Menuju konten utama

Campur Tangan Erdogan Menyerbu Mosul

Irak menyebutnya invasi. Turki berdalih tindakannya sebagai upaya menjaga diri. Banyak kepentingan terjadi di Mosul. Penguasa baru di Mosul akan menentukan langkah konflik di Timur Tengah ke depannya seperti apa.

Campur Tangan Erdogan Menyerbu Mosul
Ilustrasi [Gambar/Prisma]

tirto.id - Hubungan Irak dan Turki memanas dalam dua pekan terakhir. Keterlibatan Turki dalam operasi pembebasan Mosul menjadi sebabnya. Irak tidak menerima kebijakan Turki yang menerjunkan pasukan tanpa koordinasi. Perdana Menteri Irak, Haider Al-Abadi tegas mengatakan: “Pasukan Turki tidak akan diizinkan untuk berpartisipasi dalam pembebasan Mosul apa pun yang terjadi.”

Kata-katanya tegas dan diulang-ulang: “Irak dapat mengusir ISIS dari Mosul tanpa bantuan dari Turki!” ucap Abadi dikutip dari Rusia Today.

Di tempat terpisah, Perdana Menteri Turki Recep Tayeep Erdogan bersikukuh untuk ikut dalam operasi Mosul. “Mereka mengatakan kami tidak akan tidak ikut serta? Bagaimana kami tidak ikut. Kami berbagi 350 kilometer perbatasan dengan mereka. Dan kami terancam dengan perbatasan ini."

“Kami akan berada di dua sisi. Di meja perundingan dan turun langsung ke medan pertempuran. Kami akan ikut serta dalam operasi di Mosul, sebagaimana keikutsertaan kami di Suriah sekarang," kata Erdogan kepada Daily Sabah (19/10/16).

Perang komentar antara Erdogan dan Haider memang sudah berlangsung selama beberapa pekan sebelum operasi Mosul dimulai minggu kemarin (16/10/16). Selasa lalu, demonstrasi besar-besaran terjadi di Kedutaan Besar Turki di Baghdad. Tuntutan demonstran jelas: Turki harus segera hengkang dari Irak. Sampai berita ini diturunkan, Turki tidak bergeming, operasi militer senyap tampaknya tetap mereka lakukan.

Untuk membebaskan Mosul, Irak tidak sendirian, setidaknya lebih dari 100 ribu tentara terlibat. Dari selatan akan bergerak 40.000 pasukan Irak bersama 15.000 milisi Syiah, sedangkan dari timur ada 40.000 pasukan Kurdi Peshmerga. Sedangkan 9000 pasukan koalisi dari AS, Inggris, Australia, Belgia dll menempel dua kelompok besar ini secara terpisah.

Bagaimana dengan Turki? Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, John Kirby menegaskan Turki tidak masuk dalam pasukan koalisi internasional. “Pasukan Turki yang dikerahkan di Irak tidak ada sebagai bagian dari Koalisi Internasional,” katanya.

Keterlibatan pasukan Turki dalam operasi ini masih samar. Namun yang pasti, mereka akan berbaur dengan pasukan Peshmerga yang menyerbu Mosul dari sisi timur. Sejak awal 2015, ada sekitar 500-an hingga 1200-an tentara Turki yang beroperasi di Irak dan berdiam di Kamp Militer Bashiqah, kota ini hanya berjarak 25 km sebelah timur Mosul.

Kehadiran tentara Turki ini ilegal dan tidak disetujui oleh Baghdad. Desember 2015, demo besar-besaran Kedubes Turki di Baghdad juga dilakukan tapi tetap saja Turki tidak pergi. Alasannya karena memang wilayah Irak Utara dikuasai oleh Kurdi Peshmerga. Baghdad tidak berdaya di sana.

Dalam konflik Timur Tengah, Kurdi Peshmerga adalah sahabat terdekat bagi Turki, lebih dekat ketimbang AS dan koalisinya. Hubungan Turki dan Peshmerga ini cukup unik karena Turki begitu anti terhadap wacana pembentukan negara Kurdi Raya yang terbentang dari Iran, Irak, Suriah hingga mencaplok sebagian timur dan selatan Turki. Ini jadi dalih Turki begitu keras memerangi YPG (Kurdi Suriah) dan PKK (Kurdi Turki)—yang tentu amat dekat dengan Kurdi Peshmerga karena kesamaan darah itu.

Tapi Kurdi Peshmerga tidaklah begitu berambisi membentuk negara Kurdi Raya. Kehendak mereka hanya kemerdekaan Kurdi di Irak bagian utara. Ini jadi alasan kenapa Selama rezim Saddam Hussein melakukan menindas mereka.

Kehadiran ISIS memberikan keuntungan bagi Kurdi Irak, angkatan bersenjata mereka yang bernama Peshmerga kini semakin eksis dan dapat bantuan penuh dari negara-negara barat. Kepayahan Irak dalam perang melawan ISIS jadi pintu bagi mereka menjadi penguasa baru di Irak Utara.

Kehadiran Turki di Bashiqa untuk melatih para pasukan Peshmerga dan milisi Sunni menghadapi ISIS. Kedatangan itu diminta secara langsung oleh Kepala Dewan Pemerintah Kurdistan (KRG), Masrour Barzani. Menteri Luar Negeri Kurdi, Falah Mustafa menolak berkomentar, dia hanya mengatakan ini adalah solusi memuaskan bagi kedua pihak.

Pasca-kehancuran ISIS, Kurdi Irak begitu berambisi merealisasikan diri berlepas diri dari Irak. Barzani bahkan menyarankan Irak nantinya dipecah jadi tiga negara untuk Sunni, Syiah, dan Kurdi. Ini dilakukan demi mencegah konflik sektarian.

Untuk mempersiapkan ini, Barzani tentu butuh negara sebesar Turki untuk jadi pembela di belakang mereka. Tapi jauh sebelum itu terjadi, dalam konteks kekinian sebenarnya apa motif Turki mendukung penuh Peshmerga menguasai Mosul? Ada beberapa analisis menarik yang kami rangkumkan untuk Anda.

Pertama analisa dari Ozturk Yilmaz, mantan konsul jenderal Turki di Mosul, yang kini jadi pemimpin oposisi Partai Republik Rakyat. Dalam wawancara ke Hurriyet, Desember 2015 dia mengatakan: “Jika Mosul jatuh ke tangan Kurdi kita akan menemukan skenario lain,” katanya.

“Dalam hal ini, perbatasan Kurdi Irak akan tumbuh dari timur ke barat, menguasai kota besar dari Kirkuk, Erbil, Mosul hingga Sinjar. Mereka akan menjadi negara yang lebih besar. Kurdi Suriah mengontrol wilayah yang luas di sisi lainnya. Apakah ini berarti Turki telah membantu mempersiapkan negara Kurdi Raya di negara lain?”

Kata Yilmaz, jika negara Kurdi yang membentang dari Irak ke Suriah terbentuk Turki akan memiliki wibawa dan daya tawar lebih sekaligus meredam separatis kurdi Turki dan mengusir PKK ke negara baru tersebut.

Analisis kedua memprediksikan setelah ISIS tumbang Turki berharap penguasa baru lainnya itu berasal dari kelompok Sunni yang diwakili milisi Hashd Al-Watani bentukan mantan Gubernur Nineveh, Atheel al-Nujaif.

Milisi Hashd Al-Watani memiliki anggota lebih dari 10.000 orang dan beroperasi di Irak Utara yang mayoritasnya adalah Sunni. Mereka mendapat bantuan penuh dari AS. Pada 2015 Atheel dan mantan Menteri Keuangan Irak yang juga Sunni, Rafi al-Issawi berkunjung ke AS bertemu dengan pejabat pemerintah AS dan anggota parlemen meminta untuk mempersenjatai kelompok Sunni demi melawan ISIS.

Investigasi Harian Kuwait Al-Qabas membuktikan bahwa kesuksesan lobi ini membuat bantuan-bantuan senjata ini bisa didapati kelompok Sunni tanpa harus diketahui dan dikontrol langsung oleh Baghdad. Politik sektarian saat ini begitu melekat diantara para elite Sunni dan Syiah di Irak, membuat mereka saling tidak percaya dan saling menahan informasi penting.

Selain AS, al-Hashd al-Watani pun memiliki hubungan erat dengan Turki. Sama seperti Peshmerga, mereka juga mencicip transfer ilmu dari Turki di Kamp Bashiqah. Koherensi AS dan al-Hashd al-Watani membuat Turki berharap milisi ini sukses menguasai Mosul ketimbang pasukan Irak dan milisi Syiah.

