28 Oktober 2008

Chitra Dewi, Aktris 'Tiga Dara' yang Jadi Simbol Perempuan Ideal

Chitra Dewi. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Indira Ardanareswari - 28 Oktober 2019
Dibaca Normal 4 menit
Chitra Dewi adalah bintang film tiga zaman. Terkenal karena dianggap mencitrakan sosok perempuan ideal.
tirto.id - “Saya sudah tua, tidak perlu [piala] Citra. Kalau mau piala saya bisa beli sendiri, piala yang gede.”

Walaupun mengaku sudah tidak ingin menggendong Piala Citra karena merasa sudah tidak muda lagi, kenyataannya Chitra Dewi, yang sudah menginjak usia 45 itu, masih punya kesempatan memboyong sebuah piala dalam ajang Festival Film Indonesia 1979.

Untuk pertama kalinya, Chitra Dewi berhasil menyabet sebuah piala FFI untuk kategori Pemeran Pembantu Terbaik Wanita lewat film Gara-Gara Istri Muda arahan Wahyu Sihombing. Ia mengaku bukan satu-satunya bintang film “tua” yang mendapatkan penghargaan tahun itu.

“Kali ini yang tua-tua kebagian Citra seperti Sukarno M. Noor. Saya tentu bangga dong karena baru kali ini dapat Citra dalam usia segini,” tutur Chitra Dewi, seperti dikutip majalah S.K.M. (27/5/1979).

Chitra Dewi dikenal juga sebagai bintang film tiga zaman. Kariernya memanjang selama 38 tahun (1955-1993). Ia menghabiskan kurang lebih dua tahun dari masa kariernya itu di balik layar sebagai sutradara dan produser, sebagaimana dipaparkan Grace Swestin dalam makalah “In The Boys Club: A Historical Perspective on The Roles of Women in The Indonesian Cinema 1926-May 1998.”

Swestin mengimbuhkan bahwa Chitra Dewi merupakan satu dari empat sutradara perempuan satu-satunya yang pernah dimiliki Indonesia sebelum 1998. Di bawah perusahaan Chitra Dewi Film Production, ia pernah memproduksi lima buah film, tiga di antaranya merupakan arahannya sendiri. Pada 1973 Chitra Dewi memilih turun dari kursi sutradara dan produser karena kewalahan.

Sejak saat itu, Chitra Dewi memilih melanjutkan karier sebagai pemain film. Sebelum resmi mengakhiri kariernya di layar lebar dan beralih ke televisi pada 1993, Chitra Dewi sempat diganjar Penghargaan Kesetiaan Profesi 1992 oleh Dewan Film Nasional. Dilanjutkan dengan Lifetime Achievement Award dari Festival Film Bandung (FFB) pada 2007.

Satu tahun setelah menerima penghargaan terakhirnya, bintang yang bersinar berkat film drama populer Tiga Dara itu mengembuskan napas terakhir pada 28 Oktober 2008, tepat hari ini 11 tahun lalu.

Anak Bangsawan yang Main Film

Chitra Dewi bukanlah nama aslinya. Ia terlahir dengan nama Roro Patma Dewi Tjitrohadikusumo. Dari namanya saja sudah dapat diketahui bahwa Dewi masih berdarah bangsawan.

Dewi lahir pada 26 Januari 1934 dari seorang ayah yang masih satu satu garis keturunan dengan Keprabonan Cirebon. Tidak ada satu pun di antara keluarganya yang memiliki ikatan dengan dunia perfilman Indonesia kala itu. Bahkan, menurut penuturan Dewi, keluarganya sempat memandang rendah karier bintang film.

Pada masa itu, stigma yang diterima bintang film tidak berbeda dengan apa yang diterima pemain panggung sandiwara atau anak wayang. Perempuan dianggap tidak pantas menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan tontonan atau bahan ledekan orang banyak. Seolah tidak terpengaruh, akhirnya Dewi nekat juga menjajal profesi bintang film.

“Saya ya jadi sedih. Tetapi keadaan ini juga mendorong saya untuk membuktikan bahwa karir ini bisa dititi dengan bersih,” kata Dewi, seperti dikutip Kompas (16/12/1990).

Sejak kecil sebenarnya Dewi sudah penasaran dengan dunia film. Begitu lulus dari SMP, ia diam-diam melamar ke Perusahaan Film Nasional (Perfini) milik Usmar Ismail. Meskipun mengaku tidak memiliki pengetahuan apa-apa di bidang film, toh, nyatanya Dewi berhasil mendapatkan peran kecil di film Tamu Agung.

Nama Pemberian untuk Peran Paling Sulit

Sekitar tahun 1955, Usmar Ismail yang baru kembali dari California untuk belajar sinematografi sedang kepikiran membuat adaptasi film musikal berjudul Tiga Dara. Menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia Jilid 2 (2009: 37-38), Usmar terinspirasi dari film Amerika berjudul Three Smart Girls yang ditontonnya ketika masih menjadi siswa MULO.

Seperti film-filmnya yang terdahulu, Usmar memang selalu ingin mengajak wajah-wajah baru, terutama perempuan untuk berperan dalam filmnya. Hal ini didasari rasa prihatinnya terhadap jumlah pemain film perempuan yang masih sangat sedikit kala itu.

“Biasanya dari ratusan lamaran yang diterima oleh bagian casting yang datang dari kaum hawa tidak lebih dari sepuluh. Dan dari sepuluh itu si sutradara sudah dapat mengucap syukur jika ada satu yang dapat dibawa ke depan kamera,” tulis Usmar dalam kumpulan tulisan Usmar Ismail Mengupas Film (1983: 182).

