24 Maret 1946

Bandung Lautan Api: Saat Pejuang Tak Rela Bandung Jatuh

INFOGRAFIK BANDUNG LAUTAN API
Ilustrasi MOZAIK BANDUNG LAUTAN API. tirto.id/DEADNAUVAL
Oleh: Petrik Matanasi - 24 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bandung pun dibakar dan jadilah bandung lautan api kata - kata yang menggambarkan situasi bandung pada 24 Maret 1946.
tirto.id - Hari itu, 24 Maret 1946, Atje Bastaman, berada di atas bukit Gunung Leutik, Garut. Wartawan muda itu memandang ke arah kota Bandung. Asap terlihat membubung tinggi di Kota Bandung. Dari Cicadas sampai Cimindi api menyala, membuat kota Bandung terlihat memerah.

Tiba di Tasikmalaya keesokan harinya, Atje langsung menulis apa yang dilihatnya tentang Kota Bandung. Ia memberi judul tulisannya: Bandoeng Djadi Laoetan Api. Karena keterbatasan ruang di koran Soeara Merdeka, judul tulisan diperpendek jadi Bandoeng Laoetan Api. Belakangan orang-orang mengenal peristiwa ini sebagai Bandung Lautan Api, sesuai dengan judul artikel Atje.

Revolusi merebak di berbagai daerah sejak Agustus 1945. Para pemuda bergerak, melucuti serdadu Jepang yang kalah di beberapa daerah. Bandung Lautan Api merupakan salah satu rangkaian kobaran revolusi itu.

Revolusi juga berlangsung membabi buta. Di Depok, Jakarta, dan Bandung, segala hal berbau Belanda menjadi korban amuk massa. Itulah masa orang-orang Belanda ketakutan terhadap pribumi. Periode itu dikenal sebagai “Masa Bersiap”.

“Revolusi Indonesia tak lepas dari berbagai Anarkisme,” kata Lambert Giebels. Sejarawan Penulis biografi Sukarno 1902-1950. Tak ada yang betul-betul suci dalam revolusi.



Sekutu Datang

Untuk menyatukan perjuangan revolusi, para pemuda bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) sejak 22 Agustus 1945. BKR kemudian bermetamorfosa jadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945. KR berisi bekas Tentara Kolonial Hindia Belanda (KNIL), Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA), Pembantu Tentara (Heiho) juga bekas barisan pemuda (Seinendan).

Beberapa hari setelah TKR berdiri, tepatnya 12 Oktober 1945, Tentara Sekutu datang ke Bandung. Mereka adalah gabungan dari Tentara Inggris dan segelintir Tentara Belanda. Tentara Inggris yang datang terdiri dari orang-orang India (Sikh) yang bersorban dan juga dari Nepal (Gurkha), dari Brigade 37 pimpinan Kolonel McDonald. Mereka datang dengan senjata lengkap. Begitu tiba, Kolonel McDonald langsung menuntut agar pihak laskar pejuang, polisi dan TKR Indonesia menyerahkan senjatanya pada Tentara Sekutu di bawah komandonya.

Tujuan Sekutu datang ke kota Bandung untuk melucuti Tentara Jepang dan membebaskan tawanan Eropa Belanda. Mereka juga berupaya menegakkan ketertiban, termasuk mengantisipasi aksi amuk massa orang-orang Indonesia terhadap orang-orang yang dianggap pro Belanda.

Ketika sekutu baru datang di Bandung, kekuatan militer Belanda di Indonesia belum pulih. Tentara Inggris lah yang harus bertempur melawan pejuang-pejuang Indonesia dalam kurun waktu 1945-1946. Dengan senjata apa adanya, orang-orang Indonesia itu berani menyerang kedudukan Tentara Inggris di Bandung Utara pada 21 November 1945. Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger yang jadi markas Tentara Inggris diserang.

Atas serangan itu, Kolonel McDonald memberikan ultimatum pada pihak Indonesia melalui Gubernur Jawa Barat, pada 24 November 1945. Ia memerintahkan Bandung Utara dikosongkan dari penduduk dan juga milisi Indonesianya. Ultimatum tak diindahkan. Penduduk dan milisi Indonesia tetap mempertahankan Bandung Utara.



Pada 25 November terjadi banjir di sebagian daerah Bandung, sehingga rakyat sipil harus mengungsi. Dalam kondisi masyarakat yang sibuk mengungsi akibat banjir, Tentara Inggris masuk dan terus menekan. Terjadilah pertempuran di sejumlah daerah seperti Cihargeulis, Sukajadi, Pasirkaliki, viaduct (jembatan di atas jalan) dan balai kereta api. Pesawat Inggris menjatuhkan bom ke Lengkong Besar dan Cicadas. Di Lengkong Besar, Tentara Sekutu berusaha membebaskan tawanan Eropa.