Mosul adalah kota yang mayoritas penduduknya adalah Sunni. Jika jatuh ke tangan pemerintah Irak dan milisi Syiah, kekacauan sangat mungkin terjadi. Berkaca dari kasus pembebasan Falujjah, Ramadi dan Tikrit, organisasi milisi Syiah yang biasa disebut al-Hashd al-Sha’bi memiliki catatan merah pelanggaran kemanusiaan. Rakyat Sunni yang tidak berdosa kerap dijadikan pelampiasan dendam.

Infografik Turki di Mosul

Saat pembebasan Falujjah Agustus lalu, dikabarkan 900-an pria dan anak lelaki dari kelompok Sunni hilang diculik oleh milisi Syiah. Ketika pembebasan Tikrit, pasukan koalisi AS bahkan mogok dulu demi memaksa pemerintah Irak agar jangan mengikutsertakan milisi Syiah dalam operasi militer. Faktor ketakutan untuk berlaku kriminal dan sulit diatur jadi sebabnya.

Turki kuatir jika Mosul jatuh ke tangan milisi Syiah akan jadi ketakutan tersendiri bagi penduduk Mosul yang berjumlah 1,5 juta orang. Penduduk Mosul tentunya akan memilih mengungsi ketimbang tetap tinggal di dalam kota. Mereka tidak akan bergerak ke timur ke Suriah yang sedang dilanda perang, melainkan utara Turki. Bagi Erdogan, ini adalah beban.

Turki sekarang sudah menampung 2,7 juta pengungsi dan menambah gelombang baru pengungsi akan menyebabkan kesulitan. Jadi, wajar jika pemerintah Turki dan militer mengambil tindakan preventif memastikan penduduk Mosul tetap tinggal di Mosul setelah ISIS digulingkan.

Ancaman sektarian ini sudah dikhawatirkan oleh Erdogan. Ankara memperingatkan Baghdad bahwa Mosul sebagian besar dihuni oleh Muslim Sunni, termasuk Arab, Turkmen dan Kurdi. Kebijakan pemerintah pusat yang mengajak al-Hashd al-Sha’abi dalam operasi dan ambisi pemerintah Irak (didominasi Syiah) untuk mengontrol Mosul akan jadi masalah baru.

Osman Al-Nujaif, anggota parlemen Irak dari kelompok Sunni juga sudah wanti-wanti memperingatkan. Kepada Al-Monitor dia berkata: “Sifat dari pertempuran Mosul membuat kita seharusnya tidak memasukan Hashd al-Shaabi dalam pertempuran ini, karena ISIS akan menggunakan partisipasi milisi Syiah menjadi konflik sektarian,” ucap sosok yang juga kakak kandung pemimpin al-Hashd al-Watani, Atheel al-Nujaif.

"Mosul harus diatur oleh orang-orang dari Mosul… Memberikan kendali kota pada kelompok dari daerah lain malah akan menciptakan masalah lebih buruk," kata Wakil Perdana Menteri Numan Kurtulmus, seperti dikutip Hurriyet Daily (20/10/16).

"Mungkin ada beberapa hasil yang sangat buruk dari serangan potensial oleh al-Hashd al-Shaabi terhadap Sunni di Mosul. Turki akan mengambil setiap langkah untuk mencegah hal itu agar tidak terjadi.”

“Kami berharap tidak akan ada bahaya tersebut. Kami akan terus erat mengikuti perkembangan. Kami telah membuat jelas bahwa kita akan memasuki lapangan jika diperlukan.”

Namun Irak tampaknya tetap bebal. Mereka terus melaju dan mengabaikan ancaman Turki ini. Juru bicara Hashd al-Shaabi bahkan akan mengancam tentara Turki yang terlihat di medan pertempuran. Ancaman ini seolah diamini oleh Baghdad.

“Dan di sini, pemerintah Irak harus menginformasikan Ankara, dan seluruh dunia, bahwa Baghdad tidak dapat bertanggung jawab atas setiap kemungkinan penargetan pasukan Turki," ucap juru bicara pemerintah Irak, Wathiq al-Hashimi.

Mosul akan jadi pertempuran rumit. Dalam konteks lokal ada perebutan kekuasaan antara kelompok Sunni, Syiah, dan Kurdi, sedangkan dalam konteks regional Turki dan Iran saling berebut kepentingan. Yang patut diulik terkait Mosul bukanlah bagaimana cara kota itu direbut oleh ISIS, tapi apa yang akan terjadi setelah ISIS tumbang.

Baca juga artikel terkait MOSUL atau tulisan lainnya dari Aqwam Fiazmi Hanifan

tirto.id - Politik
Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Maulida Sri Handayani