Agar dapat membuat Tiga Dara, Usmar tidak hanya membutuhkan satu perempuan, tetapi tiga untuk mengisi peranan Nunung, Nana, dan Neny. Begitu melihat Dewi, Usmar pun langsung cocok dan mengajaknya mengisi peranan sebagai Nunung. Rosihan Anwar mendeskripsikan karakter Nunung sebagai perempuan sabar yang rela mengalah untuk tidak menikah karena Nenny, salah satu adik perempuannya, justru menyukai pria yang hendak meminangnya.

Kepribadian seperti itu tampak yang dicari Usmar dalam diri Dewi. Menurutnya, sifat-sifat menarik dari seorang tokoh perempuan tidak hanya dari bentuk tubuh atau mata bundar yang cemerlang, tetapi juga pada “keseluruhan personality yang memaksa orang terpesona.”

Agar dapat memainkan karakter demikian, Dewi mengaku menemui banyak kesulitan. Ia menyebut Nunung sebagai peran paling sulit yang pernah ia mainkan dari seluruh film-filmnya. Menurut Dewi, semua itu terjadi lantaran ia tidak memiliki pengalaman menjadi gadis muda perkotaan yang kebingungan karena terlambat menikah.

“Betul kok, saya kan cuma tamatan SMP. Lagi pula waktu itu saya sudah jadi ibu muda. Sedang perannya harus menjadi seorang gadis yang bisa nyanyi dan menari. Tapi akhirnya saya bisa,” kata Dewi dalam wawancara Majalah Film (No. 83, September 1989).

Dewi memang mengaku menikah di usia yang sangat muda, yakni 16 tahun. Suaminya bernama Raden Samaun, juga berdarah ningrat. Mereka dikaruniai tiga anak laki-laki. Sayang pernikahannya ini kandas tidak lama setelah Dewi mengambil nama panggung Chitra Dewi dan menjadi terkenal berkat Tiga Dara.

Dalam wawancara Sinar Harapan (30/5/1983), Dewi mengakui nama Chitra yang tersemat di depan nama aslinya tidak datang dari buah pikirnya sendiri. Usmar Ismail lah orang yang berjasa memberikan nama panggung itu sebelum memulai Tiga Dara.

“Bahkan nama Chitra Dewi itu sendiri dari pak Usmar Ismail. Entah dari mana, saya tinggal menerima saja. Waktu beliau masih hidup saya tak sempat tanya,” terangnya.


Citra Perempuan Ideal

Misbach Yusa Biran dalam Peran Pemuda dalam Kebangkitan Film Indonesia (2009: 152) menggambarkan Tiga Dara sebagai film hiburan ringan yang punya kapasitas interaksi dengan penonton. Selain dipenuhi lagu-lagu gembira karya Ismail Marzuki yang dilantunkan oleh pemain-pemain baru berwajah segar, film ini juga dianggap berhasil menampilkan citra perempuan ideal.

Pendapat itu secara khusus dilontarkan Misbach kepada sosok Chitra Dewi yang “dianggap mewakili wanita Indonesia yang ideal, lembut dan pemalu.” Sosok Dewi yang sederhana dan pemalu ini seolah dibenarkan oleh penampakan wajah bulat Dewi yang jauh dari kesan make-up tebal, rambut yang senantiasa tersanggul rapi, dan selalu tampil dalam balutan kebaya.

Di bawah Perfini, peranan-peranan yang dimainkan Chitra Dewi memang tidak pernah jauh dari citra perempuan yang lemah lembut. Dalam Djenderal Kantjil, ia membawakan peranan ibu yang bijaksana. Sementara dalam Pak Prawiro, Dewi kembali memainkan istri yang berperangai baik. Kedua film tersebut dirilis pada 1958.

Dewi terus bekerja sama dengan Usmar Ismail sampai sekitar tahun 1960. Film terakhirnya di bawah Perfini merupakan film berlatar Revolusi Indonesia berjudul Pedjuang. Meskipun hanya mengisi peran pembantu, permainan akting Dewi sebagai perempuan melankolis yang menanti kekasihnya kembali dari medan perang ini disebut-sebut menjadi salah satu yang terbaik.

Sepanjang kariernya yang terus meroket sepanjang 1960-an, peranan yang dibawakan Dewi hampir tidak berubah. Pada 1969 Dewi mendapat peran utama dalam film Nji Ronggeng produksi Dewan Produksi Film Nasional (DPFN) yang masih tergolong perusahaan film milik negara. Krishna Sen dalam artikel “Wajah Wanita dalam Filem Indonesia: Beberapa Catatan” yang dimuat di majalah Prisma No. 7 (Juli 1981), menyebut film ini tidak ubahnya film-film Orde Baru yang gemar mengemukakan citra perempuan ideal.

“Perempuan ideal dalam film-film itu pertama-tama pasif, menderita tanpa protes, kuat perasaannya akan tetapi tidak mengungkapkannya. Semua dipendam dalam hati,” tulis Sen.

Sepanjang paruh kedua 1970-an dan 1980-an, Dewi hampir selalu memainkan peranan sebagai ibu. Pernah suatu ketika pada 1971, ia mengubah peranannya menjadi tante girang yang dimainkan dalam film Romansa. Pers pun beramai-ramai mencela aktingnya yang tidak sesuai dengan kostum yang dikenakan.

“Dalam film Romansa kita akan menjumpai keganjilan pada tokoh Tante Leila (Chitra Dewi). Karena predikat peran tante yang sudah rada seimbang dengan usia si pelakonnya ini terganggu oleh kostum rok mini setengah paha,” tulis Suara Karya (3/11/1973).

Baca juga artikel terkait AKTRIS INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight