Menuju konten utama

Benarkah Menopause Berdampak Pada Kesehatan Jantung Perempuan?

Perempuan yang sudah menopause ternyata memiliki risiko cukup besar mengalami penyakit jantung koroner (PJK) dan penjelasan lengkapnya.

Benarkah Menopause Berdampak Pada Kesehatan Jantung Perempuan?
Ilustrasi. Menopause.

tirto.id - Kementerian Kesehatan mengatakan perempuan yang memasuki masa menopause ternyata memiliki risiko cukup besar mengalami penyakit jantung koroner (PJK).

"Sebelum usia menopause, seorang wanita diketahui memiliki risiko mengalami PJK yang lebih rendah dibandingkan pria. Saat beranjak lansia, risiko tersebut cenderung berimbang; dan pada usia 65 tahun ke atas, risiko antara kedua kelompok menjadi tidak berbeda. Hal yang diduga berpengaruh kuat adalah pengaruh menopause pada wanita," tulis Kemenkes pada laman resminya.

Menopause adalah waktu yang menandai berakhirnya siklus menstruasi perempuan. Seorang perempuan bisa dikatakan mengalami menopause ketika selama 12 bulan, ia tidak mengalami periode menstruasi secara berturut-turut.

Menurut Mayo Clinic, menopause dapat terjadi pada usia 40-an atau 50-an. Namun, usia rata-rata perempuan mendapatkan menopause adalah sekitar 51 tahun.

Menopause adalah proses biologis yang sangat alami. Tapi, bagi banyak perempuan, memasuki masa menopause bisa menjadi periode yang dapat mengganggu waktu tidur, menurunkan energi, bahkan memengaruhi kesehatan emosional.

Dampak menopause terhadap kesehatan jantung perempuan

Berikut adalah beberapa dampak menopause terhadap kesehatan jantung perempuan, seperti dilansir dari laman Kementerian Kesehatan dan Johns Hopkins Medicine:

1. Ketika memasuki menopause, hormon reproduksi atau hormon estrogen, yang dihasilkan oleh indung telur berhenti diproduksi. Akibatnya, hormon estrogen yang bersifat kardioprotektif ini tidak lagi mampu melindungi jantung, sehingga risiko PJK (penyakit jantung koroner) makin meningkat.

2. Lantaran jumlah estrogen yang berkurang, maka hormon ini tidak lagi mampu mencegah terjadinya perubahan struktur jantung (remodeling) yang buruk.

3. Estrogen yang bekurang tidak mampu berfungsi sebagai vasodilator, atau mempermudah pelebaran pembuluh darah, sehingga aliran darah lebih lancar dan beban kerja jantung yang berfungsi sebagai pompa, berkurang.

4. Metabolisme lemak dalam tubuh perempuan semakin tidak efisien, sehingga terjadi penumpukan berlebih kolesterol ‘jahat’ (LDL) dan penurunan kolesterol ‘baik’ (HDL).

5. Perubahan hormon yang terjadi saat menopause, dapat meningkatkan tekanan darah pada perempuan.

6. Menurut laman Johns Hopkins Medicine, perempuan yang memasuki masa awal menopause atau perimenopause lebih awal, yaitu berusia 45 tahun, dan di bawah 45 tahun, lebih rentan terhadap berbagai ancaman penyakit kardiovaskular, daripada perempuan yang memasuki perimenopause pada usia normal yaitu sekitar 50 tahun.

Tanda-tanda menopause

Berikut adalah beberapa gejala menopause yang akan dialami oleh perempuan pada bulan atau tahun menjelang menopause (perimenopause), sebagaimana dilansir dari Mayo Clinic:

- periode menstruasi menjadi tidak teratur

- vagina menjadi kering

- hot flashes (sensasi panas di tubuh terutama tubuh bagian atas yang muncul tiba-tiba)

- tubuh sering merasa panas dingin atau meriang dan demam

- muncul keringat saat malam hari yang jumlahnya berlebihan

- gangguan tidur atau insomnia

- perubahan suasana hati atau mood swings

- penambahan berat badan yang terjadi tiba-tiba dan metabolisme yang melambat

- rambut mulai menipis dan kulit menjadi kering

- payudara semakin kendur atau mulai kehilangan kepenuhannya

Tanda-tanda atau berbagai gejala menopause ini, termasuk perubahan siklus dan periode menstruasi, dapat bervariasi pada setiap perempuan.

Catatan pentingnya adalah, meskipun menstruasi menjadi tidak teratur, kehamilan masih mungkin terjadi. Oleh karena itu, jika ada satu periode menstruasi terlewat, namun Anda tidak yakin telah memasuki transisi menopause, maka Anda harus mempertimbangkan melakukan tes kehamilan.

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan lainnya dari Lucia Dianawuri

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Lucia Dianawuri
Penulis: Lucia Dianawuri
Editor: Nur Hidayah Perwitasari