Carlos Ghosn, Antiklimaks Karier Sang "Cost Cutter"

Oleh: Yudistira Perdana Imandiar - 21 November 2018
Dibaca Normal 4 menit
Carlos Ghosn memiliki jasa besar terhadap keberlangsungan bisnis Renault dan Nissan yang sempat berdarah-darah.
tirto.id - Nissan Motor mengalami luka dalam di tubuh perusahaan, setelah sosok chairman Carlos Ghosn ditangkap kepolisian Jepang Senin (19/11/2018). Ghosn bersama Direktur Perseroan Graig Kelly diduga memalsukan laporan pendapatan dan penyalahgunaan aset perusahaan.

Ghosn merupakan tokoh penting di balik kesuksesan aliansi Nissan-Renault-Mitsubishi menjadi tiga besar perusahaan otomotif dengan penjualan terbanyak di dunia. Selain menjabat Chairman Nissan Motor, ia juga memangku jabatan Chief Executive Officer (CEO) Renault dan Chairman of The Board Mitsubishi Motors.

Ghosn lahir di Brazil pada 9 Maret 1954. Namun, ia bukan orang asli Negeri Samba. Ayahnya, Jorge Ghosn berdarah Lebanon, sedangkan sang ibu, Rose, adalah warga Nigeria yang sekolah di Lebanon.

Sakit demam berkepanjangan yang diderita Carlos Ghosn kecil mendorong keluarganya untuk pindah dari Rio de Janeiro, Brazil, menuju Lebanon. Negeri di Timur Tengah itu lantas menjadi tempat tinggal bagi Ghosn sampai ia remaja, meskipun ia dan keluarga cukup intens kembali ke Brazil untuk menengok ayahnya.



Setelah menyelesaikan sekolah dasar sampai menengah atas di Lebanon yang diwarnai berbagai kenakalannya, Ghosn mengikuti saran sang ibu untuk merantau ke Perancis, menempuh jenjang pendidikan tinggi.

Di Perancis, cerita Ghosn kepada Nikkei Assian Review yang diterbitkan kembali oleh website resmi Nissan, ia harus menjalani semacam kursus selama dua tahun sebelum masuk perguruan tinggi favorit. Pada 1974, akhirnya ia bisa masuk Ecole Polytechnique.

Ghosn menyelesaikan studi dengan baik dua tahun kemudian. Namun, ia merasa jenjang sarjana belum cukup. Ia lantas mengambil program master di Sekolah Tinggi Ecole des Mines di Paris.

Setelah menyandang gelar master pada 1978, Ghosn masih berpikir untuk melanjutkan studinya. Namun, suatu hari dia mendapatkan tawaran kerja yang menggiurkan.

Pada Mei 1978, ia menerima panggilan telepon dari pria bernama Hidalgo dari perusahaan ban Michelin. Lewat sambungan telepon Hidalgo menjelaskan, Michelin berencana mengembangkan bisnis ke Brazil dan butuh insinyur yang paham kondisi lokal di sana.

Tawaran itu pun membuat pikiran Ghosn terbang ke negeri tempatnya dilahirkan. Bayang-bayang bekerja di kampung halaman membuat ia akhirnya menerima pinangan Michelin.

Serangkaian training dilewati Ghosn tanpa banyak kesulitan. Perlahan kariernya merangkak naik. Di umur 26 atau dua tahun sejak awal bekerja, perantau ini sudah dipercaya menjadi manajer di bagian manufaktur ban Michelin di Le Puy, Perancis.

Warsa 1980-an, Ghosn ditarik ke kantor pusat Michelin oleh Co-Owner Michelin, Francois Michelin. Di sana ia banyak belajar soal strategi finansial perusahaan, termasuk di dalamnya optimalisasi sumber daya. Mengutip laman Notable Biography, ia dipercaya memegang jabatan head of research for development of industrial tyres.

Francois Michelin menepati janjinya soal pengembangan bisnis di Brazil. Pada 1985, Ghosn akhirnya pulang kampung. Namun, situasi bekerja di kampung halaman ternyata tidak seindah bayangannya. Kekacauan politik dan krisis ekonomi dengan hiperinflasi mencapai 1.000 persen dalam setahun membuat perusahaan Michelin Brazil goyah.

Di masa-masa genting, Ghosn mencoba mencabut akar masalah yang menggelayuti perusahaan. Saat itu, dua pabrik pengolahan karet milik Michelin di Brazil tidak menghasilkan profit. Penyebabnya, yakni rendahnya harga jual yang ditetapkan pemerintah.

Ghosn pun coba mendekati pemerintah agar mau menyetujui kenaikan harga jual karet olahan. Dengan begitu Michelin bisa menarik keuntungan dari dua pabrik tersebut. Selain itu, Ghosn dan tim mengevaluasi dengan cermat sistem manajemen dan mengendalikan arus kas perusahaan.

Upaya tersebut berbuah manis. Setelah tiga tahun Ghosn menangani perusahaan, Michelin bangkit dan menjadi pabrikan ban paling sukses di Brazil.



Sukses mengatasi kemelut Michelin Brazil, Ghosn kemudian dipercaya memimpin perusahaan yang diakuisisi oleh Michelin, perusahaan ban lokal Uniroyal Goodrich pada 1990. Berbagai jurus dikeluarkan pria yang saat itu sudah punya satu istri dan tiga orang anak, salah satunya menutup tiga pabrik produksi milik Goodrich di Amerika Utara.

Langkah tersebut akhirnya membuat Ghosn dijuluki sebagai “The Cost Cutter” atau kurang lebih artinya pemangkas biaya produksi. Ia juga mendekati pabrikan mobil, sekelas General Motors dan merek-merek Jepang, seperti Nissan, Toyota, dan Honda untuk mendapatkan akses menjadi penyuplai ban.

Infografik Carlos Ghosn


Mengelola Tiga Raksasa Otomotif

Setelah 18 tahun bergelut dalam pusaran bisnis ban, seperti yang diceritakan Ghosn kepada Nikkei Asian, ia mulai tergoda untuk beralih ke industri otomotif. Musababnya ialah tawaran menggiurkan dari Renault.

Perusahaan otomotif asal Perancis ini pada 1996 membutuhkan pengganti orang nomor dua (chief operating officer) yang segera pensiun. Chairman Renault waktu itu, Louis Schweitzer mengatakan, Ghosn merupakan kandidat terkuat untuk mengisi kursi kepemimpinan.

Singkat cerita Ghosn sepakat untuk bergabung dengan Renault yang waktu itu kondisi finansialnya sedang tidak sehat. Masalah utama Renault yang harus diselesaikan Ghosn adalah soal biaya produksi yang mahal.

Mulanya, ia menyusun tim lintas divisi untuk memudahkan koordinasi antar departemen dan meningkatkan efisiensi kerja. Kemudian Ghosn membuat rencana yang dianggap tidak masuk akal oleh orang-orang lama di perusahaan Renault. Ia menyusun strategi reduksi biaya produksi sebesar 20 miliar euro, nilai yang fantastis.

Komentar miring akan kepemimpinan Ghosn, seperti dipaparkan Nikkei Asian Review,mulai bermunculan. Namun, ia mendapatkan dukungan dari orang terpenting dalam tubuh Renault, Schweitzer.

Untuk menurunkan biaya produksi, Ghosn menawar harga komponen dari para pemasok. Ghosn memberikan timbal balik berupa order besar kepada pemasok yang mau menurunkan harga.

Kebijakan penting berikutnya dari Ghosn, yaitu menutup fasilitas produksi di Vilvoorde, Belgia. Gelombang protes dari serikat buruh pun berdatangan setelah Perdana Menteri Beliga Jean-Luc Dehaene mengumumkan rencana penutupan pabrik dengan 3.000 pekerja itu kepada publik.

Konsistensi Ghosn dalam menjalankan roda bisnis perusahaan dengan strategi “cost cutter” mampu memperbaiki kualitas bisnis Renault. Kepada Nikkei Asian Review, Ghosn mengungkapkan, kinerja perusahaan Renault meningkat dalam kurun waktu 1997-1999.

Manajemen Renault pun berupaya melebarkan jangkauan bisnis dengan menggandeng perusahaan otomotif lain. Pilihannya jatuh pada Nissan Motor yang dianggap sudah cukup dikenal masyarakat dunia.

Setelah Renault dan Nissan resmi berafiliasi, bos besar Renault berkata pada Ghosn, “Hanya ada satu kandidat yang sudah jelas untuk memimpin Nissan, yaitu kamu!” Perkataan yang diartikan sebagai perintah itu akhirnya menggiring Ghosn dan keluarga pindah ke Jepang.

Menjadi pimpinan tertinggi di tubuh perusahaan Nissan bukan berarti menyenangkan untuk Ghosn. Ia dilimpahkan tugas berat untuk menyelamatkan nasib perusahaan yang kondisinya sudah berantakan. Utang 2 triliun yen mengindikasikan Nissan sudah hampir bangkrut. Di situ kelihaian Ghosn yang menyandang julukan “Le Cost Cutter” diuji.

Dari 43 produk yang dipasarkan Nissan di seluruh dunia, hanya ada empat produk yang bisa menghasilkan keuntungan. Sisanya hanya pelengkap, bahkan membebani finansial perusahaan.

Ghosn lantas mengeluarkan kebijakan ketat. Ia menolak pengembangan produk yang dianggap tidak akan menguntungkan. Proyek Nissan X-Trail pun sempat ditolak olehnya. Namun setelah diperbaiki, konsep X-Trail diterima oleh Ghosn dan diproduksi mulai 2001.

Pria kelahiran Brazil itu menerapkan strategi yang sama seperti yang dilakukannya di tubuh Renault. Membuat tim lintas divisi. Ghosn juga merombak kemitraan dengan para pemasok komponen. Di bawah Ghosn, pemilihan mitra didasari kebutuhan dan kesepakatan soal harga, bukan lagi soal relasi antar dua pihak seperti yang sudah menjadi tradisi perusahaan Jepang. Pemasok utama komponen baja dirampingkan menjadi dua perusahaan saja dari sebelumnya lima perusahaan.

Lima fasilitas produksi juga ditutup karena dianggap tidak produktif. Sekitar 20.000 tenaga kerja di-PHK atas kebijakan itu. Kebijakan-kebijakan yang boleh jadi tidak menguntungkan untuk sejumlah pihak nyatanya mampu mengembalikan gejolak bisnis Nissan. Pada 2003 kondisi keuangan perusahaan sudah stabil dan perlahan mulai meraup laba.

Pada 2016, Mitsubishi bergabung dalam aliansi Renault-Nissan. Nissan Motor membeli 34 persen saham Mitsubishi Motors Corporation yang sempat tersandung skandal efisiensi bahan bakar seharga 1,9 miliar poundsterling.

Kongsi tersebut membuat aliansi bisnis yang dipimpin Ghosn semakin solid. Pada 2017, aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi menjadi korporasi otomotif dengan penjualan kendaraan terbanyak kedua di dunia, menyentuh 10,6 juta unit.

Pencapaian itu pun memberikan keuntungan buat Ghosn. Mencuplik New York Times, tahun 2017 lalu jumlah pendapatan Ghosn dari Nissan mencapai 735 juta yen (sekitar Rp95 miliar) ditambah pembayaran tunai dan opsi saham senilai 227 juta yen (sekitar Rp29 miliar) dari Mitsubishi.

Sayangnya goresan tinta emas yang dibuat Ghosn untuk Renault, Nissan, dan Mitsubishi tercoreng sudah akibat dugaan skandal yang ia buat hingga berbuntut kasus hukum dan penangkapannya. Pemalsuan laporan pendapatan membuat Ghosn terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda maksimal 10 juta yen.

Baca juga artikel terkait NISSAN atau tulisan menarik lainnya Yudistira Perdana Imandiar
(tirto.id - Otomotif)


Penulis: Yudistira Perdana Imandiar
Editor: Suhendra