Periksa Fakta

Benarkah Ibuprofen Perburuk Kondisi Pasien COVID-19?

Oleh: Irma Garnesia - 31 Maret 2020
Dibaca Normal 2 menit
Keraguan terhadap ibuprofen untuk penanganan COVID-19 pertama kali dikemukakan Profesor Farmakologi Universitas Toulouse Jean-Louis Montastruc.
tirto.id - Beredar kabar di media sosial soal penggunaan ibuprofen sebagai obat COVID-19. Obat itu diklaim dapat membuat hidup virus SARS-CoV-2 atau corona lebih lama dalam tubuh. Narasi tersebut, salah satunya, disebarkan oleh akun Facebook Yani (arsip) pada 22 Maret 2020. Unggahan Yani setidaknya telah dibagikan sebanyak 173 kali. Yani menuliskan:

Info penting
Info tambahan, dari WHO.
Jika ada gejala sakit terkena
- Batuk
- Pilek
- Panas tinggi
“ jangan “minum obat yg mengandung “ ibuprofen” Ini akan menambah hidup virus corona convid 19
Pertolongan pertama yang dilakukan adalah Minum obat flu n demam yg mengandung “ paracetamol”
Di Indonesia obat2 tersebut terdapat pada obat sbb:
- Panadol
- Paramex
- Neozep
Berikut beberapa obat2 yg mengandung ibuprofen:
- Proris
- Advil
- Motrin
- Nuprin
- Brufen
- Intrafen
- Neo rheumacyl
- Oskadon SP
- Bodrex Extra
Hati hati minum obat ya 🙏🙏🙏
Stay safe n stay healthy semuanya 🙂


Butuh Penelitian Lebih Lanjut

Benarkah ibuprofen berbahaya jika digunakan dalam konteks perawatan COVID-19? Keraguan terhadap obat itu pertama kali dikemukakan Profesor Farmakologi Universitas Toulouse Jean-Louis Montastruc.

Pada 14 Maret, ia menuliskan di akun Twitter pribadinya bahwa, "Dalam periode Coronavirus ini, penting mengingat risiko komplikasi oleh NSAID (Obat antiinflamasi nonsteroid) jika terjadi demam atau infeksi." Sebagai catatan, ibuprofen masuk dalam golongan obat NSAID. Dalam unggahan itu, Montastruc melampirkan penelitian yang melatar belakangi anjurannya.


NSAID adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengurangi peradangan, meredakan nyeri dan menurunkan demam. NSAID sering dikonsumsi untuk mengatasi sakit kepala, nyeri menstruasi, keseleo, atau nyeri sendi.

Cuitan lanjutan dari Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran pada hari yang sama mengatakan bahwa obat antiinflamasi "bisa menjadi faktor yang memperburuk infeksi." Namun, ia juga mengatakan sebaiknya pasien berkonsultasi dengan dokter sebelum berhenti mengonsumsinya. Hingga tulisan ini dibuat, cuitan Veran tersebut telah di-retweet sebanyak 43 ribu kali.


Pada 15 Maret, otoritas kesehatan di Spanyol dan Austria tidak ada bukti yang menunjukkan ibuprofen memperburuk COVID-19. Kementerian Kesehatan Austria melalui akun Twitter @bmsgpk menyebut klaim tersebut sebagai misinformasi meski saat ini cuitan tersebut telah dihapus.

Empat hari kemudian, WHO mengklarifikasi isu terkait hubungan ibuprofen dan COVID-19 tersebut. Juru Bicara WHO Christian Lindmeier mengatakan dalam konferensi pers di Geneva bahwa meski tak ada bukti kuat yang menyatakan ibuprofen dapat menyebabkan komplikasi dalam pengobatan COVID-19, ia merekomendasikan alternatif lain seperti asetaminofen. Sementara itu, ilmuwan masih akan terus menyelidiki masalah tersebut.

Respons Lindmeier ini menanggapi cuitan Veran, misinformasi di WhatsApp dan Facebook, serta perdebatan antar lembaga kesehatan soal ibuprofen dan COVID-19.


Respons Pemeriksa Fakta

Lembaga pemeriksa fakta Perancis, Liberation.fr menulis jawaban Olivier Veran pada 17 Maret terkait perbedaan otoritas kesehatan di Eropa dalam menanggapi kasus ibuprofen dan COVID-19. Veran menjawab, “Banyak tenaga kesehatan profesional menginfokan pada kami bahwa konsumsi NSAID dapat memperburuk kondisi. Namun, belum ada penelitian yang memvalidasi efek NSAID dalam kasus Coronavirus. Namun, ini adalah saran yang diberikan oleh tenaga medis profesional.”

Kemudian, Newtral, lembaga pemeriksa fakta Spanyol, menerbitkan artikel yang menjelaskan posisi Badan Obat dan Produk Kesehatan Spanyol terhadap klaim jurnal medis, Lancet, yang ditulis pada 11 Maret. Lei Fang dkk. menulis artikel di Lancet dengan judul “Are patients with hypertension and diabetes mellitus at increased risk for COVID-19 infection?

Dalam laporan di Lancet itu, mereka melihat komposisi kimia dari virus COVID-19 dan membuat teori bahwa obat anti-inflamasi dapat memperburuk gejala. Namun, menurut Fang, dkk., seperti yang ditulis Newtral, teori ini membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Senada dengan Austria dan Spanyol, Correctiv, lembaga pemeriksa fakta di Jerman menyimpulkan tidak ada bukti konkrit untuk mendukung klaim Veran. Correctiv menuliskan artikel mereka dengan tambahan pernyataan dari WHO.


Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa belum ada bukti yang kuat soal iburprofen yang memperparah kondisi seseorang dengan Coronavirus. Klaim tersebut butuh penelitian lebih lanjut. Namun, penggunaan alternatif ibuprofen, seperti asetaminofen, memang lebih disarankan oleh WHO.

Di sisi lain, klaim ibuprofen memperpanjang durasi hidup virus dalam tubuh, seperti yang disampaikan akun Facebook Yani merupakan informasi yang keliru dan menyesatkan (false & misleading). Tidak ada bukti dan sumber yang mendukung klaim tersebut.


Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight