Catatan Si Boy: Jualan Mimpi dan Kesalehan di Zaman Orba

Catatan Si Boy. tirto.id/Quita
Oleh: Petrik Matanasi - 15 November 2020
Dibaca Normal 2 menit
Catatan Si Boy adalah film laris antara 1987 hingga 1991. Ceritanya tentang pemuda bernama Boy yang sangat sempurna di zamannya.
Seperti judul, film ini dibuka dengan Boy yang sedang asyik menulisi buku hariannya. Tak seperti pengguna medsos zaman ini yang berdoa di status Facebook, Boy berdoa kepada Allah SWT di buku hariannya. Setelah selesai, ia langsung salat, olahraga pagi, dan kemudian mandi. Tak lupa sebagai anak gaul di zamannya dan tinggal di Jakarta, Boy mendengarkan radio Prambors. Setelah mandi, Boy mengenakan pakaian—yang di zamannya dipakai anak-anak gaul, lalu naik BMW menjemput Nuke, yang berstatus sebagai pacarnya.

Boy, dalam film Catatan Si Boy (1987) yang disutradarai Nasri Cheppy itu, diperankan oleh Onky Alexander. J.B. Kristanto dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005 (2005:297) menggambarkan Boy sebagai anak orang kaya dan mahasiswa ideal. “Pokoknya [Boy] sosok yang ideal,” tulis J.B. Kristanto.

Dalam soundtrack film Catatan Si Boy yang digubah Harry Sabar dan dinyanyikan Ikang Fauzi, Boy digambarkan sebagai pemuda cerdas, baik hati, tidak sombong, jagoan yang tidak brutal, tak kenal gengsi, tak kenal frustasi, dan berbakat jadi playboy. Lagu itu, yang dibuat sekitar 1987, menyimpulkan Boy sebagai sosok yang diidamkan anak muda masa kini.

Masa kini yang dimaksud lagu itu tentu saja merujuk pada Orde Baru. Di bagian awal film sudah digambarkan betapa rendah hatinya mas Boy. Setidaknya anak sugih ini tak lupa mengucapkan terima kasih setelah dibukakan pintu oleh satpam rumahnya. Keimanan Boy, selain terlihat dalam adegan salat, terlihat pula jelang adegan perkelahian. “Gua yakin Allah bersama gue,” kata Boy dalam hati.


Suatu pagi, Boy yang terburu-buru pergi menghampiri papa, mama dan adiknya sarapan. Papa si Boy cukup perhatian bertanya, “bagaimana kabarnya Nuke? Kok papa gak pernah lihat lagi, Boy?” Boy dengan sigap dan kekeluargaan menjawab, “Papa aja yang sibuk melulu.”

Seperti dalam kebanyakan film di zaman Orde Baru, sosok papa atau bapak adalah sosok yang sibuk bekerja. Namun, hari itu adalah hari berat untuk Boy. Nuke, pacarnya yang diperankan Ayu Azhari, mengirimi sebuah kaset pita rekaman yang berisi curhatan Nuke. Dengan suara tersedu-sedu, Nuke harus menuruti kemauan orangtuanya agar kuliah di luar negeri.

Ayah Nuke, seorang pejabat tinggi sebuah perusahaan yang digambarkan jujur rupanya merasa terhina oleh pegawai perusahaan orangtua Boy. Si pegawai berusaha menyuap ayah Nuke agar izin perusahaan keluar tanpa melalui jalur resmi. Nuke yakin, keluarga Boy adalah keluarga baik-baik. Masalahnya, ayah Nuke ingin anaknya jauh dari Boy.

Perkara suap dalam film ini tidak diperdalam lagi. Toh, suap atau bentuk korupsi lain pada masa Orde Baru sering dianggap lumrah. Tak banyak orang yang memaknainya sebagai kejahatan. Kisah pun diarahkan ke masalah anak muda kelas menengah di kampus, yakni percintaan si Boy dengan Vera—yang diperankan Meriam Bellina—di film pertamanya.

Cerita film Catatan Si Boy, menurut catatan Ariel Heryanto dalam Identitas dan Kenikmatan (2015:103) dibuat berdasarkan seri drama radio pada 1985 yang disiarkan lewat Prambors. Stasiun radio ini sangat populer di kalangan anak muda Jakarta dan berpengaruh dalam perkembangan musik pop Indonesia. Skenario Catatan Si Boy ditulis oleh Marwan Alkatiri. Film ini, catat J.B. Kristanto, ditonton 313.516 orang dan tergolong yang paling laris di Jakarta. Catatan Si Boy sendiri adalah unggulan dalam Festival Film Indonesia 1988.

Selain Onky, Dede Yusuf sebagai Andi alias Kendi dan Didi Petet sebagai Emon mulai bersinar namanya di dunia perfilman. Sukses film ini berlanjut dengan sekuel-sekuelnya, Catatan Si Boy 2 (1988), Catatan Si Boy 3 (1989), Catatan Si Boy 4 (1990) dan Catatan Si Boy 5 (1991). Semuanya ditonton ratusan ribu orang. Boy selalu dicitrakan sebagai sosok yang selalu membuat perempuan di sekitarnya kesengsem. Beberapa film terakhir bercerita Boy sedang berada di Amerika Serikat. Mulanya Mas Boy tinggal di Amerika untuk melanjutkan kuliah, kemudian bekerja di sana.



Sebagai film laris dengan adegan berduaan, Catatan Si Boy tentu tak sepi dari serangan kritik. Adegan berciuman dengan seseorang yang "bukan muhrim", meski dilakukan orang yang rajin salat seperti Boy, kerap diserang oleh kelompok Islam. Bahkan Boy—yang karena rajin salat dan ciuman dengan Vera yang bukan istrinya itu—diidentikan dengan kemunafikan.

Film Catatan Si Boy ini, menurut Ariel Heryanto, sukses menampilkan laki-laki yang digandrungi perempuan dan tetap saleh. Karakterisasi ini tampak mendahului zaman, khususnya jika dikaitkan dengan hubungan Orde Baru dengan Islam.


Keluarga Boy tentu jauh lebih dulu dekat dengan Islam, jauh sebelum keluarga Cendana daripada Soeharto mendekati kalangan muslim. Sejak Catatan Si Boy (1987), Boy sudah terlihat salat. Zaman ketika film-film Mas Boy diproduksi dan laris adalah masa ketika Soeharto mulai mendekatkan diri kepada Islam. Di kalangan tentara muncul faksi ABRI Hijau. Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) pun berdiri pada 1990. Setelah Soeharto dekat dengan Islam, negara tak lagi mempermasalahkan jilbab.

Terlepas dari isu Islam, Catatan Si Boy yang disutradarai Nasri Cheppy ini dicap “jual mimpi” karena sosok Mas Boy yang tajir. Masyarakat Indonesia yang kebanyakan hidup dalam himpitan ekonomi, menurut Nasri Cheppy, butuh film-film yang dicap “jual mimpi”, katanya seperti dilansir Tempo (13/07/1991).

“Karena kebanyakan masyarakat cuma bisa bermimpi,” ujar Nasri Cheppy.

Baca juga artikel terkait CATATAN SI BOY atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Film)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Windu Jusuf
DarkLight