Di tengah upaya Sekutu merebut kembali wilayah-wilayah Indonesia, terjadi pembangkangan. Sejumlah Tentara Inggris, terutama dari India ingin bergabung ke Indonesia. Kapten Mirza dan sejumlah tentara lainnya melakukan desersi (kabur dari tugas sebagai militer) di sekitar Jalan Fokker (Jalan Garuda). Para petinggi militer Inggris geram dan menuntut Indonesia menyerahkan pasukannya yang desersi. Kolonel Abdul Haris Nasution, selaku komandan pasukan Indonesia di Bandung, menolak tuntutan Inggris itu.




Bumi Hangus

Tanggal 23 Maret 1946, Tentara Sekutu di bawah komando Kolonel McDonald mengeluarkan ultimatum kedua. Bandung selatan harus dikosongkan oleh rakyat sipil dan milisi Indonesia. Tuntutan itu tentu ditolak dengan keras oleh Tentara Rakyat Indonesia (TRI).

Nasution sempat bicara soal opsi mempertahankan atau menyerahkan kota Bandung pada Perdana Menteri Sutan Syahrir. Syahrir begitu pesimistis akan kekuatan TKR, yang baru berganti nama menjadi TRI pada 26 Januari 1945. Bagi Syahrir, TRI tak akan bisa menghadapi Tentara Sekutu. Senjata TRI sangat sedikit. Syahrir yang tak suka kekerasan dan tak suka melihat darah, menekan Nasution untuk menerima ultimatum agar Bandung dikosongkan.

Syahrir berusaha membebaskan Indonesia dari tekanan militer negara Adidaya Inggris dengan menampilkan wajah Republik Indonesia sebagai pemerintahan yang beradab dan cinta damai. Syahrir pun ikut melobi agar Jenderal Inggris mau meminjamkan 100 truk untuk mengeluarkan orang-orang Indonesia dari Bandung. Tawaran truk itu ditolak Kolonel Nasution.

Baca juga:


Sejatinya, Nasution dan perwira lainnya enggan menyerahkan Bandung. Namun, dia harus taat pada kata perdana menteri. Sebagai perwira profesional, dengan pengalaman di KNIL juga, sudah seharusnya Nasution tunduk pada apa kata pemerintah. Nasution lalu melakukan rapat bersama pimpinan militer Indonesia lainnya. Mereka sepakat tidak mempermudah kehadiran Tentara Sekutu di Bandung. Perintah Syahrir sebagai Perdana Menteri tetap ditaati, tetapi diputuskan Bandung akan dibumihanguskan.

Bumi hangus jadi jalan tengah bagi Nasution. Dia dan orang Indonesia lainnya keluar dari Bandung, seperti perintah Syahrir tapi dengan membakar kota yang ditinggalkan itu. Perintah Syahrir ditaati dan Bandung dibiarkan lepas begitu saja karena sudah jadi lautan api. Itu lebih baik ketimbang menyerahkan Kota Bandung begitu saja pada Tentara Sekutu. Sekutu tidak boleh dapat manfaat apapun dari kota Bandung karena sudah terbakar.

Bumi hangus Bandung mulai dilaksanakan dini hari 24 Maret 1946. Rakyat sipil akan langsung diungsikan hari itu juga. Namun, ada yang memulai sejak pukul 21.00 tanggal 23 Maret 1946. Gedung pertama yang dibakar adalah Bank Rakyat. Lalu sekitar Banceuy, Cicadas, Braga dan Tegallega pun dibakar. Asap pun membumbung tinggi dan terlihat di luar kota.

Cerita heroik terkait dengan bumi hangus kota Bandung oleh Nasution dan kawan-kawan itu belakangan melahirkan lagu perjuangan Halo Halo Bandung, yang masih diperdebatkan siapa penciptanya. Sementara kisah Mohamad Toha dan kawannya Ramdan yang jadi martir dalam peledakan gudang mesiu Tentara Sekutu, difilmkan Usmar Ismail dengan judul: Toha Pahlawan Bandung Selatan.

Jejak-jejak perjuangan mempertahankan Bandung masih ada hingga kini. Mereka hadir sebagai pengingat atas jasa para pejuang yang tidak rela Bandung jatuh ke tangan penjajah.


===========

Naskah ini pernah tayang pada 24 Maret 2016, pada edisi Mozaik 24 Maret 2019, redaksi mengunggah kembali naskah
ini dengan minor penyuntingan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Suhendra
DarkLight