah pengalaman ngantor pertama saya seumur hidup. Awalnya cukup menyulitkan bagi manusia yang terbiasa kerja freelance dengan jadwal yang fleksibel. Di kantor media yang baru berdiri selama tiga bulan itu, saya “diharuskan” masuk pukul 9 pagi. Kata harus saya beri tanda petik karena ia bukan aturan yang mengikat. Setelah beberapa bulan berjalan, jam kantor kami lebih cair, bebas masuk jam berapa saja asal kerjaan beres.
Di tengah adaptasi itu, saya punya dua waktu favorit. Pertama, tentu saja, ketika kerjaan kelar dan bisa pulang. Waktu kedua adalah ketika jam istirahat tiba. Kalau sedang tidak ada rutinitas makan bersama teman-teman kantor, saya segera menghidupkan motor Mio merah tua yang saya beli dari abang, lalu ngider ke kawasan Cikini.
Menurut saya, ada banyak cara mengenali kota yang akan segera berusia 500 tahun ini. Kita bisa membaca sejarahnya lewat gedung-gedung tua, menyusuri gang-gang yang terselip di antara jalan besar, atau duduk berjam-jam memperhatikan orang berlalu-lalang di stasiun. Tapi, kalau boleh memilih cara yang lebih menyenangkan, saya selalu melakukannya lewat makanan. Sebab, kota sering kali menyimpan ingatan terbaiknya di atas piring.
Cikini dan Gondangdia adalah dua kawasan di Jakarta Pusat yang cocok untuk urusan ini.
Keduanya berdekatan, punya banyak cerita untuk ditelusuri. Ada restoran yang bertahan puluhan tahun, warung yang menjadi persinggahan pekerja kantoran, sampai kedai sederhana di sekitar rel kereta.
Sebagai orang yang senantiasa terpesona dengan semua yang berbau klasik dan vintage, saya tidak pernah tak terpukau oleh Cikini. Ia melambangkan semua yang indah dan molek tentang Jakarta --meski kenyataannya tak selalu seperti itu. Kisah-kisah Cikini dihidupkan oleh sejarah panjang, kelindan yang demikian erat dengan kebudayaan, hingga lokasi berbagai peristiwa penting dalam riwayat Republik.
Salah satu titik penting dalam perkembangan sejarah Cikini, tak lain tak bukan, adalah pelukis Raden Saleh yang baru pulang setelah dua dekade mengembara di Eropa. Sekira 1852, dia membeli tanah seluas kurang lebih 10 hektare, lalu membangun rumah di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Cikini.
Dari sana, waktu melesat.
Ada Gado-Gado di Kebun Binatang
Pada 1864, berdirilah Batavia’s Planten en Dierentuin alias taman margasatwa yang dibantun di atas tanah hibah dari Saleh. Taman ini dikelola oleh Perhimpunan Penyayang Flora dan Fauna Batavia (Culture Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia). Namanya berubah menjadi Kebun Binatang Cikini pada 1949.
Sekira satu dekade sejak Kebun Binatang Cikini hadir, ada seorang penjual gado-gado. Bingung mencari nama, maka dipilihlah nama yang mudah diingat: Gado-Gado Bonbin. Singkatan dari Kebon Binatang.
Gado-gado Bonbin menarik karena ia sedikit beda dengan kebanyakan gado-gado uleg gagrak yang jamak ditemui di Jakarta. Di Bonbin, tipenya adalah gado-gado siram, yang sebenarnya banyak dijumpai di daerah Jawa Timur. Jadi bumbu kacang akan dimasak dulu bersama aneka bumbu, kemudian disiramkan ke isian piring yang terdiri dari lontong, aneka sayur, tahu, kentang, dan remahan keripik melinjo.
Tekstur bumbunya halus, lebih tepat disebut saus: teksturnya silky ketimbang bumbu halus-kasar ala gado-gado uleg. Namun bedanya, jika melihat warna saus yang gelap, bumbu gado-gado Bonbin ini tidak memakai santan seperti gado-gado siram di Jawa Timur.
Namun tentu saja, ketika itu, sebagai wartawan muda yang baru merintis karier, saya tidak bisa sering-sering makan di Bonbin. Harganya bisa bikin dompet garuk-garuk kepala!
Nah, Gado-Gado Bonbin ini masih melekat menjadi nama meski akhirnya kebun binatang Cikini resmi pindah ke Ragunan pada 1969. Ini bikin saya ingat dengan Gudeg Permata di Yogyakarta, yang namanya diambil dari nama bioskop tempatnya berjualan seusai bioskop tutup. Ketika akhirnya bioskop Permata gulung layar sekira 2010, nama gudegnya tetap tak berubah hingga sekarang.
