BNPB Hentikan Pencarian Korban Jembatan Roboh di Bali

Oleh: Yuliana Ratnasari - 17 Oktober 2016
Dibaca Normal 1 menit
Robohnya jembatan yang menghubungkan Nusa Lembongan dan Nusa Penida di Pulau Bali telah menewaskan delapan orang. Pencarian korban akhirnya dihentikan setelah tak ada laporan terkait warga yang hilang.
tirto.id - Pencarian korban jembatan runtuh di Bali kembali dilanjutkan sejak Senin (17/10/2016) pagi. Tak ada laporan warga setempat yang hilang, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kemudian memutuskan untuk menghentikan investigasi pasca-ambruknya jembatan yang menghubungkan Pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan di Kabupaten Klungkung Provinsi Bali itu.

"Dihentikan karena tidak ada laporan korban hilang dari masyarakat sekitar," kata Kepala Pusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho kepada Antara di Jakarta, Senin (17/10/2016).

Keputusan itu, kata Sutopo, sesuai hasil rapat koordinasi antara Bupati Klungkung, BPBD Klungkung, BPBD Provinsi Bali, TNI, Polri, Kantor SAR, Dinas PU dan perbekel Desa Nusa Penida dan Nusa Ceningan.

Sebelumnya telah dilaporkan, korban runtuhnya jembatan sepanjang 150 meter itu berjumlah delapan orang meninggal dunia dan 34 orang luka-luka. Selain itu, Sutopo menambahkan, sebanyak 17 sepeda motor yang tenggelam sudah diangkat seluruhnya.

“Korban meninggal telah diserahkan kepada pihak keluarga. Semua korban adalah warga Desa Jungut Batu dan Desa Nusa Lembongan,” jelasnya.

Jembatan Kuning atau Jembatan Cinta yang menghubungkan Pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan runtuh pada Minggu (16/10/2016) pukul 18.30 WITA akibat kabel sling jembatan terputus.

Berdasarkan laporan dari Dinas PU, jembatan itu merupakan penghubung Kabupaten Semarapura-Klungkung yang dibangun sekitar tahun 1995. Jembatan tersebut sejatinya dibangun untuk penyeberangan manusia tetapi kerap digunakan sepeda motor untuk melintas.

Sutopo mengatakan, pada Kamis (13/10/2016) sudah dilakukan inspeksi dan jembatan dinyatakan kritis untuk dilewati. Rambu larangan pun telah dipasang tetapi masyarakat tetap memanfaatkan jembatan karena hanya jembatan tersebut yang menjadi sarana penghubung dua pulau.

Salah seorang saksi mata, Andrew Sutherland kepada BBC menyebutkan bahwa jembatan tersebut adalah satu-satunya yang menghubungkan dua pulau."[Jembatan itu] sudah ada selama sekitar 30 tahun dan sudah cukup reyot," katanya.

Runtuhnya jembatan itu terjadi saat jembatan begitu padat karena banyak orang tengah mengambil bagian dalam upacara Hindu di sebuah pura dekat jembatan. "Sayangnya hari ini adalah upacara yang sangat besar bagi penduduk setempat dan sebagian besar orang melintasi jembatan ketika itu runtuh," jelasnya.

Baca juga artikel terkait JEMBATAN PENYEBERANGAN ROBOH atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari
DarkLight