Menuju konten utama

Cerita Korban Selamat Soal Detik-Detik Tsunami di Lampung Selatan

Salah satu korban selamat dari tsunami yang menerjang pesisir Lampung Selatan menceritakan kesaksiannya soal peristiwa saat air naik ke daratan.

Cerita Korban Selamat Soal Detik-Detik Tsunami di Lampung Selatan
Desa Waymuli pasca diterjang tsunami. FOTO/Lingga Baba

tirto.id - Sutan Brawijaya (21) sedang asyik nongkrong di Dermaga Bom Kalianda, Lampung Selatan, pada Sabtu (22/12/2018) sekitar pukul 21.00 WIB. Bersama ketiga kawannya, Sutan asyik berdendang dengan gitar kopong miliknya. Sebelum akhirnya keriaan itu terusik oleh teriakan banyak orang.

"Tiba-tiba orang-orang pada kabur. Aku berdiri lihat ada apa. Aku pikir razia polisi. Gak taunya pada teriak 'astagfirullahaladzim tsunami' larilah Sutan ke depan," kata Sutan saat dihubungi Tirto, Minggu (23/12/2018) siang.

Tanpa memikirkan apa pun, Sutan berlari menjauhi bibir dermaga menuju parkiran tempat motornya berada. Namun nahas, kondisinya terlalu riuh untuk bisa mulus melaju.

"Di depan itu ada mobil [yang menghalangi], kelamaan. Sutan loncatlah dari motor. Lari lagi," kata dia.

Dalam waktu yang menurutnya sangat cepat, Sutan langsung diterjang ombak. Dia mengaku sempat tergulung dalam air untuk durasi yang tak pasti diingatnya itu.

"Waktu aku ke gulung airnya deras. Langsung dihantam gitu, sekaligus 'duummm'," ujar Sutan. "Aku sempat minum airnya."

Setelah ombak itu surut. Secara cekatan, Sutan mengaku langsung memanjat atap rumah warga yang dekat dengannya. Dari posisinya yang sudah tinggi, Sutan melihat banyak warga yang basah kuyup, beberapa yang juga berada di atap rumah warga, dan kondisi jalan yang tak baik-baik saja.

Karena kejadian tersebut, Sutan menderita luka pada kakinya akibat terkena pecahan kaca. Pahanya memar karena terhantam sesuatu yang tak sempat ia sadari dan gawainyapun menjadi tak berfungsi karena terrendam air.

"HP ku rusak. Tapi Sutan bersyukur, kepalaku tidak kena hantam," ujarnya.

Ketika dihubungi wartawan tirto pada Minggu (23/12/2018) pukul 11:00 WIB, Sutan mengaku sudah berkumpul dan aman bersama keluarganya di rumah daerah Beringin Jaya, Bumi Agung.

Daerah Beringin Jaya memiliki posisi dataran yang lebih tinggi. Sehingga menurut Sutan, cukup aman. Beberapa warga dari dataran rendahpun tak sedikit yang mengungsi ke sana.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan tsunami yang menerjang sebagian pesisir di Lampung dan Banten, Sabtu malam kemarin, kemungkinan karena longsor di bawah laut karena pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pada saat bersamaan terjadi gelombang pasang akibat pengaruh bulan purnama, sehingga ada kombinasi antara fenomena alam, yaitu tsunami dan gelombang pasang.

“Berdasarkan rekaman seismik dan laporan masyarakat, peristiwa ini tidak disebabkan aktivitas gempa bumi tektonik, tapi sensor Cigeulis (CGJI) mencatat adanya aktivitas seismik dengan durasi ± 24 detik dengan frekuensi 8-16 Hz pada pukul 21.03 WIB,” menurut keterangan tertulis BMKG yang diterima Tirto, Minggu (23/12/2018).

Baca juga artikel terkait TSUNAMI LAMPUNG SELATAN atau tulisan lainnya dari Alfian Putra Abdi

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Addi M Idhom