Yang Tersebar di Bawah Rel
Tentu saja sebagai wartawan baru ketika itu, saya tak perlu berkecil hati jika tanggal gajian masih lama. Dengan mudah, saya bisa menemukan banyak makanan dengan harga yang lebih bersahabat.
Di masa itu, saya setidaknya menemukan dua tempat yang jadi warung langganan. Pertama, penjual pecel, rawon, dan nasi campur ala Jawa Timur yang dulu berjualan di depan nasi uduk Gondangdia. Rasanya mengingatkan pada rumah. Apalagi rawonnya. Mungkin sampai sekarang saya belum pernah menemukan rawon ala tahlilan seperti di tempat itu. Kuah rawon cukup pekat, dengan toge pendek, dan lebih banyak gajih ketimbang daging. Sambalnya merah, dengan rasa pedas yang nyelekit, kemudian rawon disajikan dengan kerupuk.
Ini bukan jenis rawon mewah yang dagingnya lean, tanpa lemak/ gajih. Saya justru kurang suka dengan rawon seperti ini. Bagi saya, rawon yang hanya berisi daging lean alias daging tanpa lemak, adalah rawon wong sugih. Kok kurang menarik gitu, rasanya. Rawon yang oke, dalam hemat saya, adalah rawon dengan perpaduan daging dan gajih yang proporsional. Kamu bisa dapat liatnya daging, sekaligus dapat tendangan gurih dan tekstur kenyal dari gajih. Nah, rawon di bawah rel kereta api ini tipe rawon yang seperti itu.
Namun pada suatu hari, warung yang hanya bermodalkan satu etalase, dua meja panjang yang jadi satu, satu bangku panjang, dan lima kursi plastik ini hilang begitu saja.
“Diangkut tadi pagi,” kata tukang parkir di sekitar sana. Alias: ibu penjual rawon ini kena gusur.
Nasib sama juga terjadi pada warteg dari Semarang yang juga terletak tak jauh dari warung pecel rawon itu. Ikan asap kuah mangutnya bikin saya mengerjap di suatu siang. Tak butuh waktu lama, saya jadi langganan. Dalam seminggu bisa makan dua kali ke sana.
Tapi begitu lah. Suatu siang setelah semingguan saya bertugas di luar kota, warung itu sudah hilang. Jejak yang tersisa hanya tiang-tiang kayu yang belum dibersihkan. Tak ada aroma mangut. Nihil pula keramaian di sana.
Siang itu saya makan di warteg lain dengan hati dongkol.
Yang Panjang Usia
Namun saya membayangkan, inilah dinamika sebuah kawasan. Penghuninya datang dan pergi. Entah dengan sukarela atau dipaksa. Ini juga terjadi di kawasan Cikini dan Gondangdia yang memang termasuk kawasan lama di Jakarta. Saya kerap berimajinasi berapa ribu tempat makan yang pernah ada, punya pelanggan, lalu kemudian hilang dan tak pernah ditemui lagi.
Karena itu rasanya selalu menyenangkan melihat tempat makan yang bisa tahan sedemikian lama. Kalau di Jepang, kita bahkan bisa melihat warung/ restoran yang sudah berusia lebih dari satu abad.
Di Cikini dan Gondangdia, mungkin belum ada yang sampai melampaui usia abad, tapi yang mendekati cukup banyak. Selain Bonbin yang sudah ada sejak 1960, ada juga soto H. Ma’ruf yang berdiri sejak 1940-an, atau Bubur Cikini H.R Sulaeman, Bakmi Gondangdia, dan restoran Jepang Kigugawa yang ketiganya mulai berjualan sejak akhir 1960-an.
Dari area kudapan, Tan Ek Tjoan mungkin sudah bisa masuk ke century list, tapi toko roti legendaris ini bermula dari Bogor dan “baru” mulai berjualan di Cikini sejak 1950-an. Begitu pula es krim Tjanang yang membuat Cikini adem sejak 1951 dan konon merupakan salah satu sajian kesukaan Presiden Sukarno.
Sampai sekarang, meski saya sudah berumah di Jawa Barat dan berkantor di Jakarta Selatan, Cikini dan Gondangdia masih menempati posisi istimewa di hati. Kadang kalau lagi banyak waktu luang, saya sering naik KRL, turun di Stasiun Cikini, lalu makan entah di nasi uduk Pasar Kembang yang terletak di seberang stasiun atau di Soto Ambengan pertigaan Raden Saleh atau di Ampera 2 Tak.
Sebenarnya dulu di depan pintu masuk pasar kembang ini ada satu warung hidangan Cina yang cukup underrated, tapi saya sudah lama tak melihatnya lagi.
Lagi-lagi, inilah dinamika...
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id


































